Wednesday, November 6, 2013

Subud Symbol
-----
CERAMAH BAPAK KEPADA PARA CALON ANGGOTA
Singapura, 16 April 1960 (60 SIN 1)
-----
[Pada masa yang telah lampau Bapak tidak pernah memberikan ceramah kepada saudara-saudara yang belum dibuka. Namun tujuan ceramah di bawah ini ialah agar mereka yang sudah tertarik hatinya kepada latihan dapat dibantu memahami pengalamannya pada saat itu dan pengalamannya pada masa yang mendatang. Ceramah di bawah ini diberikan oleh Bapak pada bulan April 1960 kepada mereka yang sudah berkecenderungan hati melakukan latihan. Catatannya dikirim oleh Sekretaris Subud Singapura.]
[Ceramah tersebut tidak direkam dengan tape recorder. Terjemahan Dr. Zakir dicatat oleh seorang stenografer. Kami senang sekali dapat menerbitkan ceramah di bawah ini. Mudah-mudahan ceramah tersebut dapat saja menolong mereka yang akan menerangkan Subud kepada para peminat.]
Saudara-Saudara pria dan wanita, Subud adalah singkatan kata Susila Budhi Dharma. Subud bukanlah agama baru, juga bukan sebagian agama yang sudah ada, apalagi suatu ilmu. Subud hanya merupakan lambang cara hidup manusia sempurna.
Susila berarti hidup dengan menepati apa yang dikehendaki Tuhan, menepati panggilan-Nya untuk menjadi manusia sejati. Budhi melambangkan kenyataan bahwa segala makhluk ciptaan Tuhan, termasuk manusia, dilengkapi dengan Kekuasaan-Nya yang berkarya baik di dalam maupun di luarnya.
Dharma mengandung arti bahwa segala makhluk, termasuk manusia, diwajibkan oleh Tuhan menyerah kepada segala titah-Nya, harus menyerah kepada segala Kehendak Penciptanya.
Susila Budhi Dharma mengandung arti memenuhi Kehendak Tuhan bersendikan Kekuasaan-Nya, yang berkarya baik di dalam maupun di luar diri kita, sambil menyerah kepada Kehendak Tuhan Yang Mahakuasa.
Susila Budhi Dharma merupakan lambang tindak-tanduk kita di dalam latihan kejiwaan Subud, artinya apa saja yang terjadi di dalam latihan kejiwaan Subud sungguh-sungguh merupakan Kehendak Tuhan dan terjadi karena memang demikianlah Kehendak Tuhan atas diri kita. Itu amat cocok dengan sabda-sabda kitab suci Alquran, Injil, dan lain-lainya, bahwa Tuhan selalu dekat pada manusia, atau bahwa manusia sangat dekat pada Tuhan, bahwa Tuhan memberikan apa saja yang dibutuhkan manusia, dan bahwa manusia dapat menerima apa saja yang diberi oleh Tuhan.
Apa yang harus kita serahkan kepada Tuhan? Bukan harta benda kita, bukan apa yang kita cintai, apalagi apa yang kita miliki, karena Tuhan tidak membutuhkan semua itu.
Yang harus kita serahkan ialah akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena itu semua merupakan alat-alat yang selalu menghalang-halangi kita kalau mau dekat pada Tuhan.
Itu yang dimaksudkan oleh Yesus Kristus saat bersabda bahwa Tuhan selalu dekat pada kita kalau penyerahan kita kepada Tuhan melebihi segala-galanya, termasuk cinta kita kepada diri sendiri. Oleh karena itu, cinta kita melalui hati dan rasa selalu menjadi rintangan yang menghalang-halangi cinta sejati kepada Tuhan. Sebab cinta lahiriah, yang kita anggap cinta, hanya tertuju kepada barang-barang. Cinta kepada Tuhan harus lebih besar dan lebih dalam daripada cinta lahiriah tadi itu.
Diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. bahwa Tuhan sudah ada sebelum segala isi alam diciptakan, dan Tuhan itu akan tetap abadi meskipun segala isi alam sudah musnah. Tuhan lebih jauh daripada apa saja yang paling jauh. Ia lebih dalam daripada apa saja yang ada di dalam kita. Itu berarti bahwa Tuhan sesungguhnya menciptakan segala apa yang ada, dan oleh karena itu segala isi alam dikuasai oleh Penciptanya. Demikianlah Tuhan, Asal-Usul segala alam semesta, pada saatnya juga akan meleburkan seluruh ciptaan-Nya.
Demikianlah disabdakan bahwa Tuhan tidak mempunyai rupa, bahasa, negeri, atau warna, sebab seandainya Ia bernegeri, akan ada lebih dari satu Tuhan, karena tiap-tiap negeri perlu memiliki Tuhan sendiri. Itu sebenarya yang dimaksudkan oleh sabda, "Tuhan hanya satu, dan Ia menguasai segala apa yang ada, rabbil `aalamiin."
Tuhan memerintah tanpa perkakas atau bahan, sedangkan manusia, kalau mau membuat suatu barang, membutuhkan, misalnya, meja, kayu, paku, martil, dan alat-alat lainnya. Untuk bisa membuat bom atom, manusia membutuhkan alat-alat yang lebih banyak lagi untuk mengubah bahan baku menjadi bom atom. Tetapi semua itu tadi tidak diperlukan Tuhan. Tuhan Allah mencipta tanpa perkakas dan bahan. Di sini terang sekali bahwa untuk dapat mengerti Kehendak Tuhan tidak ada jalan lain buat manusia kecuali betul-betul menyerah, karena hati dan akal pikirannya tidak mungkin akan dapat bertemu dengan Tuhan.
Itulah yang kita lakukan dalam latihan kejiwaan. Kita hanya menyerah saja tanpa menggunakan akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena tugas kita ialah hanya sekadar menerima jatah yang Tuhan catukan kepada kita. Demikianlah dapat dimengerti bahwa Subud itu hanya merupakan lambang kehidupan manusia yang wajib menurut Kehendak Tuhan melulu serta melaksanakan Perintah-Nya di dunia, dan demikian pula di akhirat.
Itulah karenanya maka dalam mengikuti latihan kejiwaan Subud kita tidak mempunyai ajaran , tidak ada yang perlu kita pelajari, karena yang dihendaki tidak lain kecuali sungguh-sungguh menyerah.
Siapa saja yang mengatakan bahwa ia tahu di mana jalan menuju ke Tuhan sebenarnya mendahului pemberian Tuhan sebelum ia dapat menerimanya. Tidak ada yang perlu kita lakukan kecuali menerima apa yang diberi-Nya, atau apa yang menjadi Kehendak Tuhan atas diri kita.
Itulah sabda sejati para nabi, "Asal engkau pasrah kepada Tuhan dengan ikhlas dan jujur, Tuhan akan memayungi dan menuntun dirimu." Di dalam latihan kejiwaan kita tidak mempunyai kemauan satu pun.
Kita tidak mempunyai permohonan satu pun. Kita hanya sekadar menerima apa saja yang Tuhan berikan.
Demikianlah keadaan pada masa mendatang. Kekuasaan Tuhan yang akan bekerja di dalam diri kita waktu melakukan latihan dan akan membangkitkan apa yang sudah ada di dalam diri kita. Upamanya, seorang yang mempunyai suara yang besar akan mengeluarkan suara yang besar, sedangkan yang mempunyai suara halus, juga akan bersuara halus. Itu terjadi dengan semua anggota badan kita, segala apa yang ada di dalam kita. Itulah sebabnya, maka latihan itu untuk satu dan lain orang tidak sama, karena semua orang berbeda-beda.
Dengan demikian menjadi lebih jelas bahwa di dalam Subud tidak mungkin memiliki teori atau ajaran kebatinan, sebab orang satu berbeda dengan orang lain. Apa yang dibutuhkan dan diterima oleh satu orang tidak sama dengan yang dibutuhkan dan diterima oleh orang lain. Itulah sebabnya, maka tidak diadakan patokan atau aturan tentang cara Saudara harus bertindak di dalam latihan, karena hal itu pribadi. Semua orang akan menemukan sendiri bagaimana sregnya menghadap Tuhan, dan apa yang sreg buat orang tertentu mungkin akan kisruh buat orang lain. Itulah sebabnya, maka Saudara tidak dibenarkan mengira bahwa Saudara harus sama dengan Muhammad Subuh atau meneladaninya. Kita harus mewujudkan kerohanian kita sendiri bila ingin nanti menemukan jalan menuju Tuhan.
Tidak patut kalau kita meniru atau mencontoh orang lain. Kita masing-masing harus menemukan dan menempuh jalan sendiri ke Tuhan. Biasanya, kalau berguru, seorang murid banyak diajari untuk melakukan persis apa yang dilakukan oleh gurunya, agar ia dapat menggayuh apa yang telah tercapai oleh sang guru. Sebenarnya itu keliru, sebab jangankan di antara guru dan murid-muridnya, di antara saudara kandung saja sudah banyak perbedaannya. Dengan demikian tentunya kita dapat mengerti bahwa jalan yang cocok untuk seorang guru dalam hal menemukan Tuhan, belum tentu cocok untuk murid-muridnya.
Oleh karena itu, maka Bapak mengatakan bahwa Tuhan sendirilah yang akan menuntun kita kepada-Nya sebagaimana benar-benar terjadi di dalam latihan kejiwaan, yaitu kita diajar mengenal jiwa kita, mengenal aku sejati kita. Tidak perlu takut atau khawatir, sebab yang bekerja di dalam latihan itu tidak lain tidak bukan apa yang sudah ada di dalam, dan terjadi sebagai akibat kerohanian kita sendiri, aku sejati kita yang timbul di dalam latihan. Maka kita tidak perlu gelisah atau takut.
Dalam Subud tidak ada perbedaan antara agama satu dan lainnya, karena yang tumbuh ialah kesejatiannya, yaitu apa yang sudah ada di dalam masing-masing manusianya. Jadi, jika seorang Kristen, dia akan menemui sejatinya Kristus, bila seorang Buddhis, ia akan menemui sejatinya Buddha di alam rohaninya. Demikian juga untuk seorang Muslim, tentu akan bertemu dengan kemurnian Islam.
Lalu, kalau kita sungguh-sungguh sudah benar-benar dapat mengenal aspek halus kita, maka di dalam segala hal kita akan dituntun oleh Kekuasaan Tuhan, sebab Kekuasaan Tuhanlah yang bekerja di dalam dan di luar kita, sehingga di mana saja, di kantor atau sedang menyetir mobil, atau melakukan apa saja, kita akan selalu dituntun oleh Kekuasaan Tuhan.
Sungguh jelas apa yang tersabda di dalam Alquran, "Sebelum bertindak, ucapkanlah bismillaahir rahmaanir rahiim
Itu mengandung arti bahwa Saudara mengikuti Tuntunan Tuhan dan hanya akan melakukan apa yang dititahkan-Nya. Saudara tidak akan tergesa-gesa bertindak dan baru setelah itu ingat Tuhan, sehingga menyesal, merasa kecewa dengan apa yang telah Saudara lakukan.
Kalau sebelum kita mulai bekerja Tuhan Allah selalu ada di dalam kesadaran kita, maka segala apa yang kita kerjakan nanti akan benar. Itulah makna perbuatan orang Kristen yang bersujud sebelum makan atau mau tidur. Itu juga mengandung arti bahwa kita tidak boleh bertindak tanpa Tuntunan Tuhan, karena jika Tuhan Allah kita lupakan, kita tidak akan mendapat Pertolongan-Nya kalau ternyata tindakan kita salah. Kekuasaan yang kita saksikan, hanya untuk meyakinkan bahwa Kekuasaan Tuhan Yang Mahakuasa bekerja di dalam kita, tidak ada hanya di dalam diri kita, melainkan juga ada di dalam tiap-tiap ciptaan. Itulah sebabnya, maka di dalam latihan kejiwaan kita tidak akan merugikan agama kita masing-masing. Apa yang kita alami dan lakukan akan berasal dari Kehendak Tuhan, dan kita hanya membuka apa yang sudah ada di dalam kita.
Mereka yang selalu mengandalkan agama akan menerima dalam latihan pengalaman yang cocok baik dengan agamanya maupun dengan apa yang ada di dalam dirinya.
Tentunya di antara Saudara ada yang akan tanya bagaimana Bapak dapat mengerti itu. Saya akan menyampaikan jawaban Bapak begini, "Bapak, pada waktu menerima itu, ada dalam keadaan seperti Saudara pada saat ini. Bapak juga bekerja di kantor melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, dan sudah senang juga melakukannya. Tahu-tahu semua itu berhenti, berakhir. Akalnya tidak bekerja lagi. Kemudian Bapak menerima seperti yang akan Saudara terima di dalam latihan. Bapak tidak mencari ilmu, karena tidak mempunyai guru atau pengajar. Bapak hanya sekadar menerima, dan itu disebut Mukjizat Allah, Anugerah Tuhan. Itu hanya diberikan kepada orang kalau orang itu tidak mencarinya, sepi ing pamrih. Kalau seseorang menyerah dan pasrah dalam menerima Anugerah Tuhan, maka Tuhan akan memberi Anugerah-Nya. Barangkali Saudara mendengar bahwa Eva Bartok, bintang filem tersohor, dapat disembuhkan. Itu bukan Bapak yang menolong atau menyembuhkannya. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti kepada Tuhan Allah, dan dia sembuh. Eva menjadi sehat, dan segala-galanya berakhir dengan baik. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti. Kesehatan seseorang adalah perkara antara orang itu dan Tuhan Allah. Orang lain tidak dapat turut campur tangan.
Sekarang mau atau tidaknya mengikuti latihan kejiwaan itu Bapak serahkan saja kepada pendapat Saudara, karena dalam berbakti kepada Tuhan itu tidak boleh ada paksaan. Segala-galanya harus bebas. Tapi siapa saja yang minta wajib diberinya.
Selamat malam. Terima kasih.
----- http://www.subud.com/bahasa
Close

No comments:

Post a Comment