Friday, January 30, 2015

suara hati

Suara Hati yang paling dalam itu tegas karena mengutamakan hubungan dengan Tuhan dibanding hubungan dengan manusia

Sunday, January 25, 2015

meditasi


DOA DAN MEDITASI

Doa selamanya bukanlah meditasi. Orang yang terbiasa berdoa, memohon perlindungan, keselamatan sudahlah pasti selalu dalam kecemasan, bukan? Orang yang berdoa’ tak’an pernah sampai pada meditasi. Ini bagaikan orang yang ingin berenang namun takut nyemplung kedalam air. Berenang selamanya terjadi didalam air. Kita tak’an bisa menghafal teori berenang dan mempraktekan diatas lantai atau kasur. Barangkali geraknya kelihatan mirip dengan orang yang berenang tetapi ini jelas bukan berenang. Demikian juga halnya dengan meditasi dan doa. Mungkin orang dapat duduk dengan sikap “padma-sana” berjam-jam seperti bermeditasi, sambil melafal mantra, atau kata-kata tertentu, untuk dapat melupakan suasana sekeliling; guna mengendalikan atau mengalihkan pikirannya, namun ini bukanlah meditasi.
Hal yang mendasar ini penting dipahami, jikalau tidak, maka semua usaha, semua gerakan renang diatas lantai ini tak’an membawa kita sungguh berenang. Doa bagaikan kita berdiri ditepi kolam; meditasi adalah berada didalam kolam dan berenang. Jadi apabila kita ingin bermeditasi maka kita mesti beranjak dari doa; kita mesti bergerak dari tepi kolam dan masuk kedalam air. Doa adalah kata-kata adalah pikiran, hal ini selamanya tak’an dapat membawa kita pada kebebasan batin (mokshatam). Sedangkan meditasi adalah batin yang bebas dari segala pikiran (hening).
Doa, ritual, tradisi, kepercayaan sudahlah pasti tak’an pernah mengantar orang kepada hening, mokshatam (kebebasan); walaupun dalam kepercayaan dikatakan bahwa ritual, tradisi dan doa ini menuntun orang ke-jalan menuju sorga. Namun dari realita ini, jika Anda sungguh paham, bukankah faktanya terbalik seratus delapan puluh derajat…? Untuk mengkaji dan menguji…., lihat dan amati kedalam diri.
Saat Anda berdoa…, kata-kata yang terucap adalah pikiran. Apapun bentuk kata-kata ini; apakah permohonan, pujian, seruan, mantra dan seterusnya… semuanya adalah wujud pikiran. Selama pikiran berceloteh maka keheningan tak terwujud. Dan selama ini pula batin dipenuhi oleh pikiran. Bila kita jujur tentu kita akan melihat fakta ini, bukan? Hal ini sungguh amat sangat sederhana.
Bila ingin berenang dan menyelam kedasar kolam hati; Anda mesti beranjak dari tepi kolam (meninggalkan doa, ritual, tradisi dan lain sebagainya); tepi kolam adalah pikiran yang ribut, penuh dengan doa, ketakutan, harapan, kebingungan, keserakahan dan sebagainya. Bila Anda sungguh melihat maka Anda-pun bertindak, yaitu nyemplung kedalam kolam, berenang dan menyelam kedasar kolam hati. Dan disana Anda pasti menemukan sekuntum “bunga-nurani” yang selalu mekar mewangi, memancarkan terang yang sejuk, riang, ringan dan damai. Inilah BERKAH yang tak pernah ada dalam doa, kepercayaan maupun ritual.

Monday, January 12, 2015

Jadi spiritual adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pemahaman yang jelas dan sempurna kedalam keberadaan manusia; hubungannya dengan alam semesta sekelilingnya pada satu pihak dan terhadap sang Pencipta di lain pihak, melalui realitas tertinggi dari kesadaran kecerdasan abadi yang mempersatukan semuanya itu.




Ilmu Spiritual adalah pengetahuan tentang kemampuan melebihi manusia pada umumnya, yang mana sebab-sebab kemampuan itu berasal dari meta energi yang tidak tampak kasat mata. Seperti energi listrik, meta energi hanya bisa dibuktikan dengan gejala-gejala yang ditimbulkan atau dengan pengamatan mata batin. Dalam prakteknya, Ilmu Spiritual sering digabungkan dengan keyakinan agama atau kebudayaan masyarakat setempat dimana Ilmu Spiritual itu berkembang.

Spiritual . .

Ciri- ciri seseorang yang dapat dikatakan telah memiliki tingkat kehidupan spiritualisme yang tinggi dan mantap dapat diketahui dari hal sebagai berikut:
1. Senantiasa dapat mengendalikan pikirannya hanya terhadap hal-hal yang dapat mengarahkannya menemukan pencerahan.
2. Seluruh indriyanya terkendali, karena Panca Indriya dapat memberikan pencitraan terhadap pola prilaku seseorang.
3. Dapat mengendalikan keinginan yang berlebihan dari obyek-obyek material dan sensual.
4. Ia senantiasa dapat mengendalikan diri dan selalu sabar dalam menghadapi tantangan hidup dalam kehidupannya.
5. Pikirannya selalu terpusat kepada tujuan tertinggi, yaitu terbebas dari belenggu samsara.
6. Setiap hari senantiasa menjaga kemurnian diri dengan selalu hidup bersih baik secara fisik maupun mental spiritual.
7. Memiliki perasaan welas asih terhadap semua mahluk, tanpa ada pembedaan di antara mereka.
8. Hidup tenang, tidak terpengaruh oleh pasang–surutnya gelombang kehidupan.
9. Hidup tentram karena telah dapat menciptakan kedamaian dalam hidupnya.