Tuesday, January 29, 2013

Serat Centini



Dear: Mas BHB Bow Ho Bow - Meleburkan SEX dan MISTIK - Serat Centhini - SERAT Centhini, yang dianggap karya terbesar dan terindah dalam kesusastraan Jawa, ditulis pada abad ke-19. Dia lahir dari rahim keraton Solo. Pangeran Adipati Anom, seorang putra Susuhunan Pakubuwana IV, menginginkan pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa dikumpulkan. Tiga pujangga keraton ditunjuk untuk membantunya.

Kerja keempatnya menghasilkan karya setebal 4.000 halaman lebih yang terbagi atas selusin jilid. Beberapa jilid di antaranya memuat ajaran erotika yang dibalut dengan mistisisme Islam dan Jawa. Inilah yang menarik minat Elizabeth D. Inandiak, seorang Prancis yang menggubah dan menerjemahkan Serat Centhini ke Bahasa Indonesia. "Saya tak pernah membayangkan sama sekali bahwa seks bisa bergabung dengan mistik," katanya dalam kuliah umum "Erotika Nusantara: Serat Centhini" di Teater Salihara, Jakarta, 10 Maret lalu.

Dalam Centhini, seks tak diartikan hanya sebagai pertemuan dua alat kelamin manusia. "Kalau cuma bersetubuh, nanti lama-lama bisa busuk," tandas Inandiak.

Lebih dari itu, seks dapat berarti puncak erotika. Dalam menjelaskan arti erotika, Inandiak tak hanya menjabarkannya dari istilah Barat, tapi juga mencoba menggalinya dari khazanah istilah lokal. "Kenapa kita harus meminjam istilah dari bahasa-bahasa Barat?" tanya Inandiak dalam makalahnya, "Dari Erotika ke Sir Centhini". Erotika berasal dari kata Yunani, eros, yang berarti dewa asmara. Kata ini dipakai untuk menjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan syahwat, hawa, nafsu, atau kebirahian.

Padanan kata ini, menurut Inandiak, dapat ditemukan dalam Centhini. Beberapa kata yang berkelindan dengan erotika misalnya ajigineng, terangsang, nafsu berahi, cinta syahwati, asmaragama (seni bercinta), kasmaran, naluri seksual, pengumbaran nafsu, dan mabuk kepayang. Masyarakat Jawa telah mempunyai konsep dan kata mengenai erotika. Dengan demikian, erotika tidak sepenuhnya datang dari Barat.

Sejak 1990-an, Elizabeth menerjemahkan Centhini ke dalam bahasa Prancis. Buku sadurannya dalam bahasa Indonesia, Centhini: Kekasih Yang Tersembunyi, baru terbit pada 2008. Penerjemahan Serat Centhini itu tak mudah, Inandiak mesti menghadapi dua pendapat ekstrem para ahli sastra Jawa. Satu kelompok berpendapat Serat Centhini terlalu kotor untuk diterjemahkan karena memuat ajaran dan kata-kata kotor, cabul, dan kasar. Di kutub lain, para ahli menilai Serat Centhini sangat adiluhung sehingga tak bisa diterjemahkan. Kalaupun diterjemahkan, nilai estetis Centhini akan berkurang. Kedua pendapat itulah yang menyebabkan Serat Centhini tak diterjemahkan selama hampir satu abad. Tapi Inandiak tetap berkeras menerjemahkannya karena menganggap karya ini sangat penting untuk mengungkap dunia tersembunyi orang Jawa.

Beberapa jilid Serat Centhini memang memuat ajaran-ajaran kotor dan cabul. Penuh adegan persanggamaan dan pelepasan hasrat seksual yang tak terbatas suami dan istri tapi juga di luar pernikahan. Petualangan Cebolang, remaja yang lari dari rumah orangtuanya karena menilai dirinya berdosa besar, menjadi simbolisasinya.

Dalam pelariannya, dia bersanggama dengan orang yang berbeda, tak peduli laki atau perempuan, di banyak tempat. Perbuatannya itu tak lain untuk menebus dosa-dosanya. Cebolang menganggap hanya dengan menceburkan diri ke perbuatan yang hina kesalahannya diampuni. Ketika sampai di Mataram (Yogyakarta), Cebolang, bersama kawan lelakinya, Nurwitri, menyetubuhi dua perempuan secara bergantian di area pesantren. Subuh tiba, mereka berhenti, lalu mandi untuk menunaikan salat subuh di masjid.

"Ini menarik. Kalau terjadi di klub seks bebas, itu bukan erotika. Tapi, ini terjadi di pesantren sehingga erotikanya sangat tinggi. Seperti ada sesuatu yang tersembunyi dalam kisah itu," terang Inandiak.

Tapi, Inandiak mengingatkan bahwa kecabulan dan kekotoran bahasa Serat Centhini terhapus lewat keindahan tembang dengan paduan gamelan dan pesinden. "Pembacaan Serat Centhini sejatinya memang ditembangkan," tandasnya. Dengan demikian, para pembaca tak tenggelam ke lautan kata-kata kotor dan cabul sehingga keindahan erotika Serat Centhini tetap dapat ditangkap.

Kisah asmara paling halus dalam Serat Centhini tak pelak menjadi milik pasangan Amongraga dan Tembangraras. Amongraga, putra mahkota Sunan Giri, duduk berhadapan dengan Tambangraras, istrinya, di kamar pengantin pada malam pertama pernikahannya. Amongraga berada di buritan ranjang pengantin, sedangkan Tambangraras duduk di haluan. Jarak antara keduanya cukup jauh. Riuh-rendah tetamu yang masih berpesta dan mabuk di luar kamar masih terdengar, sedangkan suasana di dalam kamar sangat tenang dan damai.

Amongraga tak lantas bersanggama dengan istrinya. Dan terus begitu hingga malam keempat puluh. Selama itu, Amongraga mengajarkan sejumlah rahasia kepada istrinya agar persanggamaan mereka mencapai penyatuan sejati. Sebelum tibanya malam itu, keduanya hanya saling menatap dan berbicara.

Mereka bertelanjang secara bertahap sesuai dengan tingkatan mistiknya. "Semakin tinggi tingkatan mistiknya, semakin tinggi pulalah ketelanjangannya," kata Inandiak.

Tingkatan mistik tercapai berkat ajaran-ajaran Amongraga yang diambil dari mistisisme Islam dan asmaragama (seni bercinta Jawa). Ajaran Islamnya bersumber dari buah pikir sufi Timur Tengah seperti Al-Jili, Abdul Qadir al-Jailani, Al-Ghazali, dan Rumi. Sedangkan ajaran asmaragama bersumber dari tradisi tantrisme dan falsafah Jawa Kuno. Karena asmaragama, banyak yang menganggap Serat Centhini sebagai Kamasutra Jawa. "Memang ada yang menyebut seperti itu, tapi saya kira Centhini bercerita tentang banyak hal. Lebih luas daripada Kamasutra," katanya.

Amongraga menyadari sepenuhnya apa yang diajarkannya selama empat puluh malam, pun jua dengan Tambangraras. Jiwa mereka terbakar dalam api asmara. Dan mencapai puncaknya pada malam keempatpuluh. Saat itulah, mereka menyatukan tubuh. Tak ada laki-laki, tak ada perempuan. Manunggal. Demikianlah puncak erotika. Inandiak menyebut itu sebagai paduan sir (nafsu dalam bahasa Jawa) dan sir (rahasia dalam bahasa Arab). "Nafsu yang mengangkat asmaragama ke alam gaib (rahasia)," tulis Inandiak. Sesuatu yang menurut Inandiak menjadi padanan kata paling tepat untuk erotika dan tidak ditemukan dalam alam pikiran orang Barat melalui pembacaannya terhadap karya sastra mereka.

"Sepanjang pengetahuan saya, mudah-mudahan saya salah, tak ada kesusastraan Eropa yang menggabungkan seks dan mistik seperti ini," kata Inandiak menutup 

Sunday, January 27, 2013

Sharing David

kalo nempel di aku dan mengaku yah mungkin awalnya mah bener tp akhirnya jd salah hahaha krn pengalaman spiritual yg bener ,ga menimbukan arsip ingetan,sehingga ga menumbuhkan rasa aku dan pengakuan..,ga jadi lebih2,ga jadi pinter,tetep biasa...begitu pikiran dan hati ikut2 lantas ke aku,baru jadi ga ngerasa biasa...pengen luar biasa,lebìh unggul,lebih linuwih,lebìh bijak,lebih suci dr yg lainnya..pengen jd beda dr umumnya..entah dr pakaian,gaya,solah tingkah ,nama gelar dsbnya...lah gimana mau pinter kalo pikiran n ati di lepas?.cuma ngerti..krn semakin murni,kosong sehingga apa2 menjadi lebih mudah di terima ,di mengerti,di fahami,di insyafi n di maklumi...lah itu Eyang Subuh itu cerita pengalamannya,apa krn mengaku,tdk,skdr adanya gitu,di kehendaki Tuhan gitu,buat meyakinkan kita di awal, akan kebenaran Subud ...bukan butuhnya Eyang itu 
kalo nempel di aku dan mengaku yah mungkin awalnya mah bener tp akhirnya jd salah hahaha krn pengalaman spiritual yg bener ,ga menimbukan arsip ingetan,sehingga ga menumbuhkan rasa aku dan pengakuan..,ga jadi lebih2,ga jadi pinter,tetep biasa...begitu pikiran dan hati ikut2 lantas ke aku,baru jadi ga ngerasa biasa...pengen luar biasa,lebìh unggul,lebih linuwih,lebìh bijak,lebih suci dr yg lainnya..pengen jd beda dr umumnya..entah dr pakaian,gaya,solah tingkah ,nama gelar dsbnya...lah gimana mau pinter kalo pikiran n ati di lepas?.cuma ngerti..krn semakin murni,kosong sehingga apa2 menjadi lebih mudah di terima ,di mengerti,di fahami,di insyafi n di maklumi...lah itu Eyang Subuh itu cerita pengalamannya,apa krn mengaku,tdk,skdr adanya gitu,di kehendaki Tuhan gitu,buat meyakinkan kita di awal, akan kebenaran Subud ...bukan butuhnya Ey
ang itu 

Friday, January 11, 2013

serah diri


Berserah diri adalah sebuah pencapaian diri dalam menapaki kesadaran spiritual.....coba simak pernyataan bli Gobind berikut ini.....

Berserah adalah menyerah total. menyerah bukan berarti kalah, juga tidak berarti menang, ia yang menyerah penuh adalah menyerahkan semuanya termasuk semua kemenangan dan kekalahan.

orang ini tidak mempunyai apa-apa, ia telah menjadi tawananNYa. Semua yang diminta pasti ia lakukan, apapun pemberianNya ia terima, juga apapun yang diambil ia lepaskan.

Walaupun bergelar tawanan ia adalah orang yang paling bebas.Ia tidak terikat kenangan masa lalu juga belenggu ketakutan masa depan. Kemarin, hari ini dan esok, semua sama saja.

ia tidak memihak kepada terang dan memusuhi gelap.
Baginya terang dan gelap mempunyai fungsinya masing-masing, walau terlihat berlawanan, mereka saling melengkapi, saling membutuhkan.

Puja-puji tidak melayangkan hatinya juga cacian tidak meremukkan kalbunya. tidak ada kebaikan yang digenggam juga keburukan yang ia tendang.

Semuanya ia serahkan, tubuhnya pikirannya bahkan jiwanya,
ia sadar tubuh ini hanya sementara, juga segala pemikiran dan konsep yang ia yakini, adalah ilusi.
Manusia ini tidak pernah kehilangan apapun, karena ia tidak pernah merasa mempunyai apa-apa.

ia sadar, setiap "saya" adalah ego yang mencemarkan keheningan, setiap "aku" hadir, keikhlasan menghilang.

tidak ada seorangpun sampai disana dengan menginginkan atau mengejarnya, mereka yang berhenti, mereka yang berkata cukup dan mereka yang menyerah, merekalah yang sudah sampai.