Tuesday, December 5, 2017

Perbuatan Selamat

. . intisari perbuatan selamat adalah kata lain dari Suara Hati itulah maksud dari segenap pemurnian penglihatan, pendengaran, pem bau an, perkataan , dan kesadaran manusia yg telah disucikan jiwanya menuju kalepasan dalam kawisesan yaitu perbuatan rohani dan jasmani . .

Wednesday, November 22, 2017

Kuasa Alam

. . sebetulnya yg dinamakan maha kuasa yang maha sempurna itu tetep adalah sebuah ukuran , padahal kuasa alam itu tak terukur seperti tak ada nya dinding langit yang gaib yang bekerja dengan sendirinya . . akal pikir kita sebenarnya hanya menggapai gapai sebisanya tapi sebenarnya tak berdaya .

Saturday, November 18, 2017

jauhi orang2 malas

. .bahwa tidak selalu hal2 penting itu adalah bekerja keras tapi memang bergaul dengan orang2 yang malas , orang2 yang membosankan yang gampang mengeluh itu tidak bermanfaat yang dengan sendirinya menurunkan kwalitas hidup kita . .

Tuesday, November 14, 2017

10 Kemampuan Spiritual

10 KEMAMPUAN SUPRANATURAL YANG HEBAT TAPI SANGAT MENYIKSA Percaya gak percaya, hal supranatural ada di luar sana. Beberapa orang memang diberi kemampuan khusus entah sejak lahir, karena kejadian tertentu atau dikondisikan sedemikian rupa. Banyak orang berpikir bahwa kemampuan tersebut hebat, tapi para pemiliknya berharap gak bisa melakukannya. Selain karena mereka harus terbiasa dengan hal yang tidak dirasakan orang lain, terkadang ada tanggungjawab lebih yang dibebankan pada mereka sesuai kemampuannya. Apa saja kemampuan spesial tersebut? Ini 10 di antaranya! 1. Melihat sesuatu yang gaib. Kebayang gak sih kalau kamu melihat suatu jalanan kosong dan sepi itu sebagai jalanan yang sesak seperti pasar malam? Kamu juga akan terganggu dengan "mereka" yang lewat dengan seenaknya atau muncul secara tiba-tiba. Seringkali orang yang diberi kemampuan ini mengeluh, "apa sih gunanya melihat yang gak bisa dilihat orang lain? Toh malah dianggap aneh." Bagaimana mereka bisa santai bermain kartu, ketika mereka malah melihat di antara kumpulan temanmu ada "makhluk" yang menyempil. 2. Membaca pikiran seseorang. Mungkin bagimu bisa mengetahui pikiran orang lain itu keren. Satu hal yang perlu kamu tahu ketika kamu diberi kelebihan ini, kamu harus kuat hati dan mental. Kamu gak boleh baperan. Ketika mampu bisa membaca pikiran seseorang, kamu akan menguak sisi asli setiap orang. Seringkali kamu bahkan menemukan kenyataan bahwa orang yang tindakannya nampak baik, tapi menyimpan niat yang benar-benar buruk. Mungkin itu bisa menjadikanmu lebih waspada, tapi jika itu terjadi di orang-orang terdekatmu, kamu akan alami perang batin. Termasuk ketika seseorang yang menyatakan menyayangimu, tapi ternyata dalam hati ada niat lain. 3. Melihat aura orang lain. Mengetahui kondisi orang lain tanpa ia perlu menceritakan memang akan membantumu lebih mudah dalam bersikap dengannya. Bagi mereka yang bisa melihat aura, dikabarkan hal tersebut dalam bentuk spektrum-spektrum warna. Jika kamu berada di dalam keramaian, itu akan menjadi hal yang cukup menyiksa. Seseorang yang mempunyai aura buruk karena berada dalam kondisi/mood yang sangat buruk juga bisa mempengaruhi semangatmu dalam beraktivitas. 4. Muksa, atau lepas dari tubuh ketika tidur. Istilah secara internasionalnya lebih dikenal sebagai astral projection, seperti yang terjadi di film Insidious. Dalam keadaan tertentu dan momen yang pas, kamu bisa melepaskan rohmu dari tubuh. Orang Jawa menyebutkan istilah ini sebagai muksa. Tubuh yang ditinggalkan benar-benar tidak bernyawa lagi tapi bukan berarti kamu mati, karena mati artinya roh akan berada di alam lain. Sementara ini, rohnya hanya terlepas dan bisa beraktivitas bebas jika sudah bisa mengontrolnya. Masalahnya, bagi yang sering mengalaminya rasanya akan sangat melelahkan seperti sehabis lari maraton. 5. Merasakan energi ataupun rasa dari sekelilingnya. Bagi mereka yang mampu merasakan energi, hampir sama dengan mampu melihat aura. Namun, jika aura mengandalkan indera penglihatan, sementara energi itu mengandalkan indera perasa. Kamu bisa mengetahui kehadiran seseorang atau "sesuatu" di ruangan yang sama, bahkan kamu akan bisa mengetahui jika ada yang akan mengagetkanmu. Masalahnya kamu akan sering merasakan perubahan rasa energi sesuai orang yang berbeda-beda dan menurut mereka yang bisa, itu tidak nyaman. 6. Punya alter-ego yang bisa "dipanggil" sampai menjadi doppelganger. Berbeda dengan kepribadian ganda. Kepribadian ganda adalah kelainan psikologis, sementara dalam hal ini adalah cenderung ke arah supranatural di mana kepribadian yang lain itu akan muncul sesuai kondisi yang dibutuhkan dan pada level tertentu bisa dikontrol kehadirannya. Gak cuma itu, beberapa yang memiliki kemampuan ini bahkan bisa berada di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan. Masalahnya jika sudah dalam kondisi seperti itu, terkadang sosok salah satu lainnya gak terkontrol dan bisa melakukan apa saja, sementara namamu lah yang akan tercoreng jika ia melakukan sesuatu yang buruk. 7. Mengubah energi lebih baik untuk kesembuhan orang. Beberapa orang memang diberikan kemampuan untuk memanipulasi energi alam agar bisa digunakan sebagai penyembuh: bisa dengan media air, udara dan lain sebagainya. Partikel-partikel yang bisa dikontrol itu akan digunakan untuk menormalkan/memperbaiki metabolisme tubuh yang tidak normal. Masalahnya biasanya kemampuan ini cepat menyebar dari mulut ke mulut, yang akhirnya membuat penggunanya membuka usaha pengobatan alternatif. Sementara tidak semua orang percaya dengan metode yang terlalu di luar kewajaran. 8. Dilindungi oleh suatu bentuk yang akan mencelakai orang yang menyakiti. Kamu pasti sering mendengar bahwa setiap orang memiliki penjaga khususnya masing-masing. "Sesuatu" yang terus mengikutimu ini punya tujuan yang berbeda-beda dan tidak semuanya mengganggu. Ada yang mengikutimu karena sekedar tertarik, ada yang mengikutimu karena memang memiliki misi melindungi. Bagi "sesuatu" yang melindungimu secara berlebihan, ia akan mencelakai orang-orang yang menyakitimu baik disengaja maupun tidak disengaja. Itulah masalahnya, bahkan orang-orang terdekatmu akan ikut dicelakai kalau mereka menyakitimu walau tidak disengaja. 9. Memindahkan benda di luar jangkauan sentuhan. Salah satu dari contoh kemampuan ini adalah seperti yang dimiliki pawang hujan. Pawang hujan bukanlah seseorang yang mampu mengendalikan cuaca, ia diberi kemampuan untuk memindahkan benda yang berada di luar jangkauan tangan. Dalam hal ini adalah awan yang ia pindahkan ke tempat lain agar di tempat yang bersangkutan tidak hujan, atau sebaliknya. Penyesalan dari mereka yang bisa melakukannya adalah terlalu sering dimanfaatkan oleh orang di sekitarnya. 10. Diberi penglihatan akan masa depan. Pernahkah kamu melihat film Final Destination? Atau masih banyak film lainnya yang menceritakan tentang seseorang yang bisa melihat masa depan. Banyak orang berharap memilikinya, untuk memenangkan taruhan/lotere/tender, untuk mengetahui banyak hal lebih awal. Namun, yang tidak kebanyakan orang lain tahu adalah begitu kompleksnya jalan hidup bisa berubah hanya berdasarkan perubahan keputusan/aksi kecil. Ketika kita berharap suatu kejadian tidak terjadi, kita tidak mungkin bisa mempertimbangkan kejadian beruntun setelahnya karena semua kemungkinannya akan berubah juga. Itulah yang akan membuat seseorang dengan kemampuan ini akan tertekan. Mereka yang berkemampuan supranatural khusus ada di sekeliling kita. Baik didapatkan sebagai mukjizat maupun dengan cara yang tidak benar seperti ilmu hitam. Seringkali ada pihak-pihak yang mengaku sebagai pemilik kemampuan spesial, tapi ternyata berniat menipu. Sesungguhnya kebanyakan mereka yang memilikinya cukup tersiksa dengan kemampuannya.

Friday, October 20, 2017

Kawruh Kantong Bolong

AJARAN R.M.P SOSRO KARTONO Mas Kumitir ♦ October 30, 2008 ♦ 15 Comments 7 Votes ” Ing donya mung kebak kangelan, sing ora gelem kangelan aja ing donya. “ ” Di dunia penuh dengan kesusahan, yang tidak mau susah jangan di dunia. “ Sekilas Biografi Raden Mas Panji Sosrokartono lahir di Mayong pada hari Rabu Pahing tanggal 10 April 1877 M. Beliau adalah putera R.M. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Semenjak kecil beliau sudah mempunyai keistimewaan, beliau cerdas dan mempunyai kemampuan membaca masa depan. Kakak dari ibu kita Kartini ini, setelah tamat dari Eropesche Lagere School di Jepara, melanjutkan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang. Pada tahun 1898 meneruskan sekolahnya ke negeri Belanda. Mula-mula masuk di sekolah Teknik Tinggi di Leiden, tetapi merasa tidak cocok, sehingga pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Beliau merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke negeri Belanda, yang pada urutannya disusul oleh putera-putera Indonesia lainnya. Dengan menggenggam gelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden, beliau mengembara ke seluruh Eropa, menjelajahi pelbagai pekerjaan. Selama perang dunia ke I, beliau bekerja sebagai wartawan perang pada Koran New York Herald dan New York Herald Tribune. Kemudian, setelah perang usai, beliau menjadi penerjemah di Wina, tapi beliau pindah lagi, bekerja sebagai ahli bahasa pada kedutaan Perancis di Den Haag, dan akhirnya beliau hijrah ke Jenewa. Sebagai sarjana yang menguasai 26 bahasa, beliau bekerja sebagai penerjemah untuk kepentingan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa. Sampai suatu ketika terdengar berita tentang sakitnya seorang anak berumur ± 12 tahun. Anak itu adalah anak dari kenalannya yang menderita sakit keras, yang tak kunjung sembuh meki sudah diobati oleh beberapa dokter. Dengan dorongan hati yang penuh dengan cinta kasih dan hasrat yang besar untuk meringankan penderitaan orang lain, saat itu juga beliau menjenguk anak kenalannya yang sakit parah itu. Sesampainya di sana, beliau langsung meletakkan tangannya di atas dahi anak itu dan terjadilah sebuah keajaiban. Tiba-tiba si bocah yang sakit itu mulai membaik dengan hitungan detik, dan hari itu juga ia pun sembuh. Kejadian itu membuat orang-orang yang tengah hadir di sana terheran-heran, termasuk juga dokter-dokter yang telah gagal menyembuhkan penyakit anak itu. Setelah itu, ada seorang ahli Psychiatrie dan Hypnose yang menjelaskan bahwa sebenarnya Drs. R.M.P. Sosrokartono mempunyai daya pesoonalijke magneetisme yang besar sekali yang tak disadari olehnya. Mendengar penjelasan tersebut, akhirnya beliau merenungkan dirinya dan memutuskan menghentikan pekerjaannya di Jenewa dan pergi ke Paris untuk belajar Psychometrie dan Psychotecniek di sebuah perguruan tinggi di kota itu. Akan tetapi, karena beliau adalah lulusan Bahasa dan Sastra, maka di sana beliau hanya diterima sebagai toehoorder saja, sebab di Perguruan Tinggi tersebut secara khusus hanya disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa lulusan medisch dokter. Beliau kecewa, karena di sana beliau hanya dapat mengikuti mata kuliah yang sangat terbatas, tidak sesuai dengan harapan beliau. Di sela-sela hati yang digendam kecewa, datanglah ilham untuk kembali saja ke tanah airnya. Di tanah airnyalah beliau harus mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk mengabdikan diri kepada rakyat Indonesia. Sesampainya di indonesia, beliau bertempat tinggal di Bandung, beliau menjadi sang penolong sesama manusia yang menderita sakit jasmani maupun rohani. Di Bandung, di Dar-Oes-Salam-lah beliau mulai mengabdikan dirinya untuk kepentingan umat. Beliau terkenal sebagai seorang paranormal yang cendekiawan di mana saja, bahkan beliau pernah mendapat undangan Sultan Sumatera, Langkat. Di daerah sanalah beliau mulai menampakkan kepribadiannya secara pasti, karena di sebuah kerajaan beliau masih menunjukkan tradisi Jawanya, kerendah-hatiannya, kesederhanaannya, tidak mau menikmati kemewahan, bahkan dalam beberapa hari di tiap harinya beliau hanya makan dua buah cabe atau sebuah pisang. Beliau tidak menikah, tidak punya murid dan wakil. Pada hari Jum’at Pahing, tanggal 8 februari 1952 di rumah Jl. Pungkur No. 19 Bandung, yang terkenal dengan sebutan Dar-Oes-Salam, Drs. R.M.P. Sosrokartono kembali ke Sang Pencipta dengan tenang, tentram. Mandor Klungsu “… para Pangeran ingkang sesami rawuh perlu manggihi pun Klungsu, …” “… para pangeran yang berdatangan perlu menemui si Klungsu, …” “Salam alaikum, Kula pun Mandor Klungsu.” “Salam alaikum, Saya si Mandor Klungsu.” “Taklimi pun Mandhor … Pak Klungsu.” “Taklimnya Mandhor … Pak Klungsu.” “Salam taklimipun lan padonganipun. Pak Klungsu.” “Salam taklimnya dan do’anya. Pak Klungsu.” Kutipan- kutipan di atas menunjukkan bahwa Drs. R.M.P. Sosrokartono menyebut dirinya sebagai “Mandor Klungsu”. Klungsu artinya biji asam, bentuknya kecil tapi keras (kuat) yang ketika ditanam dan dirawat sebaik-baiknya, maka akan menjelma sebuah pohon yang besar-kekar, berdaun rimbun dan berbuah lebat. Bukan sekedar biji buah asam, melainkan kepala/pimpinannya. Pohon asam mulai dari pohon sampai bijinya, semua dapat dimanfaatkan. Selain itu, mempunyai sifat kokoh dan tegar. Ketika melihat kiprahnya sehari-hari, maka beliau hanya seorang Mandor, Mandor Klungsu, yang harus menjalankan perintah Sang Pimpinan (Tuhan), serta mempertanggungjawabkan semua karyanya selama itu kepada Tuhannya. “Kula dermi ngelampahi kemawon.” Maksudnya, “Saya hanya menjalankan saja.” “Namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggaken dhateng Gusti.” Maksudnya, “Saya hanya mencari sesuatu yang baik, semuanya saya serahkan kepada Tuhan.” “Kula saged nindhakaken ibadat inggih punika kuwajiban bakti lan suwita kula dhateng sesami.” Maksudnya, “Saya bisa menjalankan ibadah, yaitu kewajiban berbakti dan pengabdian saya kepada sesama.” Jaka Pring “… Nyuwun pangestunipun para sedherek dhumateng pun Djoko Pring.” “… mohon do’a restunya saudara-saudara untuk si Jaka Pring.” “Saking Ulun, Djoko Pring.” “Dari saya, Jaka Pring.” Selain untuk dijadikan nama, Drs. R.M.P Sosrokartono juga pernah menuliskannya sebagai berikut: “Pring padha pring Weruh padha weruh Eling tanpa nyanding.” Artinya, “Bambu sama-sama bambu, tahu sama-sama tahu, ingat tanpa mendekat.” Versi lain berbunyi: “Susah padha susah; seneng padha seneng; eling padha eling; pring padha pring.” Artinya, “Susah sama-sama susah; senang sama-sama senang; ingat sama-sama ingat; bambu sama- sama bambu.” Jaka adalah jejaka/laki-laki yang belum (tidak) menikah dan Pring adalah bambu. Pohon bambu adalah pohon yang sekujur tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang berkepentingan dengannya. Pohon Bambu dapat dimanfaatkan untuk membuat rumah, mulai dari tiang, atap, dinding, pagar, sampai atap-atapnya. Bukankah orang-orang dahulu menjadikan daun bambu sebagai genteng rumah mereka? Ranting-rantingnya dapat dijadikan kayu bakar atau pagar. Bambu dapat digunakan untuk membuat balai-balai, sangkar, keranjang, tempayan, tembikar, kursi, dll. Cikal bakal dari pohon bambu dapat dimanfaatkan untuk sayur/dimakan. Yang jelas, semuanya dapat dimanfaatkan, semuanya dapat difungsikan atau dibutuhkan sesuai kehendak orang yang bersangkutan. Satu hal lagi, jenis bambu itu bermacam-macam. Sesuai dengan hajat seseorang dalam memfungsikan bambu, maka ia mempunyai pilihan terhadap jenis bambu yang mana ia butuhkan. Apakah bambu pethung, bambu ori, bambu wuluh, bambu apus dan lain sebagainya. Kutipan di atas juga mengutarakan bahwa, apapun jenis kita, bangsa kita, agama kita, ras, warna kulit, perbedaan bahasa dan suku kita, kita tetap sama, sama-sama tahu, sama-sama manusia. Apapun jenis, warna dan bentuknya bambu, tetap bambu. Tak ada perbedaan, semua sama belaka. Manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah sama. Seperti ketika beliau melakukan perjalanan ke luar Jawa, kemudian beliau bertemu oleh sekian jenis manusia dengan status sosial yang berbeda. Bagi beliau, semua manusia disejajarkan. Sikap egalitarisme tetap dijaga dan dilestarikan. Dalam kondisi dan situasi bagaimanapun dan di manapun, ingat akan keterciptaan, teringat akan sesama, saling mengingatkan dan ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pemurah. Ketika manusia itu ingat kepada Tuhannya, maka Tuhanpun akan ingat kepadanya. Guru Sejati “Murid, gurune pribadi Guru, muride pribadi Pamulangane, sengsarane sesami Ganjarane, ayu lan arume sesami.” Artinya, “Murid gurunya diri pribadi. Guru, muridnya diri pribadi. Tempat belajarnya/pelajarannya, penderitaan sesama. Balasannya, kebaikan dan keharuman sesama.” Untaian itu mengandung pengertian bahwa sesungguhnya dalam diri seseorang terdapat seorang guru dan diri seseorang itu sendiri menjadi murid, murid dari guru sejati. Sebab, pada intinya, segala bentuk ilmu dan pengetahuan itu hanya datang dari Tuhan, karena guru selain Tuhan itu hanya sebagai perantara belaka. “Sinau ngarosake lan nyumerepi tunggalipun manungsa, tunggalipun rasa, tunggalipun asal lan maksudipun agesang.” Artinya, “Perlu belajar ikut merasakan dan mengetahui bahwa manusia itu satu, rasa itu satu, berasal dari tempat yang sama, dan belajar memahami arti dari tujuan hidup.” “Tansah anglampahi dados muriding agesang.” Artinya, “Selalu menjalani jadi murid kehidupan/sesama hidup.” Kehidupan itulah sang guru, karena kehidupan itu juga mengajarkan kepada kita. Sang Alif “… Ping kalihipun perlu babat lan ngatur papan kangge masang Alif. (Masang Alif punika inggih kedah mawi sarana lampah. Boten kenging kok lajeng dipun canthelaken kemawon, lajeng dipun tilar kados mepe rasukan).” Artinya, “Yang keduanya perlu membuka dan mengatur tempat untuk memasang Alif. (Memasang Alif itu harus dengan sarana penghayatan. Tidak boleh hanya dicantolkan begitu saja, lalu ditinggal layaknya menjemur pakaian.) “Ngawula dateng kawulaning Gusti lan memayu ayuning urip, …” Maksudnya adalah mengabdi kepada abdinya Tuhan dan memperbaiki keindahan hidup. Diungkapkan bahwa Drs. R.M.P. Sosrokartono memiliki tiga buah Alif, yaitu : Sang Alif warna hitam, dengan dasar putih. Sang Alif warna putih, dengan dasar biru muda. Sand Alif warna putih, dengan dasar merah. Ketika melayani dan mengobati orang-orang yang sakit, Drs. R.M.P. Sosrokartono selalu berdiri. Beilau kuat sekali berdiri berjam-jam atau berhari-hari. Setelah mengobati orang-orang sampai pukul 12 malam, Dar-Oes-Salam ditutup. Namun beliau tidak langsung tidur, beliau seringkali bermain catur sampai jam 3, 4 pagi, itupun beliau lakukan sambil berdiri. Kanthong Bolong “Nulung pepadhane, ora nganggo mikir wayah, wadhuk, kanthong. Yen ana isi lumuntur marang sesami.” Artinya, “Menolong sesama, tidak perlu memakai pikiran waktu, perut, saku. Jika (saku) berisi mengalir kepada sesama.” Dengan demikian, maksud dari “Ilmu Kanthong Bolong” adalah sebuah pengetahuan konkrit tentang sebentuk tempat yang selalu kosong, yang secara pasti tempat itu tak pernah membiarkan sesuatu yang dimilikinya tetap ada, karena tempat itu berlobang, maka apapun yang ditaruh di sana selalu mengalir, sehingga menjadi kosong dan sunyi dari apa saja. “Nulung tiyang kula tindakaken ing pundi-pundi, sak mangsa-mangsa, sak wanci-wanci.” Maksudnya, menolong orang itu dilaksanakan di mana-mana, sewaktu-waktu, kapan saja. Sugih Tanpa Bandha “Sugih tanpa bandha. Digdaya tanpa hadji. Ngalurug tanpa bala. Menang tanpa ngasoraken.” Artinya, “Kaya tanpa harta. Sakti tanpa azimat. Menyerang tanpa balatentara. Menang tanpa merendahkan.” Demikianlah kata-kata mutiara yang tertera pada salah satu batu nisan makam Drs. R.M.P. Sosrokartono di Sidhomukti Kudus. Ajaran Drs. R.M.P. Sosrokartono ini tidak mengajak orang-orang Indonesia jadi orang yang melarat, miskin, tak punya harta, sehingga mudah dipermainkan oleh mereka yang berharta. Tapi sesungguhnya, kembali pada penjelasan bahwa orang kaya itu bukanlah karena banyak harta bendanya, melainkan orang kaya itu adalah orang yang kaya hatinya, yang kaya mentalnya. “Puji kula mboten sanes namung sugih-sugeng-seneng-ipun sesami.” Maksudnya, si miskin akan akan tetap jadi miskin atau makin miskin karena bermental miskin. Bukankah orang kaya itu orang yang sudah tak lagi membutuhkan sesuatu, karena semuanya telah terpenuhi? Meskipun anda tak berharta, tapi anda sudah merasa cukup dengan apa yang anda dapatkan di dunia ini, maka andalah orang kaya itu. Sebaliknya, meskipun anda banyak berharta, tapi anda masih menginginkan dan membutuhkan sesuatu yang begini dan begitu, maka anda bukanlah orang kya, karena anda masih fakir (butuh) dan kebutuhan anda belum tercukupi. Digdaya Tanpa Aji “Ajinipun inggih boten sanes namung aji tekad; ilmunipun ilmu pasrah; rapalipun adilipun Gusti.” Artinya, “Ajiannya tidak lain hanyalah ajian tekad, ilmunya ilmu pasrah, manteranya keadlan Tuhan.” Perbuatan taat dan meninggalkan maksiat itulah sumber energi yang dapat membuat seseorang sakti mandraguna, disamping kemampuan diri mengekang gejolak syahwat dan dari perintah nafsu yang buruk. Rumusan beliau “Digdaya tanpa Aji” ada pada tiga tahapan, yaitu : Tekad Tekad adalah sifat yang merujuk pada semangat dan keberanian diri dalam menghadapi segala masalah, seperti rekayasa hidup, fitnah dan bujukan dunia. Tekad ada karena ada niat, sementara segala sesuatu itu tergantung pada niatnya. Jika niatnya itu baik, maka baiklah jadinya. Selain itu, dengan tekad manusia dapat menyelesaikan tugas-tugasnya. Tekad bukan berarti spekulasi miring, tapi lebih mengarah pada sikap tidak takut pada apapun dan siapapun, sehingga hasil yang dicapaipun menjadi maksimal. Tekad dapat dijadikan senjata, yakni senjata psikis dalam menghadapi setiap masalah. Oleh karena itu tekad dapat dijadikan ajian, azimat pamungkas dalam segala urusan. Untuk mendapatkan “aji tekad” tidak perlu melakukan laku (tirakat), tidak pula belajar ilmu kanuragan dahulu, tetapi “aji tekad” dapat diperoleh dengan menanam keberanian, kepasrahan, keadilan dan niat yang baik dalam diri. Pasrah Ilmu pasrah dapat juga disebut ilmu tawakal. Memasrahkan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Ilmu tawakal ini bisa diperoleh dengan menanamkan pemahaman dalam diri bahwa tak ada kuasa dan daya selain kuasa dan daya Tuhan Yang Maha Agung. Hidup dan mati itu urusan Tuhan, sukses dan gagal atas kehendak Tuhan. Intinya, menyerahkan permasalahan hidup ini kepada Tuhan, karena Dialah sebaik-baiknya Wakil. Pasrahkan jiwa dan raga kepada-Nya; Dibalik tawakkal ada keselamatan, karena ketika manusia telah menyerahkan hidup-matinya, segala urusannya kepada Yang Maha Esa, maka Dialah yang akan melindungi dan menyelamatkannya dari bahaya dan bencana. Keadilan Keadilan disini adalah lafal, kata/tanda yang disandarkan kepada Tuhan. Keadilan ini sulit didapat dan sulit dipraktekkan, kaena keadilan adalah puncak dari kebaikan. Ketika manusia tak dapat berbuat adil, maka Tuhanlah yang akan memberikan keadilan. Keadilan Tuhan ini sangat menakutkan, karena Yang Maha Adil itu takkan memandang siapa yang akan diadili, sehingga keadilan benar-benar ditegakkan. Ketika keadilan-Nya telah berbicara, maka kebenaranlah yang ada. Ketika keadilan Tuhan telah menjadi ucapan seseorang dalam denyut kehidupannya, maka kebenaran dan kebaikanlah yang diperolehnya. “Tanpa aji, tanpa ilmu, kula boten gadhah ajrih, sebab payung kula Gusti kula, tameng kula inggih Gusti kula.” Artinya, “Tanpa ajian, tanpa ilmu (kanuragan), saya tidak takut, sebab payung atau pelindung saya adalah Tuhan dan perisai saya juga hanya Tuhan.” Bertempur Tanpa Pasukan “Ngalurug tanpa Bala” adalah merupakan sebagian kebenaran hidup yang harus dihayati dan diamalkan, karena ungkapan ini merujuk pada istilah berkarya dengan tangan sendiri. Tak perlu bantuan, tak perlu teriak-teriak meminta pertolongan, karena diri pribadi sudah dapat mengatasi apa yang dialami. Sesungguhnya musuh manusia adalah setan, baik setan manusia maupun setan jin, maka kepada keduanyalah manusia harus melakukan perlawanan. Sekali lagi, setan-setan itulah yang harus dilawan, diperangi, dan kalau bisa, dimusnahkan saja. Dengan bekal teksd dan keberanian yang suci, maka tak ada yang tak dapat dihancurkan, karena semua mahluk akan binasa kecuali Dzat-Nya. Kasih sayang dapat melunakkan musuh, dapat menolong, dapat dijadikan pelindung, dan dengan tekad asih, kita tidak akan merasa takut terhadap siapapun dan apapun. “Ingkang kula dalaken dede tekad pamrih, ananging tekad asih.” Artinya, “Yang saya pergunakan bukan tekad pamrih, tapi tekad asih.” “Anglurug tanpa bala, tanpa gaman; Ambedhah, tanpa perang tanpa pedhang.” Maksudnnya, mengejar (musuh) tanpa tentara, tanpa senjata; menundukkan (musuh) tanpa perang tanpa pedang.Tak perlu teman, tak perlu senjata. Hindarilah peperangan, pertarungan, atau kekerasan. Yakinlah bahwa orang yang berjalan dengan membawa cinta kasih kepada sesama mahluk akan senantiasa mendapatkan pertolongan dan perlindungan Tuhan. Meskipun manusia tidak mencari masalah atau musuh, permasalahan atau musuh itu datang dengan sendirinya dan akan meniupkan gangguan-gangguan. Akan tetapi, permasalahan dan musuh yang ada di dalam diri kita sendiri. Tekanan batin, penderitaan mental, atau nafsu-nafsu kotor yang menghuni lembah diri kita itulah permasalahan dan musuh kita yang berat lagi membahayakan, karena tak tampak tetapi dapat kita rasakan. Nafsu-nafsu jahat yang menghuni diri manusia bermacam-macam. Nafsu-nafsu itulah yang pada umumnya membuat manusia menjadi sombong, kikir, dengki, jahat dan segala bentuk sifat buruk sering bercokol dalam dirinya, sehingga kehinaan dan kenestapaanlah yang diperoleh, bukan kemuliaan dan keselamatan. Maka, sangat elegan jika Drs. R.M.P. Sosrokartono mencetuskan rumusan “Ngalurug tanpa Bala” yang mempunyai muatan ajaran spiritual dalam rangka menghalau segala bentuk keburukan yang ada didalam diri manusia, supaya manusia tidak menjadi hina, karena barang siapa yang dikalahkan dengan hawa nafsunya maka kehinaanlah yang akan bersanding mesra dengannya. Trimah Mawi Pasrah “Trimah mawi pasrah. Suwung pamrih, tebih ajrih. Langgeng tan ana susah, tan ana seneng. Antheng mantheng sugeng jeneng.” Artinya, “Menerima dengan pasrah. Tiada pamrih, jauh dari takut. Abadi tiada duka, tiada suka. Tenang memusat, bahagia bertakhta.” Konsep “trimah mawi Pasrah”, oleh Drs. R. M. P. Sosrokartono, diperjelas dengan apa yang pernah beliau katakan di bawah ini : “Ikhlas marang apa sing wes kelakon. Trimah apa kang dilakoni. Pasrah marang apa bakal ana.” Artinya, “Ikhlas terhadap apa yang telah terjadi. Menerima apa yang dijalani. Pasrah terhadap apa yang akan ada.” Jadi, selain bergandengan dengan ilmu sabar, ilmu pasrah dan ilmu trimah juga bergandengan dengan ilmu ikhlas, tidak mencari pamrih, tidak karena ingin dipuji, tidak pamer kepada orang lain. Apa yang telah terjadi, biarlah terjadi, karena kepasrahan akan membawa keridhaan, dan keridhaan akan membawa keikhlasan, dan itulah sabar, sebuah sifat yang sangat disukai oleh Tuhan. “Trimah mawi Pasrah” juga dapat diartikan bahwa manusia hanya dapat berusaha, sedangkan Tuhanlah yang menentukan segalanya. Oleh karena itu, janganlah terlalu menyesali nasib, karena dibalik derita ada bahagia, dibalik kesusahan ada kemudahan. Yang pasrah akan mendapat kemudahan, yang ridha akan mendapatkan ganti, yang sabar akan mendapatkan kemuliaan dan yang ikhlas akan mendapat ketenangan dan kebahagiaan hati. Suwung Pamrih Tebih Ajrih ” … Suwung pamrih, suwung ajrih, namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggaken dhateng Gusti … “ Artinya, ” … Tiada pamrih, tiada takut, hanya mencari sesuatu yang baik, semua saya serahkan kepada Tuhan … “ “Yen kula ajrih, kenging dipun wastani ngandut pamrih utawi ancas ingkang boten sae.” Artinya, “Jika saya takut, boleh dikatakan (bahwa saya) menyimpan pamrih atau niat yang tidak baik.” “Luh ingkang medal sangking manah punika, dede luh ipun tangis pamrih, nanging luh peresanipun manah suwung pamrih.” Artinya, “Air mata yang keluar dari hati ini, bukanlah air matanya tangis pamrih, tetapi air mata perasan hati yang kosong pamrih.” Ketika anda menangis, menangislah karena syukur dan ikhlas, bukan karena menginginkan imbalan yang tak kunjung tiba. Apalah artinya menantikan imbalan, jika semua yang ada tak mengizinkan. Apalah artinya tangisan hanya gara-gara ingin dipuji, dibalas atau diberi, jika kemuliaan jauh dari kita. Yang terpenting adalah kedamaian, ketentraman, aman, kebahagiaan dan kemuliaan. Pamrih itu hanya membuat seseorang menjadi penakut, picik, menderita, menjenuhkan, bahkan dapat membuat orang menjadi hina. Apalah artinya berpegang kepada kesementaraan, jika di alam baka kita dicambuk derita ?! Padhang Ing Petheng ” … Wosipun inggih punika ngupadosi padhang ing peteng; seneng ing sengsara, tunggaling sewu yuta … “ Artinya, “Yang jelas adalah mencari terang di dalam gelap; senang dalam kesengsaraan, ribuan juta contohnya.” Apa saja yang ada di dunia ini relatif. Di bumi ini selalu ada dualisme, seperti padhang-peteng; seneng-sengsara; sehat-sakit; hujan-panas dan lain sebagainya. Demikianlah yang namanya kehidupan. Peteng terus itu tidak ada. Padhang terus juga tidak ada. Seneng terus itu juga tidak ada. Sengsara terus itupun tidak ada. Oleh karena itu, yang bertentangan itu dibutuhkan dalam kehidupan ini. Dengan adanya panjang, kita tahu pendek; dengan adanya sakit, kita bisa merasakan sehat. Dengan mengetahui baik, maka kita tahu apa itu buruk. Hujan dan panas, keduanya dibutuhkan dalam kehidupan ini. Kalau orang tidak mau peteng dan selalu ingin yang padhang saja, apa jadinya dunia ini? Kapan kita istirahat, kapan kita tidur? Kalau peteng terus, apa saja yang semula tumbuh pasti mati. Sebab tidak terkena sinarnya matahari. Kalau panas terus, bumi ini akan kering kerontang, kematian akan tersebar di muka bumi. Kalau hujan terus, pasti terjadi banjir di mana-mana. Daratan akan tenggelam, kelaparan melanda dunia disertai kematian umat manusia. Dimana-mana yang ada cuma air! Apa jadinya bumi ini? Senang dan sengsara harus diterima seperti apa adanya, karena kedua-duanya membawa manfaat dan didalamnya ada hikmah yang tersembunyi. Janganlah kita terikat atau terbelenggu oleh senang dan susah. Jika kesengsaraan datang, terimalah. Jika kesenangan datang, sambutlah. Mengapa? Supaya hidup ini dapat dijalani dengan tenang. Di manapun anda temukan kegelapan, maka terangilah. Di manapun anda temukan kesengsaraan, maka berilah kesenangan. Janganlah berhenti melakukan tugas itu, karena berjuta-juta yang membutuhkan cahaya terang dan sinar kebahagiaan. Catur Murti Catur itu empat, sedangkan Murti itu penjelmaan. Jadi yang dimaksudkan adalah empat yang dijelmakan menjadi satu. Menurut Aksan, Catur Murti adalah bersatunya empat faal, yaitu pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Berawal dari keinginan atau kehendak (perasaan), itulah yang menyebabkan berpikir dan tindak lanjutnya adalah berkata, terakhir berbuat. Pikiranlah yang mendorong kita untuk berkata maupun berbuat. Sekarang tergantung kepada pikirannya. Kalau pikirannya baik/benar, maka akan mengeluarkan kata-kata yang baik/benar. Kalau pikirannya baik/benar, akan mendorong untuk berbuat baik/benar. Jika pikirannya jahat/tidak benar, akan mendorong orang untuk berkata yang jahat dan berbuat jahat. Kebencian jangan diberi kesempatan untuk merajalela di alam pikiran kita. Kita harus menjinakkan kebencian yang ada di dalam pikiran kita, kemudian kita pudarkan atau kita kecilkan, agar pikiran jahat itu dapat kita hilangkan. Kalau sudah begitu, jangan diingat-ingat lagi orang yang pernah membuat anda jadi benci. KAta-katanya, perilakunya, jangan diingat lagi. Dengan berjalannya waktu, anda akan melupakan itu semuanya. Berterima kasihlah kepada Tuhan, karena anda dikaruniai sifat lupa, kalau anda tidak diberi lupa, maka anda akan ingat segala-galanya, apakah anda tidak bertambah pusing? Ada kalanya kita menggunakan pikiran yang baik, namun masih dianggap kurang cukup. Menggunakan perasaan yang baik pun masih ada kekurangannya. Sebagai contoh : Anda sedang berjalan dengan seorang teman. Kebetulan teman itu tidak punya uang sama sekali. Dan sama-sama lapar, tetapi uang anda hanya Rp 2000. Anda mampir di warung, nasi satu piring Rp 2000. jadi yang makan hanya anda sendiri. Sebab, uang itu adalah uang anda sendiri dan anda sangat lapar. Teman anda menunggu sambil berdiri, di luar warung. Sampai hatikah anda berbuat begitu? Contoh lainnya : Uang Rp 2000 anda berikan kepada teman anda, teman anda yang makan. Anda hanya duduk saja di dalam warung, sambil mengamati teman anda yang sedang menikmati makanannya. Pada contoh yang pertama, anda egoistis. Sekalipun berpikir benar. Pada contoh yang kedua, anda adalah orang gila yang baik hati. Sekalipun berperasaan benar. Nah, coba anda mencari makanan yang harganya Rp 1000 saja. Anda dan teman anda sama-sama dapat makan. Anda makan tidak kenyang, tetapi sudah makan. Teman anda tidak kelaparan. Jadi sebelum anda berbuat, pikiran yang benar harus diselaraskan dengan perasaan yang benar. Artinya, ada unsur penyelarasan. Dengan begitu, dalam konteks tersebut, perbuatan anda adalah “Perbuatan benar”. Dengan demikian, Catur Murti itu merupakan kesatuan, tidak boleh dipisahkan, jangan ambil protholannya saja, ambillah kesatuannya, keseluruhannya. itu baru namanya Catur Murti. Selain itu, Catur Murti bukan hanya sekedar dihafalkan, tapi harus dihayati dan diamalkan. Berlatih Catur murti tanpa berhenti, baru ada manfaatnya. Sehingga menyatu dengan jiwa kita, sehingga kita terbiasakan untuk berpikir benar, berperasaan benar, berkata benar dan berbuat benar. Dalam situai dan kondisi apapun reaksi kita jadi cepat dan dalam mengambil keputusan bisa dengan tepat dan benar. Tuhan telah memberi kita 2 buah mata, 2 buah telinga dan 1 mulut. 2 buah mata, artinya banyak-banyaklah melihat. 2 buah telinga, artinya banyak-banyaklah mendengar. 1 buah mulut, kalau tidak perlu sebaiknya ditutup. Sebab mulut adalah pintu gerbang yang mendatangkan bahaya. Benci (kebencian) Hidup ini jadi tegang dan gelisah. Kebencian dapat melahirkan dendam. Dendam dapat melahirkan ketidaktenangan. Gelisah dan gundah gulana itu juga akibat dari sebuah kebencian. Serakah Keserakahan menyebabkan hati kita tertutup. Hati yang tertutup tidak dapat melihat kepentingan orang lain, tidak dapat merasakan penderitaan orang lain. Yang dipikirkan hanya kepentingan, kesenangan dan keselamatan dirinya sendiri. Iri Hati Orang yang iri hati selalu merasa tidak senang, jika orang lain senang. Ia tidak merasa bahagia kalau orang lain bahagia. Ia merasa kecil hati melihat orang lain sukses. Orang yang iri hati itu hatinya kerdil, karena ia tidak mau menerima kenyataan dengan lapang dada atau mengakui kesuksesan orang lain, kegembiraan orang lain, kebahagiaan orang lain. Orang iri hati cepat sekali untuk memfitnah orang, menggunjing atau menjelekkan orang lain yang sukses. Fitnah Selama kita benar, jangan takut terhadap fitnah. Kalau kita tak berbuat yang neko-neko, kita merasa benar, tak perlu memikirkan fitnah itu. Biarkan saja, diamkan saja dan hadapi dengan kesabaran. Bodoh (kebodohan) Bilamana kita sedang marah, sedang membenci, sedang iri hati, sedang serakah, pada saat itu kita dalam keadaan bodoh, yang artinya tidak punya kemampuan untuk mengendalikan diri/lepas kontrol. Saat itu pikiran kita jadi gelap, tidak sadar, tidak bijaksana, kita jadi bodoh (tidak seperti biasanya, cerdas, bijaksana). Karena bodoh, ada kemungkinan kita memukul atau membunuh tanpa kesadaran. Melakukan hal-hal membahayakan untuk diri sendiri dan orang lain, dan kita pun menderita lahir batin. Kita baru sadar, setelah itu semua terjadi. Kesadaran yang datangnya terlambat. Mutiara-mutiara “… Kula badhe nyobi prabotanipun wong lanang, inggih punika: bares, mantep, wani. …” “… Saya akan mencoba identitas seorang lelaki, yaitu: jujur, mantab, wani …” “Boten kenging tiyang jaler ngunduri utawi nyingkiri bebaya utami, saha cidra dhateng pengajeng-ajeng lan kepercadosipun sesami.” Intinya, seorang pemberani jangan takut menghadapi apapun.. “Yen kapergok aja mlayu.” ..dan jika bertemu suatu bahaya, jangan lari. (Bertanggungjawab) “Ing donya mung kebak kangelan, seng ora gelem kangelan aja ing donya.” “Di dunia penuh dengan kesusahan, yang tidak mau susah jangan di dunia.” “Ajinipun inggih boten sanes naming aji tekad, ilmunipun ilmu pasrah, rapalipun adiling Gusti.” Intinya, tak perlu mempelajari ajian-ajian, cukup dengan tekad yang baik, dengan kepasrahan yang benar dan selalu berlindung di bawah sifat adil tuhan. “Kula bade ngukur dedeg kula, nimbang botin kamantepan, njajagi gayuhanipun budi.” Intinya, di dalam sebuah pengembaraan, sebaiknya seseorang juga perlu mempertimbangkan keyakinan yang dimilikinya dan mendalami raihan budi. Sejauh mana keyakinan dan raihan budinya, dapat dilihat setelah seseorang menjalani pengembaraan, karena di sanalah kedua hal tersebut dapat teruji dan terbukti. “Pakerti asor numusi anak putu lan mbekta kasengsarane tiyang katah.” Intinya, harus tahu bahwa perbuatan atau akhlak yang buruk dapat terwarisi oleh sang anak dan dapat mendatangkan kesengsaraan orang lain. “Aja dumeh, tepa slira, ngerti kuwalat.” Intinya, janganlah merasa hebat. Terhadap siapapun harus tenggang rasa. Dan harus tahu kena tuah (semisal hukum karma). “Wani mengku: anteping ati, kencenging pikir, boboting kekuatane.” Intinya, kemantapan dan kekuatan hati, pikiran yang kuat atau teguh dan bobotnya kekuatan harus dimiliki. “Nekad: Kekendelan, ngluwihi kekuatan.” Intinya, bertekad bahwa kepastian (di dalam diri) itu melebihi kekuatan. “Dede tekad pamrih, nanging tekad asih.” Intinya, berdasarkan pada tekad asih, bukan tekad pamrih. “Tiyang mlampah punika, sangunipun lan gembolanipun satunggal, inggih punika : “maksudipun”.” Intinya, orang berjalan hanya mempunyai satu bekal, yaitu niat. “Barang sanesipun saged dipun wastani ngriribedi lan ngrawati lampah, kenging dipun wastani ugi : Ngendoni niyat utawi “ngeker ancas lan tujuning lampah”.” Intinya, barang lainnya selain niat yang baik, hanya akan menjadi penghalang dan memperberat langkah, dapat juga dinamakan sesuatu yang bisa mengendorkan niat, bisa memutar tujuan perjalanan. Gara-gara mencari sesuatu yang tak jelas, niat seseorang dapat berubah.

Sunday, October 15, 2017

Sabar dan Tawakal

. . bisa menerima dengan sabar dan tetap tawakal akan nasib yg kurang menentu akan menjadi lebih Ichlas bila bisa menyadari itu dalam posisi pengaturan dan pembersihan dirinya atas kehendak Tuhan semesta alam untuk menjadikannya lebih baik lagi . . .

Thursday, October 12, 2017

117 Anak2 Brawijaya

Gunarso Hudiwijanto 18 Juli · 117 anak Brawijaya V Raja terakhir Majapahit, Brawijaya V, memiliki 117 orang putera-puteri dari beberapa isteri dan banyak selir. Permaisuri maupunselir-selir itu kebanyakan adalah upeti dari kerajaan atau penguasa lain yang tunduk atau mengakui eksistensi Majapahit. Tentu saja jumlahnya banyak sekali, mengingat luasnya wilayah Majapahit dan banyaknya negeri lain yang mengakui eksistensi Majapahit. Sebagai raja tentu saja sang Prabu tidak mungkin bisa menolak upeti atau persembahan yang cantik-cantik tersebut. Selain bisa mencederai persahabatan dengan kerajaan-kerajaan lain, juga tak baik menolak persembahan dari daerah-daerah taklukan. Banyaknya putera-puteri sang Prabu tersebut, di sisi lain bermanfaat melestarikan kekuasaan untuk wilayah kekuasaan yang begitu luas. Setelah dewasa beberapa putera Brawijaya V diberi jabatan bupati atau adipati dan ditugaskan jadi penguasa di berbagai wilayah kekuasaan Majapahit. Beberapa anak perempuan dinikahkan dengan penguasa atau anak penguasa lain sebagai tanda pengikatan. Dengan cara begini diharapkan seluruh wilayah kekuasaan dan seluruh tali persahabatan dengan kerajaan lain bisa terus dikendalikan dan dilestarikan. Ini membuktikan betapa luasnya wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit pada saat itu. 117 Putera-puteri Prabu Brawijaya V : 1. Raden Jaka Dilah (Aryo Damar) – dijadikan Adipati Palembang 2. Raden Jaka Pekik (Harya Jaran Panoleh) – Adipati Sumenep 3. Putri Ratna Pambayun, menikah dengan Prabu Srimakurung Handayaningrat 4. Raden Jaka Peteng 5. Raden Jaka Maya (Harya Dewa Ketuk) – dijadikan adipati di Bali 6. Dewi Manik – menikah dengan Hario Sumangsang Adipati Gagelang 7. Raden Jaka Prabangkara – pergi ke negeri sahabat, Cina 8. Raden Harya Kuwik – dijadikan Adipati Borneo/Kalimantan 9. Raden Jaka Kutik (Harya Tarunaba) – dijadikan Adipati Makasar 10. Raden Jaka Sujalma – jadi adipati Suralegawa di Blambangan 11. Raden Surenggana – tewas dalam peristiwa penyerbuan Demak 12. Retno Bintara – menikah dengan Adipati Nusabarung, Tumenggung Singosaren 13. Raden Patah – dijadikan Adipati & Sultan Demak 14. Raden Bondan Kejawan, Ki Ageng Tarub III – menurunkan raja-raja Mataram Islam 15. Retno Kedaton – muksa di Umbul Kendat Pengging 16. Retno Kumolo (Raden Ayu Adipati Jipang) – menikah dengan Ki Hajar Windusana 17. Raden Jaka Mulya (Raden Gajah Permada) 18. Putri Retno Mas Sakti – menikah dengan Juru Paningrat 19. Putri Retno Marlangen – menikah dengan Adipati Lowanu; 20. Putri Retno Setaman – menikah dengan Adipati Jaran Panoleh di Gawang; 21. Retno Setapan – menikah dengan Bupati Kedu Wilayah Pengging, Harya Bangah 22. Raden Jakar Piturun – dijadikan Adipati Ponorogo dikenal sebagai Betara Katong 23. Raden Gugur – hilang/muksa di Gunung Lawu 24. Putri Kaniten – menikah dengan Hario Baribin di Madura 25. Putri Baniraras – menikah dengan Hario Pekik di Pengging 26. Raden Bondan Surati – tewas “mati obong” di Hutan Lawar Gunung Kidul 27. Retno Amba – menikah dengan Hario Partaka 28. Retno Kaniraras 29. Raden Ariwangsa 30. Raden Harya Suwangsa – Ki Ageng Wotsinom di Kedu 31. Retno Bukasari – menikah dengan Haryo Bacuk 32. Raden Jaka Dandun – nama gelar Syeh Belabelu 33. Retno Mundri (Nyai Gadung Mlati) – menikah dengan Raden Bubaran dan muksa di Sendak Pandak Bantul 34. Raden Jaka Sander – nama gelar Nawangsaka 35. Raden Jaka Bolod – nama gelar Kidangsoka 36. Raden Jaka Barak – nama gelar Carang Gana 37. Raden Jaka Balarong 38. Raden Jaka Kekurih/Pacangkringan 39. Retno Campur 40. Raden Jaka Dubruk/Raden Semawung/Pangeran Tatung Malara 41. Raden Jaka Lepih/Raden Kanduruhan 42. Raden Jaka Jadhing/Raden Malang Semirang 43. Raden Jaka Balurd/Ki Ageng Megatsari/Ki Ageng Mangir I 44. Raden Jaka Lanangm – dimakamkan di Mentaok Jogja 45. Raden Jaka Wuri 46. Retno Sekati 47. Raden Jaka Balarang 48. Raden Jaka Tuka/Raden Banyak Wulan 49. Raden Jaka Maluda/Banyak Modang – dimakamkan di Prengguk Gunung Kidul 50. Raden Jaka Lacung/Banyak Patra/Harya Surengbala 51. Retno Rantam 52. Raden Jaka Jantur 53. Raden Jaka Semprung/Raden Tepas – dimakamkan di Brosot Kulonprogo 54. Raden Jaka Gambyong 55. Raden Jaka Lambare/Pecattanda – dimakamkan di Gunung Gambar, Ngawen, Gunung Kidul 56. Raden Jaka Umyang/Harya Tiran 57. Raden Jaka Sirih/Raden Andamoing 58. Raden Joko Dolok/Raden Manguri 59. Retno Maniwen 60. Raden Jaka Tambak 61. Raden Jaka Lawu/Raden Paningrong 62. Raden Jaka Darong/Raden Atasingron 63. Raden Jaka Balado/Raden Barat Ketigo 64. Raden Beladu/Raden Tawangtalun 65. Raden Jaka Gurit 66. Raden Jaka Balang 67. Raden Jaka Lengis/Jajatan 68. Raden Jaka Guntur 69. Raden Jaka Malad/Raden Panjangjiwo 70. Raden Jaka Mareng/Raden Pulangjiwo 71. Raden Jaka Jotang/Raden Sitayadu 72. Raden Jaka Karadu/Raden Macanpura 73. Raden Jaka Pengalasan 74. Raden Jaka Dander/Ki Ageng Gagak Aking 75. Raden Jaka Jenggring/Raden Karawita 76. Raden Jaka Haryo 77. Raden Jaka Pamekas 78. Raden Jaka Krendha/Raden Harya Panular 79. Retna Kentringmanik 80. Raden Jaka Salembar/Raden Panangkilan 81. Retno Palupi – menikah dengan Ki Surawijaya (Pangeran Jenu Kanoman) 82. Raden Jaka Tangkeban/Raden Anengwulan – dimakamkan di Gunung Kidul 83. Raden Kudana Wangsa 84. Raden Jaka Trubus 85. Raden Jaka Buras/Raden Salingsingan – dimakamkan di Gunung Kidul 86. Raden Jaka Lambung/Raden Astracapa/Kyai Wanapala 87. Raden Jaka Lemburu 88. Raden Jaka Deplang/Raden Yudasara 89. Raden Jaka Nara/Sawunggaling 90. Raden Jaka Panekti/Raden Jaka Tawangsari/Pangeran Banjaransari dimakamkan di Taruwongso Sukoharjo 91. Raden Jaka Penatas/Raden Panuroto 92. Raden Jaka Raras/Raden Lokananta 93. Raden Jaka Gatot/Raden Balacuri 94. Raden Jaka Badu/Raden Suragading 95. Raden Jaka Suseno/Raden Kaniten 96. Raden Jaka Wirun/Raden Larasido 97. Raden Jaka Ketuk/Raden Lehaksin 98. Raden Jaka Dalem/Raden Gagak Pranala 99. Raden Jaka Suwarna/Raden Taningkingkung 100. Raden Rasukrama menikah dengan Adipati Penanggungan 101. Raden Jaka Suwanda/Raden Harya Lelana 102. Raden Jaka Suweda/Raden Lembu Narada 103. Raden Jaka Temburu/Raden Adangkara 104. Raden Jaka Pengawe/Raden Sangumerta 105. Raden Jaka Suwana/Raden Tembayat 106. Raden Jaka Gapyuk/Ki Ageng Pancungan 107. Raden Jaka Bodo/Ki Ageng Majasto 108. Raden Jaka Wadag/Raden kaliyatu 109. Raden Jaka Wajar/Seh Sabuk Janur 110. Raden Jaka Bluwo/Seh Sekardelimo 111. Raden Jaka Sengara/Ki Ageng Pring 112. Raden Jaka Suwida 113. Raden Jaka Balabur/Raden Kudanara Angsa 114. Raden Jaka Taningkung 115. Raden Retno Kanitren 116. Raden Jaka Sander (Harya Sander) 117. Raden Jaka Delog/Ki Ageng Jatinom Klaten Ada 8 putera Brawijaya V ditugaskan dan berkedudukan di pulau Bali, diiringi oleh banyak punggawa/abdi dalem dan rakyat pengikutnya. Di tempat tujuan mereka mendirikan kerajaan baru dan di kemudian hari mereka menurunkan para raja Bali. Kelompok yang pindah ke Bali ini menjadi kelompok yang selamat dari pembasmian, ketika Demak menghancurkan Majapahit, karena tidak terjangkau oleh kejaran lawan politik. Sementara itu kebanyakan putra-putri Brawijaya V yang lain terpaksa harus menyelamatkan diri dan bertebaran ke berbagai tempat. Sebagian dari mereka melarikan diri bersembunyi ke hutan atau gunung. Seperti misalnya di Pandak, Bantul, di situ dikenal satu makam Kyai Ewer/Klewer. Dia adalah prajurit Majapahit yang dikejar tentara Demak, bersembunyi di tanah tandus dan bajunya sobek-sobek (pating klewer). Ini yang menguatkan kesimpulan bahwa apa yang dikisahkan dalam Serat Darmagandul, sekalipun serat itu lebih berbentuk sebagai sebuah buku sastra ketimbang buku sejarah, bahwa Majapahit memang runtuh oleh Demak diteruskan dengan pembantaian besar-besaran. Majapahit runtuh diserbu oleh Raden Patah yang adalah putera Brawijaya V sendiri. Raden Patah berani melanggar pesan sang eyang, Sunan Ampel, akibat bujukan halus Sunan Kudus dan para sunan yang lain. Apalagi pada waktu itu, Sunan Ampel sudah wafat. Catatan sejarah lain menyebutkan bahwa kerajaan Cirebon dan para wali adalah arsitek dan pendukung utama penyerbuan tersebut. Sedangkan sang Prabu Brawijaya V konon merasa serba-salah menghadapi puteranya sendiri. Para prajurit pun menjadi setengah hati dan kurang semangat berperang. Setelah pertempuran yang berkepanjangan, akhirnya Majapahit pun dikalahkan. Paska kemenangan Demak dan para sekutunya, terjadi pembumi-hangusan yang sistematik terhadap kekuatan politik maupun warisan budaya Majapahit. Peristiwa “pembunuhan” Ki Ageng Kebo Kenongo oleh Sunan Kudus adalah atas perintah Raden Patah dan ini menjadi salah satu petunjuk akan benarnya kesimpulan tersebut. Tak lama setelah Demak menghancurkan Majapahit, maka seluruh pengganggu potensial harus juga disingkirkan, lepas dari mereka benar-benar akan jadi mengganggu atau tidak.