Sunday, August 18, 2013

dari Navias Tanjung tentang Subandrio


PENGAKUAN DR SOEBANDRIO TENTANG KEJAHATAN SOEHARTO.

Agar lebihjelas, saya paparkan sekilas biografi saya. Saya lahir di Kepanjen (selatanMalang), Jatim, 15 September 1914. Ayah saya, Kusadi, adalah Wedono Kepanjen.Ibu saya, Sapirah, adalah ibu rumah tangga biasa. Saya adalah anak kedua darienam bersaudara.

Sayadibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Untuk ukuran posisi ayah di desakecil Kepanjen saat itu, keluarga kami cukup terhormat. Masa kanak-kanak sayahabiskan di Kepanjen. Saya sekolah di SR (Sekolah Rakyat setingkat SD) di sana.

Lulus SR,saya masuk MULO (setingkat SMP) di Malang. Sebab, saat itu di Kepanjen belumada sekolah MULO. Lulus MULO saya lanjutkan ke AMS tahun 1928. Saya masuksekolah terlalu dini, sehingga pada usia 14 tahun saya sudah tamat AMS.

Tamat AMS,saya memilih melanjutkan ke sekolah kedokteran di Jakarta. Tempat-nya di JalanSalemba yang kemudian berubah menjadi Universitas Indonesia. Saat itu sayamemang ingin menjadi dokter – sebuah keinginan yang bisa dibilang muluk untukukuran rakyat Indonesia saat itu. Anak-anak rakyat biasa saat itu paling tinggihanya sekolah SR. Saya bisa ke sekolah lanjutan, sebab ayah saya merupakanpetinggi, walaupun hanya petinggi desa.

Tetapi, darilima saudara saya, hanya saya yang paling menonjol di sekolah, sehingga bisamelanjutkan sampai ke sekolah kedokteran. Semasa sekolah kedokte-ran, sayabanyak kenal dengan para pemuda pejuang, termasuk Bung Karno. Saya sering ikutdiskusi-diskusi mereka. Dari sana saya juga dikenal para pemuda pejuang itu.Saya sendiri menjadi tertarik bergaul dengan mereka.

Sayamenyelesaikan sekolah dokter sesuai jadwal, yakni tujuh tahun. Tercapailahkeinginan saya menjadi dokter. Lantas saya mengambil brevet dengan spesialisasibedah perut. Saya selesaikan ini dalam tiga tahun, juga sesuai jadwal. Maka,pada tahun 1938 saya sudah mengantongi gelar dokter ahli bedah. Ketika itujumlah dokter umum masih sangat jarang, apalagi dokter spesialis. Kalau tidaksalah, dokter ahli bedah hanya ada lima orang. Tiga dari Jakarta, termasuksaya, dua dari Surabaya (Universitas Airlangga).

Sebelumlulus, tahun 1936 saya menikah dengan Hurustiati, seorang mahasiswi tapi bedafakultas dengan saya. Ketika saya sudah lulus, ia masih kuliah. Usia kami hanyaberbeda beberapa tahun. Saya sedikit lebih tua.

Begitululus, saya langsung ditarik pemeritah kolonial menjadi dokter di Semarang(sekarang RS Dr. Karjadi). Hanya beberapa bulan kemudian saya dipindahkan keJakarta (sekarang RS Dr. Cipto Mangunkusumo). Ahli bedah di sana saat itu hanyadua orang, termasuk saya. Untuk menyalurkan hobi berdiskusi saat mahasiswa,saya masuk PSI. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, pada 1940 saya sudahmenjadi wakil ketua PSI.

Akhirnyasaya mundur dari rumah sakit. Saya juga tidak praktek pribadi. Sepanjang hidupsaya juga tidak pernah praktek dokter pribadi. Karir saya di kedokteran selesaisampai di situ, sebab saya jenuh dengan pekerjaan yang menurut saya monoton.Saya lebih tertarik berorganisasi. Sampai akhirnya proklamasi kemerdekaandikumandangkan oleh Bung Karno.

Sekitartahun 1946 saya ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi wakil pemerintahIndonesia di Inggris, berkedudukan di London. Penunjukan itu tiba-tiba saja.Tidak melalui proses, misalnya, menjadi pegawai negeri dulu. Mungkin karenasaat itu jumlah manusia tidak sebanyak sekarang. Dan, penunjukan PresidenSoekarno langsung saya terima. Istri saya juga setuju.

Inisebenarnya jabatan duta besar, tetapi kemerdekaan Indonesia belum diakui PBB.Sehingga saya tidak dipanggil duta besar, baik di Indonesia maupun di Inggris.Bung Karno hanya menyebut jabatan saya: Wakil Pemerintah Indonesia di Inggris.

Sebelumberangkat ke London, saya was-was. Tetapi setelah di Inggris, keberadaan sayaternyata diterima oleh Pemerintah Inggris. Memang tidak ada penyambutan saatsaya datang. Saya juga tidak membayangkan akan disambut. Lantas saya membukakantor di London. Inilah embrio Kedutaan Besar RI untuk Inggris. Dan, itulahawal saya meniti karir di pemerintahan. Jika banyak orang menempati jabatanDubes sebagai pos buangan, saya malah memulai karir dari pos itu.

Tahun 1950baru saya disebut Duta Besar RI untuk Inggris berkedudukan di London. Bagi sayasebenarnya tidak ada perubahan. Hanya sebutannya saja yang berubah. Namun,kemudian reaksi pemerintah Inggris terhadap keberadaan saya di sana secarabertahap berubah ke arah positif. Saya sering diundang ke acara-acara kerajaan,sebagaimana diperlakukan terhadap para duta besar dari negara-negara merdekalainnya.

Dariseringnya menghadiri undangan acara kerajaan itu saya sering berdekatan denganRatu Elizabeth. Saat itu tidak terbayangkan oleh saya bahwa berdekatan denganRatu Elizabeth kelak bisa menyelamatkan nyawa saya dari eksekusi hukuman matiyang tinggal menunggu hari (soal ini sudah diungkap di muka). Saya hanyamenjalankan tugas negara. Dan, dalam menjalankan tugas, antara lain, harusmenghadiri acara-acara seremonial tersebut.

Pada tahun1954 Presiden Soekarno menarik saya dari London, dan memindahkan saya keMoskow. Resminya jabatan baru saya adalah Duta Besar RI untuk Uni Soviet diMoskow. Dua tahun di sana, lantas saya diperintahkan pulang ke Jakarta. Tiba ditanah air saya ditunjuk oleh Presiden menjadi Sekretaris Jenderal DepartemenLuar negeri, menggantikan Roeslan Abdoelgani. Sedangkan Roeslan menjadi Menlumenggantikan Ali Sastroamidjojo. Yang unik adalah bahwa Ali turun jabatanmenjadi Dubes RI untuk AS di Washington.

Setahunkemudian saya dipanggil oleh Bung Karno. Setelah menghadap, Bung Karno berkatademikian: Bandrio, kamu saya tunjuk menjadi Perdana Menteri. Saya kaget. Itumerupakan suatu loncatan jabatan yang luar biasa – dari Sekjen Deplu menjadiPerdana Menteri. Menanggapi ini saya mengatakan, minta waktu berpikir.

Sesungguhnyasaya menolak tawaran itu. Saya merasa tidak enak dengan para senior saya.Memang, saya merasa Bung Karno menaruh simpati pada saya. Tolok ukurnya adalahbahwa Bung Karno sering menugaskan saya membuat naskah pidatonya. Bahkan, padasuatu hari Bung Karno berpidato di Markas PBB. Sebelum tampil Bung Karnomeminta saya membuatkan naskah pidato, padahal saya di Jakarta. Namun, tugasitu tetap saya laksanakan. Walaupun saya jarang bertatap muka dengan BungKarno, terasa sekali dia bersimpati pada saya. Tapi, saya merasa belum mampumenjadi Perdana Menteri. Apalagi saya belum lama pulang ke tanah air, sehinggasaya kurang memahami perkembangan situasi terakhir.

Menolaktawaran Bung Karno juga tidak enak. Lantas jalan keluarnya adalah bahwa sayabicara dengan Ketua PNI Suwito. Saya minta tolong Suwito menghadap Bung Karno,untuk menyampaikan keberatan saya. Sambil menyampaikan ini ia mengusulkan namaDjuanda. Ternyata Bung Karno setuju. Jadilah Djuanda Perdana Menteri. Untukmenjalankan tugasnya dia dibantu oleh presidium yang disebut Wakil PerdanaMenteri (Waperdam). Ada dua Waperdam, yakni Waperdam-I Idham Khalid danWaperdam-II Hardi. Selanjutnya saya menjadi Menlu menggantikan Roeslan.

SetelahDjuanda meninggal dunia, tiga menteri dipanggil oleh Bung Karno – saya sendiri,Menteri Pangan Leimena, dan Menteri Pemuda Chaerul Saleh. Tujuannya adalahuntuk mencari pengganti Djuanda dari tiga menteri ini. Proses pemilihannya uniksekali, sehingga tidak saya lupakan.

Bung Karnomemberi kami masing-masing tiga batang korek api. Semula kami bingung. BungKarno menyatakan bahwa ini pemilihan yang adil dan demokratis. Masing-masingdiberi sebatang korek utuh, setengah batang tanpa pentolan (karena sudahdipatahkan oleh Bung Karno), dan setengah batang dengan pentolan (juga sudahdipatahkan sebelumnya). Bung Karno meletakkan sebuah kantong di meja.

Cara permainannya,batang korek utuh merupakan simbol saya, setengah batang tanpa pentolan menjadisimbol Leimena, dan setengah batang dengan pentolan mewakili Chaerul. BungKarno minta, masing-masing memilih satu saja untuk dimasukkan ke dalam kantong.Saat memasukkan korek ke kantong, tangan harus menggenggam supaya tidakdiketahui yang lain. Pemilihan pun dimulai.

Sayamemasukkan setengah batang korek tanpa pentolan. Artinya, saya memilih Leimena.Lantas disusul Leimena dan Chaerul. Meskipun bentuknya sangat seder-hana,tetapi inilah pemilihan Perdana Menteri Indonesia. Suasana hening. Bung Karnomemandang masing-masing menteri yang memasukkan korek ke sebuah kantong. Sampaisemuanya menggunakan hak pilihnya.

Apa yangterjadi berikutnya? Bung Karno menumpahkan isi kantong itu secara blak-blakan.Yang tampak: sebatang korek utuh, setengah batang tanpa pentolan, dan setengahbatang dengan pentolan. Lengkap. Bung Karno geleng-geleng kepala. Hasil suaraseimbang untuk tiga kandidat. Pemilihan macet. Kami saling meman-dang satu samalain. Lantas kami saling terbuka. Saya pilih Leimena, sebaliknya Leimena pilihsaya, Chaerul pilih dirinya sendiri.

Leimenakemudian bicara. Sebaiknya Soebandrio menjadi Perdana Menteri. Alasannya,Indonesia butuh perhatian penuh di bidang luar negeri. Terutama menyangkutIrian Barat yang statusnya belum jelas. Untuk itu perlu diplomasiinternasional. Orang yang tepat adalah Soebandrio, ujarnya. Bung Karno ternyatasetuju dan memanggil ajudannya Brigjen Sabur untuk menuliskan keputusan dikertas kop kenegaraan.

Sebelumterlaksana, saya minta bicara. Saya katakan, tidak perlu merombak kabinet.Sebaiknya Bung Karno selain Presiden juga Perdana Menteri didampingi oleh paraWaperdam. Nah, Waperdamnya adalah kami bertiga. Bung Karno juga setuju. LaluLeimena main tunjuk, saya Waperdam-I, Leimena Waperdam-II, ChaerulWaperdam-III. Hebatnya, tanpa banyak bicara lagi semuanya sepakat.

Tidak lamakemudian saya dibebani satu tugas lagi sebagai Kepala BPI. Maka, saya merangkaptiga jabatan. Semakin jelas bahwa Presiden mempercayai saya. Walaupun cukupberat, namun saya laksanakan tugas-tugas yang diberikan. Saya masih sempatmelaksanakan ibadah haji.

Sebagaiimbalan, selain digaji, saya juga diberi rumah cukup di Jalan Imam Bonjol 16,Menteng, Jakarta Pusat. Untuk ukuran saat itu rumah tersebut sudah cukup mewah.Di rumah itu pula saya memiliki perpustakaan. Kelak perpustakaan saya inidihancurkan oleh penguasa Orde baru.

Tahun 1958anak saya yang pertama lahir, dan kami beri nama Budojo. Ternyata hanya ituanak saya, sebab dia tidak punya adik lagi.

Saat sayamenjadi pejabat tinggi negara, ada yang unik. Saya menjadi tukang khitanbeberapa anak pejabat. Ceritanya, para pejabat itu tahu bahwa saya adalahdokter ahli bedah. Saat itu sudah banyak dokter ahli bedah. Tapi, entah mengapamereka minta tolong saya untuk mengkhitankan anak mereka. Ada beberapa anakpejabat yang sudah saya khitan. Saya hanya menolong mereka dengan ikhlas.

Sejakmengundurkan diri dari RS, saya tidak pernah praktek dokter pribadi. Beberapateman menyayangkan bahwa saya tidak buka praktek. Sebab, saat itu jumlah doktermasih sedikit. Tetapi, karena sudah menjadi niat saya untuk terjun ke dalamkancah politik, saya tinggalkan bidang pekerjaan yang sebenarnya sesuai denganbidang pendidikan saya itu. Ya, saya harus memilih, dan saya sudah menentukan.Jadinya, saya hanya menjadi tukang khitan anak pejabat.

Sepanjangsaya menjadi pejabat tinggi negara, memang ada beberapa tokoh PKI yang akrabdengan saya. Sebagai pejabat tentu saya akrab dengan pimpinan PKI, DN Aidit.Juga dengan beberapa tokoh PKI lainnya. Tetapi, saya tidak masuk ke dalamkeanggotaan partai itu. Saya juga tidak aktif di PSI, sejak menjadi pejabatnegara. PKI saat itu adalah partai besar. Mereka tentu memiliki ambisi politiktertentu, sehingga mereka tidak hanya mendekati saya, tetapi juga pejabattinggi negara lainnya, termasuk Bung Karno. Bahkan, beberapa tokoh PKI masuk kedalam jajaran kabinet. Banyak juga di ABRI. Sebab, PKI saat itu memang partai besardan legal. Jadi, wajar kalau tokohnya duduk di kabinet dan ABRI.

Sebagaigambaran, salah satu partai besar saat ini (tidak perlu saya menyebut namanya)menempatkan tokohnya di jajaran kabinet. Bahkan, ada yang masuk ke jajaranABRI. Bukankah itu hal yang wajar? Dan, kalau para pimpinan partai itumendekati pimpinan puncak, presiden dan orang-orang terdekatnya, juga wajar.Kondisinya berubah menjadi tidak wajar setelah partai tersebut dinyatakansebagai partai terlarang. Itulah PKI.

Saat G30Smeletus - seperti sudah saya sebutkan di muka - saya sedang bertugas di Medan.Kami keliling daerah untuk memantapkan program-program pemerintah. Begitu sayadiberitahu oleh Presiden Soekarno, saya langsung pulang, dan tiba di istanaBogor bergabung dengan Presiden Soekarno pada 3 Oktober 1965. Setelah itukondisi negara tidak menentu. Presiden Soekarno sudah menjadi tawanan Soehartodi Istana Bogor sejak 2 Oktober 1965.

Sejak itupula kelompok Bayangan Soeharto menyebarkan propaganda bahwa G30S didalangioleh PKI. Ketua PKI, DN Aidit, ditembak mati di Jawa Tengah. Namun munculpengakuan tertulis Aidit – yang sangat mungkin merupakan rekayasa – bahwa iayang mendalangi G30S. beberapa tokoh PKI lainnya juga ditembak mati, tanpaproses pengadilan. Semua ini adalah cara untuk membungkam PKI, agar tidakbicara. Memang, pada 1 Oktober 1965 Aidit berada di Halim, pusat pasukan G30Sberkumpul. Namun, saya dengar istri Aidit mengatakan bahwa pada tanggal 30September 1965, malam hari, Aidit diculik dan dibawa ke Halim. Aidit terbang keYogyakarta, beberapa saat setelah Bung Karno meninggalkan Halim.

Saya sangatyakin bahwa dalang G30S bukan Aidit. Saya ingat saat saya dan Aidit sama-samamenjenguk Bung Karno yang sedang sakit. Setelah saya periksa, Bung Karnoternyata hanya masuk angin. Tetapi, disebarkan isu bahwa Bung Karno sedangsakit berat, paling tidak bisa lumpuh. Isu tersebut merupakan propaganda yangditujukan untuk konsumsi publik di luar PKI. Sebab, PKI pasti mengetahui,karena Aidit bersama saya menjenguk Bung Karno. Propaganda itu bertujuan untukmemberi alasan keterlibatan PKI dalam G30S. Propaganda itu akan membangun opinipublik bahwa PKI bergerak merebut kekuasaan sebelum didahului oleh pihak lain,mengingat sakit kerasnya Bung Karno.

Yangmengetahui rahasia ini hanya Bung Karno, Aidit, dokter RRC yang didatangkanoleh Aidit dari Kebayoran-Baru, Jakarta, Dokter Leimena, dan saya sendiri.Tanpa berniat membela Aidit, saya yakin bahwa bukan Aidit yang mendalangi PKI,sebab saya tahu persis. Kalau Aidit mendukung pembunuhan anggota DewanJenderal, memang ya. Dalam suatu kesempatan, saya dengar Aidit mendukunggerakan membunuh anggota Dewan Jenderal yang dikabarkan akan melakukan kudetaterhadap Presiden. Sebab, kalau sampai Presiden terguling oleh kelompok militer,maka nasib PKI selanjutnya bakal sulit. Tetapi, Aidit hanya sekadar mendukungdalam bentuk ucapan saja.

Tetapiakhirnya propaganda Soeharto melalui media massa sukses. Kesan bahwa PKImendalangi G30S melekat di benak publik. Malah diperkaya dengan ceritapembantaian para jenderal di Lubang Buaya oleh kelompok Gerwani yangmenari-nari sambil menyiksa para jenderal. Dikabarkan bahwa mata para jenderaldicungkil, kemaluannya dipotong, tubuhnya disayat-sayat. Penyiksaan keji inidiberi nama Upacara Harum Bunga – suatu nama yang sangat kontras dengankekejiannya. Sungguh suatu cerita yang mengerikan.

Cerita inidiperkuat dengan pengakuan seorang wanita bernama Jamilah dan kawan-kawan yangmengaku sebagai orang Gerwani. Saya tidak tahu, siapa Jamilah itu. Tetapicerita ini dipublikasikan oleh pers yang sudah dikuasai Soeharto. Dalam sekejapkemarahan rakyat terhadap PKI tersulut.

Padahal,cerita yang disebarkan Soeharto itu semua bohong. Terbukti, setelah Soehartotumbang, para dokter yang membedah mayat para jenderal dulu bicara di televisi:mayat para jenderal itu utuh, Sama sekali tidak ada tanda-tanda penyiksaan.Memang kulit mayat terkelupas, tetapi berdasarkan penelitian, itu karena mayattersebut terendam di dalam air (sumur) selama beberapa hari.

Saya bukanPKI. Memang, saya pernah menyerukan penghentian pembantaian terhadap pimpinandan anggota PKI oleh AD pada pertengahan Oktober 1965. Itu saat-saat awal PKIdibantai. Seruan saya ini atas perintah Presiden Soekarno yang tidakmenghendaki pertumpahan darah. Bung Karno saat itu masih memegang kendali.Beberapa jam setelah G30S meletus, ia memerintahkan agar semua pasukan bersiapdi tempatnya. Jangan ada yang bergerak di luar perintah Presiden. Sebab, padadasarnya Bung Karno tidak menghendaki pertumpahan darah. Namun perintahPresiden tidak digubris. Seruan saya juga tidak dihiraukan. Pambantaian PKIterus berlangsung.

Malah, sejakitu saya dicap sebagai pro-PKI. Apalagi saya pernah ditugaskan di Moskow. Sayajuga pernah ditugaskan berkunjung (sebagai Menlu) ke Beijing, RRC dan diberitawaran bantuan senjata gratis oleh pimpinan RRC. Sedangkan Moskow dan Beijingadalah poros utama komunis. Dari rangkaian tugas-tugas kenegaraan saya itulantas saya dicap pro-PKI. Saya sebagai pejabat tinggi negara saat itu tidakdapat berbuat banyak menanggapi cap tersebut. Sebab, bukankah semua itu karenasaya menjalankan tugas negara?

Saya merasacap PKI menjadi mengerikan bagi saya, setelah PKI dibantai habis-habisan. PadaSidang Kabinet 11 Maret 1966 di Istana Negara saya menjadi incaran pembunuhantentara, meskipun saat itu saya masih pejabat tinggi negara. Ketika IstanaNegara dikepung oleh pasukan Kostrad pimpinan Kemal Idris dibantu oleh pasukanRPKAD (kelak berubah menjadi Kopassus) pimpinan Sarwo Edhie, jelas sayadiincar. Dari laporan intelijen, saya diberitahu bahwa Kemal Idris bersamapasukannya akan membunuh saya. Itu juga atas persetujuan Soeharto. Tetapiakhirnya saya lolos.

Beberapahari setelah itu baru 15 menteri ditangkap, termasuk saya. Jika sebelumnya cappro-PKI terhadap diri saya tidak terbuka, sejak saya ditangkap cap itu semakinmenyebar secara luas. Malah, Soeharto menambahi julukan baru bagi saya: Durno.Sebagai orang Jawa, tentu saya sangat sakit hati diberi julukan itu. Sebab,Durno adalah tokoh culas dalam pewayangan. Durno suka mengadu-domba. Soaljulukan ini saya tidak tahu bagaimana asal-usulnya. Yang tahu tentu hanyaSoeharto. Tetapi, ini memang bagian dari penghancuran diri saya sebagaipengikut setia Bung Karno. Dan, julukan Durno bagi saya baru muncul setelahsaya ditahan, setelah Bung karno mendekati ajal politiknya.

Di dalampenjara, saya sama sekali tidak disiksa secara fisik. Kalau disiksa mental,sudah jelas. Interogasi tak habis-habisnya hanya untuk tujuan menjatuhkan mental.Sebagai mantan pejabat tinggi negara, saat itu mental saya sudah jatuh. Daripemegang kekuasaan negara berubah menjadi orang tahanan. Mungkin saya mengalamidepresi. Istri saya tentu mengalami hal yang sama. Anak saya satu-satunya masihkecil.

Saya diadilidi Mahmilti tidak lama kemudian. Tetapi, anehnya dakwaan buat saya bukansebagai PKI atau terlibat G30S. Sama sekali tidak menyinggung dua hal pokokitu. Padahal, saya sudah dicap pro-PKI. Saya sudah dijuluki Durno.

Saya diadilikarena ucapan saya bisa menimbulkan kekacauan saat saya berkata: Kalau adateror, tentu bakal muncul kontra-teror. Beberapa setelah G30S meletus, parapemuda yang dimanfaatkan AD mendesak agar Bung Karno diadili. Mereka didukungoleh AD untuk melakukan demonstrasi dan melancarkan teror bagi Bung Karno sertapara pendukungnya. Suatu saat saya mengatakan, jika ada teror (dari parapemuda) maka bakal muncul kontra-teror (entah dari mana).

Nah, ucapansaya ini dinilai bisa memancing kekacauan. Saya dituduh melakukan subversi.Sidang berlangsung singkat, lantas saya dijatuhi hukuman mati. Benar-benarpengadilan sandiwara. Mereka gagal membunuh saya secara terang-terangan diSidang Kabinet 11 Maret 1966, toh mereka bisa membunuh saya secara’konstitusional’ di pengadilan sandiwara ini. Naik banding dan kasasi sayatempuh sekadar semacam reflek menghindari kematian. Namun upaya hukum itupercuma. Sebab, pengadilannya saja sudah sandiwara.

Dan,pengadilan sandiwara di banyak kasus seputar G30S dan PKI di awal kepemimpinanSoeharto, kemudian berdampak sangat buruk bagi Indonesia. Sejak itu sampaisekarang, pengadilan sandiwara merupakan hal lumrah. Pengadilan sandiwara kasusseputar G30S merupakan semacam yurisprudensi (rujukan) bagi serentetan amatpanjang pengadilan sandiwara berikutnya. Moral aparat hukum rusak berat.Pengadilan berbagai kasus di-subversi-kan berikutnya: Tanjung Priok, Lampung,demonstrasi mahasiswa yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru, diadili denganpengadilan sandiwara merujuk G30S. Bahkan juga kasus-kasus korupsi. Salahmenjadi benar, benar menjadi salah.

Ini samasekali bukan pelampiasan dendam saya terhadap Soeharto. Tak kurang Presiden KHAbdurrahman Wahid (tidak ada hubungannya dengan saya) sampai melontarkanpernyataan bahwa seluruh hakim Jakarta akan diganti dengan hakim impor.

Di dalampenjara, awalnya saya mengalami depresi. Kesalahan saya satu-satunya adalahmenjadi pengikut setia Bung Karno. Namun kemudian saya tidak menyesal menjadipengikut setia Bung Karno, sebab itu sudah menjadi tekad saya. Dan, inimerupakan risiko bagi semua orang yang berkecimpung di bidang politik.

Saya masuksel isolasi, terpisah dengan napi lain. Meskipun saya tidak disiksa fisik,namun direkayasa sedemikian rupa sehingga batin saya benar-benar tersiksa.Kondisi penjara yang sangat buruk, suatu saat membuat perut saya terluka danmengalami infeksi. Saya tahu, itu obatnya sederhana saja. Tetapi, pemerintahtidak menyediakan. Luka saya dibiarkan membusuk digerogoti bakteri. Ketika lukasaya sudah benar-benar parah (berulat), baru diberi obat. Rupanya pemberianobat yang terlambat itu memang disengaja. Akibatnya, luka memang sembuh. Namunsampai kini sering kambuh, rasa nyeri luar biasa.

Di dalam,saya dilarang menulis, membaca berita, dijenguk keluarga atau teman (barubeberapa tahun kemudian dibolehkan). Satu-satunya bacaan saya adalah ayat suciAl-Qur’an. Tetapi, bacaan ini seperti mengembalikan saya pada suasana masakanak-kanak yang agamis. Saya malah mendapatkan ketenangan jiwa yang tidak sayarasakan ketika saya menjadi pejabat tinggi negara.

Akhirnyasaya lolos dari hukuman mati karena kawat dari dua petinggi negara adidaya, ASdan Inggris. Hukuman saya diubah menjadi seumur hidup. Tetapi saya tetapditempatkan di sel isolasi mulai dari Salemba (Rutan Salemba), LP Cimahi,sampai LP Cipinang.

Pada tahun1978 anak saya Budojo meninggal dunia karena serangan jantung. Ibunyabenar-benar mengalami depresi berat. Sejak saya dihukum, hanya Budojo yangmembuat ibunya tabah menghadapi cobaan. Saya bisa membayangkan, betapa isterisaya hidup nelangsa. Dari seorang istri pejabat tinggi negara, menda-dakberubah menjadi ’istri Durno’, disusul anak satu-satunya pun meninggal dunia.Maka, beberapa bulan kemudian istri saya menyusul Budojo, berpulang kerahmatullah. Tinggallah saya sendiri. Tetap kesepian di penjara. Tidak ada lagiyang menjenguk.

Tetapi,diam-diam ada seorang wanita yang bersimpati pada saya. Dia adalah mantanisteri Kolonel Bambang Supeno. Bambang adalah perwira tinggi AD yang ikutmendukung G30S atas instruksi Soeharto. Namun, seperti nasib perwira pelakuG30S lainnya, Bambang dihukum dan akhirnya meninggal dunia. Istrinya, SriKoesdijantinah, janda dengan dua anak, lantas bersimpati pada saya. Kamiakhirnya menikah di LP Cipinang pada tahun 1990. Saya sangat kagum pada Sriyang rela menikah dengan narapidana. Sangat jarang ada wanita setulus dia.

Kini hidupsaya tidak sendiri lagi. Meskipun saya tetap meringkuk di sel khusus, tetapisetiap pekan ada lagi orang yang menjenguk, setelah bertahun-tahun kosong. Srimuncul di saat semangat hidup saya nyaris padam. Setiap pekan dia membawa-kansaya nasi rawon kesukaan saya. Juga dua orang anak Sri sangat perhatian. kepadasaya. Sebagai sesama korban Soeharto, kami menjadi bersatu. Saya lantas menjadisadar bahwa bukan hanya saya korban kekejaman Soeharto. Ada banyak korban lainyang jauh lebih sengsara dibanding saya. Sri benar-benar membuat hidup sayabersinar kembali.

Pada tanggal16 Agustus 1995 saya dibebaskan. Saya pulang bersama Sri dan anak-anak. Kamimenempati rumah besar di Jalan Imam Bonjol 16 yang dulu saya tinggalkan. Sayaseperti bangun tidur di pagi hari. Saya seperti baru saja bermimpi, 30 tahundalam kegelapan di penjara. Saya seperti menemukan hari baru yang cerah. Sayabersujud syukur alhamdulillah, masih diberi kesempatan menghirup udara bebas.

Setahunmenempati rumah itu, kami merasa kewalahan. Biaya perawatannya sangat mahal.Sebagai seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, honor Sri tidakseberapa. Apalagi saya, penganggur tanpa penghasilan. Tiga jabatan sangatpenting saya di zaman Presiden Soekarno tidak dihargai sama sekali. Saya tidakdiberi uang pensiun. Akhirnya kami menjual rumah besar itu. Sebagai gantinya,kami membeli rumah lebih kecil di Jakarta Selatan.

Setelah Soehartotumbang, banyak orang datang kepada saya, menganjurkan saya membuat memoar.Saya sesungguhnya tidak tertarik. Selain tidak memiliki persiapan yang matang,juga tidak ada gunanya bagi saya mengungkap masa lalu. Biarlah itu berlalu. Tohsaya sudah menjalani hukuman 30 tahun. Toh saya sudah menerima hinaan disebutDurno, PKI, dan sebagainya. Saya sudah ikhlas menerimanya. Saya sudah legowo.Usia saya sudah senja. Tinggal meningkatkan amal soleh dan ibadah, sebagaibekal menghadap Sang Khalik, suatu saat nanti. Apalagi Soeharto akhirnyatumbang juga. Kalau saya mengungkap masa lalu, saya bisa larut dalam emosi.Maka, anjuran itu tidak saya turuti.

Namun,teman-teman sezaman, baik dari dalam maupun luar negeri terus menghu-bungisaya, baik melalui telepon maupun bertemu langsung. Mereka mengatakan, sejarahG30S sudah dibengkokkan. Kata mereka, saya harus mengatakan yang sebenarnyauntuk meluruskan sejarah. Ini bukan untuk anda, tapi penting bagi generasi mudaagar tidak tertipu oleh sejarah yang dimanipulir, kata salah seorang darimereka.

Diinformasikanbahwa salah satu pelaku sejarah G30S yang amat penting, Kolonel Abdul Latiefjuga membuat buku berisi pledoinya dulu. Tetapi ada dugaan bahwa Latief tidakmengungkap total misteri G30S. Sebab, Mingguan terbitan Hongkong, Far EasternEconomic Review edisi 2 Agustus 1990 memberitakan bahwa memoar Latief yanglengkap disimpan di sebuah bank di luar Indonesia dengan pesan, bolehdipublikasikan jika Latief dibunuh. Itu berarti G30S masih misteri.

Saya sempatbimbang. Keinginan saya mengubur masa lalu seperti digoyang begitu kuat.Apalagi banyak penulis kenamaan datang kepada saya, siap menuliskan memoarsaya. Dalam kebimbangan itu saya ingat pada seorang wartawan muda yang palingsering mewawancarai saya, Djono W. Oesman. Dia saya hubungi dan saya mintamenuliskan cerita saya, sebab saya percaya padanya. Dia pun setuju. Dialahpenyunting tulisan ini. Hanya saya dan dia yang menyusun potongan-potonganperistiwa yang saya alami dan saya ingat.

Sayamenyadari bahwa mungkin banyak kekurangan di dalam tulisan ini. Maklum, G30Sadalah masalah internal AD, dan saya bukan dari AD. Tetapi saya adalah pelakusejarah G30S yang mengalami semua kejadian sebelum, saat meletus, sampai dampakperistiwa itu.

Mungkin,inilah sumbangan saya, bagian dari amal ibadah untuk bekal kehidupan saya diakhirat kelak. Semoga ada manfaatnya. Aamiin yaa Robbal Alam
— bersama Baul Muhammad Nasrullah dan Timur Saja.

No comments:

Post a Comment