Monday, July 25, 2016

etika Jiwa Raga

. . karena kita ini hidup dalam Raga maka lebih baik lah bila bisa lebih bersahabat dengan Raga , dengan santun merawat dan menyayanginya , sering2lah ajak bicara organ2 raga ini dan berterima kasihlah , minta maaflah bila merasa salah dalam memperlakukannya . . tanamkan sugest yang baik sehat dan membangun maka raga akan jadi semakin hidup , apalagi bila Jiwanya juga Hidup dan dibangkitkan , Aku , Rasa Diri , Jiwa dan Raga hidup dalam kebersamaan . . .

URIP IKU URUP


Ada itu hampa, hampa itu ada...
1. Urip Iku Urup
2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dhur angkoro
3. Suro Diro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti
4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpo Bondho
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman
7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
8. Ojo Keminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak Ciloko
9. Ojo Milik Barang Kang elok, Aja Mangro Mundak Kendo
10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguna

Hidup itu memberi... Menambahkan indahnya dunia, membasmi angkara... Dengan kewelasasihan... Kerendahhatian... Rasa syukur dan ikhlas... Mengalahkan susah dan senang dalam diri... Mengalahkan keterikatan dan kemelekatan pada segala yang di luar diri... Amin...
Bagi yang paham mati sajroning urip, urip sajroning mati (mati dalam hidup, hidup dalam mati) tentunya paham.
Bagi yang masih belum, berikut uraian saya : Manusia diciptakan mengenal kebaikan dan berhati nurani, karena penciptanya adalah Maha Pengasih. Bila anda memberikan sesuatu dalam nama kasih sayang tentunya tidak berharap balik bukan?
Dari sini saya ingin mengemukakan bahwa sebenarnya manusia itu kalau mengenal kasih sayang minim atau bahkan nihil pamrihnya, hanyalah kasih sayang dan harapan baik pamrihnya. Ini juga penjelasan bagi uraian tentang bahwa walaupun kita melakukan sesuatu tanpa mengharap sebetulnya kita sudah mengharapkan.
Nah bagi manusia yang ingin menemukan dirinya yang sejati, maka tambahkan syukur dan ikhlas, agar semakin bebas pamrih, mencari ketiadaan (tiada ego atau pamrih), dan sekaligus mencari ada (perwujudan cinta kasih yang murni sebagai pengejawantahan jati diri manusia sejati). Maka didalam tiadanya ego (hidup yang mati, mati kehendak pribadinya), ada sifat sejati manusia (hidup yang sebenarnya, seutuhnya). Dibalikpun maknanya tetap sama, sifat sejati manusia (hidup yang sebenarnya) ada dalam tiadanya ego (matinya pamrih). Semoga berkenan.

Monday, July 11, 2016

Bawah Sadar . .

. . menurut saya , sebenarnya lewat aliran kepercayaan apapun , agama apapun , tarekat apapun . .bekerjanya kekuasaan Tuhan kepada manusia itu adalah lewat Batin Bawah Sadar . . kuasailah itu . .

Sunday, July 10, 2016

mengenali diri . .

. . sebenarnya makna perjalanan hidup secara spiritual ini adallah mengenali dan memahami dirinya sendiri dan selalu memperbaikinya sebagai bakti kepada Tuhan Semesta Alam , lebih dalamnya lagi kenal dan berkomunikasi dengan Jiwa yang terbangkitkan sampai bisa melayani Jiwa sebagai majikan karena Jiwa adalah Dzat Allah dalam diri manusia . . .

Saturday, July 9, 2016

Angan dan Pikiran

. . Iya . . Angan2 dan pikiran itu selalu tergoda terbawa rasa ingin baik sendiri , bisa sendiri , memiliki sendiri . .macem2 lah . Sedangkan kalau fokus menghadap Tuhan itu fokusnya satu , dan bila mendapat sesuatu inginnya adalah berbagi bukan ingin dimilikinya sendiri . .

Bawah Sadar

Bawah Sadar
. . memelihara pikiran Iri dan suka mencela adalah sangat merusak karena menempatkan kita di keadaan negatip maka hasrat dan kekayaan akan kabur bukannya mendatangi , tapi bila mau mendoakan agar mereka bisa lebih baik dan lebih makmur lagi akan bisa menetralisir dan akan mengalirkan kebaikan , kekayaan yang lebih besar lagi . . sesuai hukum Batin Bawah Sadar sendiri . .
hal inilah yang paling sulit karena sebenarnya kita suka mencela karena iri . .

pikiran intuitif adalah rahmat

Pemikiran yang intuitif adalah rahmat dan pemikiran yang rasional adalah pelayan yang meyakinkan.Kita telah membangun masyarakat yang lebih menghargai pembantu dan melupakan rahmat.(Albert Einstein) . . . bagaimana sampai bisa Jiwa menjadi Majikan dan kita beserta akal pikir hanya sebagai Pelayan . .