Tuesday, September 11, 2012

Kejiewaan dan Batin Bawah Sadar


. . tiap gambaran mental yg disertai kepercayaan dan pen yerahan diri akan menjadi kenyataan karena berkah Tuhan lewat batin bawah sadarmu , karena harapan doa dan Latihan.
Jawaban tidak selalu dalam satu malam ,jangan terlalu dipikirkan karena jawabannya selalu . . nanti . . jadi bersabarlah
1

Kejiwaan dan Batin Bawah Sadar


. . sebenarnya salah satu hakekat Latihan Kejiwaan adalah Pembersihan dari gambaran bawah sadar negatip yg terdahulu sampai tergantikan menjadi gambaran bawah sadar positip seperti yg dikehendaki Tuhan. dan Latihan itu sendiri adalah melatih mengosongkan bekerjanya nafsu dan akal pikir . .
2

Kejiwaan dan Batin Bawah Sadar


. . . tiap malam sebelum tidur ku serah diri Latihan,setelahnya ku berfikir tentang kesehatan sempuna,kusampaikan ide itu dng penuh cinta,penuh perasaan kepada batin bawah sadar sampai ku tidur pulas. bawah sadarku akan mematuhiku krn dia akan memberiku tanggapan yg sesuai,dia adlh faal pembentuk badan dan kesehatanku jg menyembuhkanku.
Hukum Hidup adalah kepercayaan yg meresap dan bekerja dalam batin bawah sadar .

Sunday, September 2, 2012

Lir Ilir dari Tqn Depok


Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh penganten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak’0 surak hiyo

Makna yang terkandung lagu di atas adalah sbb:

Lir-ilir, Lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo (Demikian menghijau)
Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)

Makna: Sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan dengan Tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.

Cah angon, cah angon (Anak gembala, anak gembala)
Penekno Blimbing kuwi (Panjatlah (pohon) belimbing itu)
Lunyu-lunyu penekno (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat)
Kanggo mbasuh dodotiro (untuk membasuh pakaianmu)

Makna: Disini disebut anak gembala karena oleh Alloh, kita telah diberikan sesuatu untuk digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya? Si anak gembala diminta memanjat pohon belimbing yang notabene buah belimbing bergerigi lima buah. Buah belimbing disini menggambarkan lima rukun Islam. Jadi meskipun licin, meskipun susah kita harus tetap memanjat pohon belimbing tersebut dalam arti sekuat tenaga kita tetap berusaha menjalankan Rukun Islam apapun halangan dan resikonya. Lalu apa gunanya? Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita yaitu pakaian taqwa.

Dodotiro, dodotiro (Pakaianmu, pakaianmu)
Kumitir bedah ing pinggir (terkoyak-koyak dibagian samping)
Dondomono, Jlumatono (Jahitlah, Benahilah!!)
Kanggo sebo mengko sore (untuk menghadap nanti sore)

Makna: Pakaian taqwa kita sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk itu kita diminta untuk selalu memperbaiki dan membenahinya agar kelak kita sudah siap ketika dipanggil menghadap kehadirat Alloh SWT.

Mumpung padhang rembulane (Mumpung bulan bersinar terang)
Mumpung jembar kalangane (mumpung banyak waktu luang)
Yo surako surak iyo!!! (Bersoraklah dengan sorakan Iya!!!)

Makna: Kita diharapkan melakukan hal-hal diatas ketika kita masih sehat (dilambangkan dengan terangnya bulan) dan masih mempunyai banyak waktu luang dan jika ada yang mengingatkan maka jawablah dengan Iya!!!…… Lir ilir, judul dari tembang di atas. Bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.

Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita coba mengupas maknanya

Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.

dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.

Yo surako surak hiyo. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)

Friday, August 31, 2012

Bapak Talks 64

Bapak: Sebenarnya ini sudah selalu Bapak katakan dalam talk.
Bahwa Latihan Kejiwaan ini adalah latihan yang datang dari kekuasaan Tuhan pada setiap pengaruh nafsu yang bersarang dalam hati dan otak manusia tidak bekerja. Dengan demikian sehingga perkembangan dan kemajuan Latihan yang diterima, tidak tergantung pada pengetahuan, tidak tergantung pada
kepandaian, tidak tergantung pada pengalaman otak yang telah lama dialami. Malahan diperlukan sekali, agar pengalaman-
pengalaman yang telah diterima sebelum masuk Subud atau sebelum menerima Latihan Kejiwaan ini, dibuang jauh-jauh,
disingkirkan jauh-jauh, dikosongkan jauh-jauh. Jadi yang menyebabkan hingga kemajuan dalam Latihan ini terhambat, bukannya karena ada cacat dalam pancainderanya dan juga
tidak sebab kurangnya kennis2, tetapi karena justru banyak kennis yang diterima, sehingga malah menjadi penghalang bagi kemajuan jiwa maupun perkembangannya.

Sebagaimana saudara tahu, bahwa gerak-gerak yang
diterima, itu sebenarnya merupakan pembersihan. Jadi, gerak itu adalah gerak untuk membuang kekotoran dan kesalahan yang ada di dalamnya. Dan itu dibutuhkan sekali, karena memang dengan gerak itu, agar terlepas. Demikian juga halnya dengan sifat benda. Benda itu tidak akan bersih, menjadi bersih dan kekotoran di dalamnya tidak akan dapat keluar dan juga tidak akan dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, misalnya … umpama saja tanah: di dalam tanah ada besinya; di
dalam tanah ada emasnya; di.dalam tanah ada peraknya dan ada lain-lain mijnen3, itu kalau tidak dibersihkan, tidak digerakkan
secara di- analiseer4, mungkin tidak bisa dapat diketahui mana yang sebenarnya tanah dan mana pula yang sebenarnya besi
dan emas dan perak dan lain-lainnya.
Demikian juga halnya dengan kejiwaan, dengan rasa diri.
Rasa diri perlu dibersihkan, perlu dipisahkan, agar mana yang ini, mana yang itu. Sehingga saudara nanti dapat merasakan:
inilah yang baik, inilah yang tidak. Lha, karena soal kejiwaan itu adalah soal Tuhan, hanya Tuhan yang dapat mengerjakan itu. Karena perubahan, pergantian jiwa dari yang tidak baik jadi baik; dari yang kecil jadi besar; dari yang sempit menjadi luas, itu menghendaki kematian. Sudah tentu, apabila saudara
kerjakan sendiri, saudara dapat mati, tetapi malah tidak dapat apa-apa. Sedangkan dikerjakan oleh Tuhan, tidak demikian.
Tuhan dapat, karena Tuhan Maha Kuasa, sehingga dapat
merubah jiwa manusia, sedangkan manusia masih hidup.
Itulah bedanya dengan pekerjaan manusia yang Bapak katakan tadi seperti memisahkan antara tanahnya, besinya, emasnya, perak dan lain-lainnya. Jadi, dalam Latihan Kejiwaan yang saudara terima, sebenarnya itu adalah suatu analisa yang
dikerjakan oleh Tuhan sendiri, bukan oleh manusia.
Jadi, terangnya, tidak perlu dikuatirkan, saudara. Karena
rasa yang kuatir, pikiran yang bimbang, disebabkan karena belum dapat pegangan yang benar, dan belum terasa bagaimana pekerjaan yang di dalam. Malahan yang demikian itu membuntu
dan melambatkan jalannya pembersihan.

Demikian bukan jauh-jauh, sebagai contohnya Bapak sendiri. Telah Bapak seringkali mengatakan, bahwa Bapak tidak mempelajari soal itu. Tetapi hanya menyerah kepada Tuhan dengan kekosongan, percaya kepada kebesaran Tuhan, sehingga Bapak terima itu perpisahan-perpisahan yang bekerja dalam rasa diri. Dan Bapak terima dengan sungguh-sungguh dan menginsafi bagaimana jalannya daya ini dan jalannya daya itu. Dan juga bagaimana jalannya pikiran; pikiran atau otak yang digerakkan oleh kemauan, oleh nafsu; yang otak digerakkan tidak dengan nafsu. Sebagai contoh demikian telah Bapak alami. Maka Bapak percaya sekali, bahwa dengan kesabaran, dengan ketawakalan, dengan keikhlasan dan juga dengan penyerahan yang sebenar-
benarnya, saudara akan dapat menerima, meskipun tidak sejauh apa yang telah Bapak terima – umpamanya – akan dapat menerimanya ini. Dan ini telah dapat dibuktikan oleh di antara
– mungkin tidak salah satu – mungkin di antara para saudara yang ada di sini, telah dapat membuktikan itu.

(Cuplikan, Bapak Talks)
THE HAGUE
1 SEPTEMBER 1964

Bapak Talks 64

Pada hakikatnya, gerak yaitu Latihan Kejiwaan yang
saudara terima dan lakukan, adalah kunci daripada segala
macam, artinya kunci hidup manusia. Justru itulah, saudara,
yang dicari manusia, yang dicari oleh banyak manusia sehingga
mereka mengutamakan mencari Tuhan daripada mencari
dunia; mereka mengutamakan menyepikan di gunung, di tepi
samudra, di dalam rimba, daripada mereka berada di tengah-
tengah keluarganya, daripada mereka bekerja, daripada mereka
senang-senang.
Demikian saudara, sebenarnya sama, itulah yang dicari
manusia. Saudara tentunya belum sampai, belum menduga
sampai sejauh itu karena saudara belum sampai pada tingkatan
yang dapat mengetahui seluk-beluk kejiwaan.

Sebenarnya yang
dicari orang-orang, yang selalu zikir, tafakur, yang selalu diam,
mengurangi makan dan tidur, itu, ialah kunci, kunci hidup
manusia, ya gerakan manusia di dalam dirinya. Dan mereka
malahan belum sampai menemukan itu.
Maka bagi saudara sekalian atau bagi kita, adalah sebenarnya
sesuatu kemurahan atau kebahagiaan yang tak terhingga
batasnya kita dapat menemukan itu. Ya sudah tentu saja saudara
sekalian, saudara tidak akan dapat selekas mungkin mencapai
apa yang telah diharapkan, yaitu lantas tahu bagaimana seluk-
beluk kejiwaan. Dan saudara jangan menduga, bahwa apakah
hanya sampai gerak-gerak begitu saja, itu kejiwaan Subud.
Apakah hanya sampai bisa menangis, bisa ketawa saja itu, apa
hanya bisa begini, begini saja, itu; tidak saudara, belum apa-
apa saudara. Itu baru gerak badan kita yang kasar, baru gerak
kaki dan tangan dan mulut, belum digerakkan isinya daripada
segala anggota kita, sehingga kita dapat melihat terpisah antara aku melihat yang terpengaruh dunia, aku melihat yang tidak
terpengaruh dunia. Demikian juga dengan lain-lain anggota,
seperti telah Bapak tadi katakan.
(Cuplikan, Bapak Talks)
WOLFSBURG
21 AGUSTUS 1964

dari Ibu Rahayu


Bagaimana Membuat Latihan Menjadi Hidup.
Sampai sekarang ini saudara masih belum merasakan manfaat jalannya Latihan. Saudara hanya melakukan Latihan secara rutin, itu saja, dua atau tiga kali seminggu, tetapi tidak mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap bangun pagi, sebaiknya saudara membiasakan diri untuk berdoa dalam sikap Latihan dan merasakan hidupnya rasa diri saudara. Biasanya akan menimbulkan gerakan, yang menghidupkan seluruh anggota tubuh dan pancaindra saudara. Saudara dapat melakukan Latihan seperti ini sekitar 15 menit.
Bapak ( melalui Ibu Rahayu) 5 oktober 1984.
Kalau malam sebelum tidur, biasakan berdoa sambil seperti kalau saudara akan melakukan Latihan, dengan tenang saja untuk 15 menit. Mohon Tuhan untuk memaafkan segala dosa dan kesalahan dan mohon bimbingan-Nya.
Surat Ibu Rahayu, 25 Agustus 1984.