Wednesday, January 23, 2019
Guru Sejati ning Urip
GURU SEJATI NING URIP.
[oleh padepokan Nurdjati pusat].
Manusia adalah mahluk spiritual.Maka kita patut bersyukur karena diciptakan sebagai
manusia yang bisa melakukan apa saja dan bisa berpikir apa yang akan dilakukan.Manusia
terdiri dari dua sifat yaitu bersifat fisik dan metafisik.Bukan saja bersifat fisik atau metafisik
tetapi sekaligus dua menjadi satu.
Manusia terdiri dari bagian ROHANI dan JASMANI.Bagian yang ROHANI adalah
PRIBADI-NYA.Sedangkan bagian JASMANI adalah BADAN KASAR/MANUSIA –NYA.
Bagian rohani inilah yang spiritual merupakan kenyataan sejati.Jasmani adalah badan kasar
yang dipenuhi sifat ego dan segala hawa nafsu.Badan manusia inilah merupakan kerajaan
ROH/URIP yang harus dikuasai oleh manusia,Maka dari itu badan manusia sering disebut
JAGAD CILIK/MICRO COSMIC.Jika manusia sudah dapat menguasai jagad cilik ini maka dia
telah menjadi SATRIYA SEJATI.Dalam dirinya telah mencapai satu kesatuan.Dengan demikian
badannya akan mengalami proses SPIRITUALITASASI.Disitulah akan terjadi perkembangan
yang selaras dan seimbang,karena bagian yang jasmani telah dapat dibentuk menurut
kehendak rohani.
Oleh karena itu KESADARAN FISIK adalah KESADARAN SEMENTARA. Kesadaran
sesungguhnya adalah KESADARAN ROH/URIP.Itulah AKU SEJATI [INGSUN/URIP].Oleh karena
itu apa yang diinginkan kesadaran fisik tidak selamanya sama dengan kesadaran roh [aku
sejati].Karena itu jika kita ingin melakukan sesuatu,tunggulah dan rasakanlah apakah betul
diri sejati yang menginginkan?.Sebab yang namanya DIRI SEJATI itu sesungguhnya adalah
ROH/ INGSUN [hindu menyebut ATMA].Dengan kata lain ROH = INGSUN = YANG MELIPUTI
JAGAD RAYA = YA URIP = ATMA.DIRI SEJATI inilah yang sebagai radar RASA SEJATI.Supaya
kita tahu petunjuk-petunjuk SANG GURU SEJATI dengan baik dan tepat.Maka dari itu kita
perlu menjaga kepekaan rasa sejati,karena rasa sejati itu ibarat air dalam gelas yang harus
selalu dijaga agar tetap TETAP BERSIH dan dalam KONDISI TENANG.Akibatnya kita akan
dengan mudah mengetahui apa langkah-langkah yang tepat harus dilakukan.Inilah
sebenarnya merupakan petunjuk – petunjuk SANG GURU SEJATI.Maka dari itu dalam
melakukan OLAH ROSO/RASA harus dalam kondisi tenang dan kondisi bersih itu adalah
tentram. Artinya kita harus selalu berusaha dalam segala hal TENANG-KALEM tapi pasti.
Sehingga jika melakukan pekerjaan akan dapat diselesaikan dengan mudah.Untuk itu
dibutuhkan modal KESABARAN HATI,KETABAHAN serta KETINGGIAN MENTAL. GURU SEJATI
itu adalah GURU-MU yang sudah bersatu manunggal dengan RAGA-MU itu.Jadi kita tidak
perlu jauh-jauh mencari guru,untuk itulah kita perlu lebih mengenal DIRI SENDIRI.Sebetulnya
ajaran ini sudah ada sejak nenek moyang kita ada dan sebelum beberapa agama itu
masuk.Namun jaman sekarang sudah banyak dilupakan oleh sebagian orang.Karena manusia
jaman sekarang terlalu berpikir LOGIKA/ILMIAH dan EGO TINGGI serta HAWA NAFSU yang
diutamakan.Disamping itu karena terlalu fanatik dengan agama masing-masing sehingga
melupakan beberapa ajaran LUHUR dan BUDI PEKERTI yang diajarkan oleh nenek
moyang.Padahal semua agama bersifat fleksible dan universal yang dapat menyatu dengan
beberapa ajaran baik dari nenek moyang.Saking fanatiknya sampai ada yang membela mati-
matian atas nama TUHAN-NYA.Padahal TUHAN sendiri tidak pernah minta dibela,karena
TUHAN itu MAHA BESAR,MAHA TAHU,MAHA SEMPURNA yang dapat melakukan apa saja
hanya dalam sekejap.Jadi BELIAU tidak butuh pembelaan dari manusia karena manusia
adalah ciptaan BELIAU sendiri yang dengan mudah dapat dicabut nyawanya sewaktu-
waktu.Sekian dari saya semoga bermanfaat buat sampean sekalian RAHAYU...RAHAYU....DUMATENG UGI.
Syeh Siti Jenar tidak di eksekusi mati
Bantuan Aksesibilitas
Tekan alt + / untuk membuka menu ini
Facebook
Iman
Beranda
Buat
1
Permintaan Pertemanan
Pesan
7
Notifikasi
Pengaturan Akun
Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo
21 November 2013 pukul 15.52
7 Versi Kematian Syekh Siti Jenar
Mendiskusikan tentang wafatnya Syekh Siti Jenar memang cukupmenarik. Sebagaimana banyaknya versi yang menjelaskan tentang asal-usul dansosol Syekh Siti Jenar, maka demikian pula halnya tentang varian versi yangmenerangkan tentang proses kematiannya. Secara umum kesamaan yang diperlihatkanoleh berbagai literatur seputar kematian Syekh Siti Jenar hanyalah yangberkaitan dengan masanya saja, yakni pada masa kerajaan Islam Demak di bawahpemerintahan Raden Fatah sekitar akhir abad XV dan awal abad XVI. Tentu hal inijuga masih mengecualikan sebagian kisah versi Cirebon, yang menyebutkan bahwawafatnya Syekh Siti Jenar terjadi pada masa Sultan Trenggono. Sedangkan yangberkaitan dengan proses kematiannya, berbagai sumber yang ada memberikanpenjelasan yang berbeda-beda. Sampai saat ini, paling tidak terdapat beberapaasumsi (tujuh versi) mengenai proses meninggalnya Syekh Siti Jenar.
VersiPertama
Bahwa Syekh Siti Jenar wafat karena dihukum mati oleh SultanDemak, Raden Fatah atas persetujuan Dewan Wali Songo yang dipimpin oleh SunanBonang. Sebagai algojo pelaksana hukuman pancung adalah Sunan Kalijaga, yangdilaksanakan di alun-alun kesultanan Demak. Sebagian versi ini mengacu pada “Serat Syeikh Siti Jenar” oleh Ki Sosrowidjojo.
VersiKedua
Syekh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati oleh Sunan Gunung Jati.Pelaksana hukuman (algojo) adalah oSunan Gunung Jati sendiri, yangpelaksanaannya di Masjid Ciptarasa Cirebon. Mayat Syekh Siti Jenar dimandikanoleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Giri, kemudiandimakamkan di Graksan, yang kemudian disebut sebagai Pasarean Kemlaten. Hal ini tercantum dalam Wawacan Sunan Gunung Jati Pupuh ke-39 terbitan Emon Suryaatmana danT.D Sudjana (alin bahasa pada tahun 1994).
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sudirman Tebba (2000: 41), SyekhSiti Jenar dipenggal lehernya oleh Sunan Kalijaga. Pada awalnya mengucur dararberwarna merah, kemudian berubah menjadi putih. Syekh Siti Jenar kemudianberkata: “Tidak ada Tuhan selain Allah danMuhammad adalah utusan-Nya”. Kemudian tubuh Syekh Siti Jenar naik ke surgaseiring dengan kata-kata: ”Jika adaseorang manusia yang percaya kepada kesatuan selain dari Allah Yang Mahakuasa, diaakan kecewa, karena dia tidak akan memperoleh apa yang dia inginkan”.
Untuk kisah yang terdapat dalam versi pertama dan kedua masihmemiliki kelanjutan yang hampir sama.
Sebagaimana dikemukakan dalam Suluk Syekh Siti Jenar, disebutkan bahwa setelah Syekh Siti Jenarmeninggal di Krendhawasa tahun Nirjamna Catur Tunggal (1480 M. Tahun yang tentusaja masih terlalu dini untuk kematian Syekh Siti Jenar), jenazahnya dibawa keMasjid Demak, karena saat itu magrib tiba, maka pemakaman dilakukan esokpaginya agar bisa disaksikan oleh raja. Para ulama sepakat untuk menjagajenazah Syekh Siti Jenar sambil melafalkan pujian-pujian kepada Tuhan. Ketikawaktu shalat tiba, para santri berdatangan ke masjid. Pada saat itu tiba-tibatercium bau yang sangat harum, seperti bau bunga Kasturi. Selesai shalat parasantri diperintahkan untuk meninggalkan masjid. Tinggal para ulama saja yangtetap berada di dalamnya untuk menjaga jenazah Syekh Siti Jenar.
Bau harum terus menyengat, oleh karena itu Syekh Malaya mengajakulama lainnya untuk membuka peti jenazah Syekh Siti Jenar. Tatkala peti ituterbuka, jenazah Syekh Siti Jenar memancarkan cahaya yang sangat indah, lalumuncul warna pelangi memenuhi ruangan masjid. Sedangkan dari bawah petimemancarkan sinar yang amat terang, bagaikan siang hari.
Dengan gugup, para ulama mendudukkan jenazah itu, lalu bersembahsujud sambil menciumi tubuh tanpa nyawa itu bergantian hingga ujung jari. Kemudianjenazah itu kembali dimasukkan ke dalam peti, Syekh Malaya terlihat tidakberkenan atas tindakan rekan-rekannya itu.
Dalam Suluk Syekh SitiJenar dan Suluk Walisanga dikisahkanbahwa para ulama telah berbuat curang. Jenazah Syekh Siti Jenar diganti denganbangkai anjing kudisan. Jenazah itu dimakamkan mereka di tempat yangdirahasiakan. Peti jenazah diisi dengan bangkai anjing kudisan. Bangkai itu dipertontonkankeesokan harinya kepada masyarakat untuk mengisyaratkan bahwa ajaran Syekh SitiJenar adalah sesat.
Digantinya jenazah Syekh Siti Jenar dengan bangkai anjing initernyata diketahui oleh salah seorang muridnya bernama Ki Luntang. Dia datangke Demak untuk menuntut balas. Maka terjadilah perdebatan sengit antara KiLuntang dengan para Wali yang berakhir dengan kematiannya. Sebelum diamengambil kematiannya, dia menyindir kelicikan para Wali dengan mengatakan(Sofwan, 2000: 221):
“...luhta payo totonen derengsun manthuk, yen wus mulih salinen, bangke sakarepmudadi. Khadal, kodok, rase, luwak, kucing kuwuk kang gampang lehmu sandi, upayasadhela entuk, wangsul sinantun gajah, sun pastheake sira nora bisa luruh rehtanah jawa tan ana...”
...nah silahkan lihat diriku yang hendak menjemput kematian.Jika nanti aku telah mati, kau boleh mengganti jasadku sekehendakmu, kadal,kodok, rase, luwak atau kucing tua yang mudah kau peroleh. Tapi, jika hendakmengganti dengan gajah, kau pasti tidak akan bisa karena di tanah Jawa tidakada...”
Seperti halnya sang guru, Ki Luntang pun mati atas kehendaknyasendiri, berkonsentrasi untuk menutup jalan hidup menuju pintu kematian.
VersiKetiga
Bahwa Syekh Siti Jenar meninggal karena dijatuhi hukuman matioleh Sunan Giri, dan algojo pelaksana hukuman mati tersebut adalah Sunan GunungJati. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa vonis yang diberikan Sunan Giri atasusulan Sunan Kalijaga (Hasyim, 1987: 47).
Dikisahkan bahwa Syekh Siti Jenar mempunyai sebuah pesantrenyang banyak muridnya. Namun sayang, ajaran-ajarannya dipandang sesat dan keluardari ajaran Islam. Ia mengajarkan tentang keselarasan antara Tuhan, manusia danalam (Hariwijaya, 2006: 41-42).
Hubungan manusia dengan Tuhannya diungkapkan dengan “Manunggaling kawula-gusti” dan “Curiga Manjing Warangka”. Hubunganmanusia dengan alam diungkapkan dengan “MengasahMingising Budi, Memasuh Malaning Bumi”, dan “Hamemayu Hayuning Bawana”, yang bermuara pada pembentukan “Jalma Sulaksana”, “Al-insan Al-kamil”, “SariraBathara”, “Manusia Paripurna”, “Adi Manusia” yang imbang lahir batin, jiwa-raga,intelektual spiritual, dan kepala dadanya.
Konsep manunggaling kawula gusti oleh Syekh Siti Jenar disebutdengan “uninong aning unong”, saatsepi senyap, hening, dan kosong. Sesungguhnya Zat Tuhan dan zat manusia adalahsatu, manusia ada dalam Tuhan dan Tuhan ada dalam manusia.
Sunan Giri sebagai ketua persidangan, setelah mendengarpenjelasan dari berbagai pihak dan bermusyawarah dengan para Wali, memutuskanbahwa ajaran Syekh Siti Jenar itu sesat. Ajarannya bisa merusak moralmasyarakat yang baru saja mengenal Islam. Karenanya Syekh Siti Jenar dijatuhihukuman mati.
Syekh Siti Jenar masih diberi kesempatan selama setahun untukmemperbaiki kesalahannya sekaligus menanti berdirinya Negara Demak secaraformal, karena yang berhak menentukan hukuman adalah pihak negara (Widjisaksono, 1995: 61). Kalau sampai waktu yang ditentukan ia tidak mengubahpendiriannya, maka hukuman tersebut akan dilaksanakan.
Sejak saat itu, pesantren Syekh Siti Jenar ditutup danmurid-muridnya pun bubar, menyembunyikan diri dan sebagian masih mengajarkanajaran wahdatul wujud meskipun secarasembunyi-sembunyi. Setelah satu tahun berlalu, Syekh Siti Jenar ternyata tidakberbubah pendiriannya. Maka dengan terpaksa Sunan Gunung Jati melaksanakaneksekusi yang telah disepakati dulu. Jenazah Syekh Siti Jenar dimakamkan dilingkungan keraton agar orang-orang tidak memujinya.
VersiKeempat
Syekh Siti Jenar wafat karena vonis hukuman mati yang dijatuhiSunan Giri sendiri. Peristiwa kematian Syekh Siti Jenar versi ini sebagaimana yangdikisahkan dalam Babad Demak. Menurutbabad ini Syekh Siti Jenar meninggal bukan karena kemauannya sendiri, dengankesaktiannya dia dapat menemui ajalnya, tetapi dia dibunuh oleh Sunan Giri. Kerisditusukkan hingga tembus ke punggung dan mengucurkan darah berwarna kuning.Setelah mengetahui bahwa suaminya dibunuh, istri Syekh Siti Jenar menuntut belakematian itu kepada Sunan Giri. Sunan Giri menghiburnya dengan mengatakan bahwadia bukan yang membunuh Syekh Siti Jenar tetapi dia mati atas kemauannyasendiri. Diberitahukan juga bahwa suaminya kini berada di dalam surga. SunanGiri meminta dia melihat ke atas dan di sana dia melihat suaminya berada disurga dikelilingi bidadari yang agung, duduk di singgasana yang berkilauan(Sofwan, 2000: 218).
Kematian Syekh Siti Jenar dalam versi ini juga dikemukakan dalamBabad Tanah Jawa yang disandur olehS. Santoso, dengan versi yang sedikit memiliki perbedaan. Dalam babad inidisebutkan Syekh Siti Jenar terbang ke surga, tetapi badannya kembali kemasjid. Para ulama takjub karena dia dapat terbang ke surga, namun kemudianmarah karena badannya kembali ke masjid. Melihat hal yang demikian, Sunan Girikemudian mengatakan bahwa tubuhnya harum ditikam dengan sebuah pedang, kemudiandibakar. Syekh Maulana kemudian mengambil pedang dan menikamkannya ke tubuhSyekh Siti Jenar, tetapi tidak mempan. Syekh Maulana bertambah marah danmenuduh Syekh Siti Jenar berbohong atas pernyataannya yang menegaskan bahwa diarela mati.
Syekh Siti Jenar menerima banyak tikaman dari Syekh Maulana,tetapi dia terus berdiri. Syekh Maulana kian gusar dan berkata, “Itu luka orang jahat, terluka tapi tidakberdarah”. Dari luka-luka Syekh Siti Jenar itu seketika keluar darah berwarnamerah. Seketika Syekh Maulana berkata lagi, ”Itu luka orang biasa, bukan kawula gusti, karena darah yang keluarberwarna merah”. Dari merah yang mengucur itu seketika berubah berwarnaputih. Syekh Maulana berkata lagi. “Iniseperti kematian pohon kayu, keluar getah dari lukanya. Kalau ‘insan kamil’betul tentu dapat masuk surga dengan badan jasmaninya, berarti kawula gustitidak terpisah”. Dalam sekejap mata tubuh Syekh Siti Jenar hilang dandarahnya sirna.
Syekh Maulana kemudian membuat muslihat dengan membunuh seekoranjing, membungkusnya dengan kail putih dan mengumumkan kepada masyarakat bahwamayat Syekh Siti Jenar telah berubah menjadi seekor anjing disebabkan ajarannyayang bertentangan dengan syariat. Anjing itu kemudian di bakar.
Beberapa waktu setelah peristiwa itu, para ulama didatangi olehseorang penggembala kambing yang mengaku sebagai murid Syekh Siti Jenar. Diaberkata, ”Saya dengar para Wali telahmembunuh guru saya, Syekh Siti Jenar. Kalau memang demikian, lebih baik sayajuga Tuan-tuan bunuh. Sebab saya ini juga Allah, Allah yang menggembalakankambing”. Mendengar penuturannya itu kemudian Syekh Maulana membunuhnyadengan pedang yang sama dengan yang digunakan untuk membunuh Syekh Siti Jenar.Seketika tubuh mayat penggembala kambing itu lenyap. (Tebba, 2003: 43).
VersiKelima
Bahwa vonis hukuman mati dijatuhkan oleh Sunan Gunung Jati,sedangkan yang menjalankan eksekusi kematian (algojo) adalah Sunan Kudus. Versitentang proses kematian Syekh Siti Jenar ini dapat ditemukan dalam Serat Negara Kertabumi yang disuntingoleh Rahman Selendraningrat. Tentu bahwa kisah eksekusi terhadap Syekh Sitijenar yang terdapat dalam versi ini berbeda dari yang lainnya. Nampaknya kisahini bercampur aduk dengan kisah eksekusi Ki Ageng Pengging yang dilakukan olehSunan Kudus.
Kisah kematian Syekh Siti Jenar dalam sastra “kacirebonan” inidiawali dengan memperlihatkan posisi para pengikut Syekh Siti Jenar di Cirebonsebagai kelompok oposisi atas kekuatan Kesultanan Cirebon. Sejumlah tokohpengkutnya pernah berusaha untuk menduduki tahta, tetapi semuanya menemuikegagalan. Tatkala Pengging dilumpuhkan, Syekh Siti Jenar yang pada saat itumenyebarkan agama di sana, kembali ke Cirebon diikuti oleh para muridnya dariPengging. Di Cirebon, kekuatan Syekh Siti Jenar menjadi semakin kokoh, pengikutnyameluas hingga ke desa-desa. Serelah Syekh Datuk Kahfi meninggal dunia, SultanCirebon menunjuk Pangeran Punjungan untuk menjadi guru agama Islam di PadepokanAmparan Jati.
Pangeran Punjungan bersedia menjalankan tugas yang diembankansultan kepadanya, namun dia tidak mendapatkan murid di sana karena orang-orangtelah menjadi murid Syekh Siti Jenar. Bahkan panglima bala tentara Cirebonbernama Pangeran Carbon lebih memilih untuk menjadi muridnya Syekh Siti Jenar.Dijaga oleh muridnya yang banyak, Syekh Siti Jenar merasa aman tinggal diCirebon Girang.
Keberadaan Syekh Siti Jenar di Cirebon terdengar oleh SultanDemak. Sultan kemudian mengutus Sunan Kudus disertai 700 orang prajurit keCirebon. Sultan Cirebon menerima permintaan Sultan Demak dengan tulus, bahkanmemberi bantuan untuk tujuan itu.
Langkah pertama yang diambil Sultan Cirebon adalah mengumpulkanpara murid Syekh Siti Jenar yang ternama, antara lain Pangeran Carbon, paraKyai Geng, Ki Palumba, Dipati Cangkuang dan banyak orang lain di istanaPangkuangwati. Selanjutnya bala tentara Cirebon dan Demak menuju padepokanSyekh Siti Jenar di Cirebon Girang. Syekh Siti Jenar kemudian di bawa ke masjidAgung Cirebon, tempat para Wali telah berkumpul.
Dalam persidangan itu, yang bertindak sebagai hakim ketuanadalah Sunan Gunung Jati. Melalui perdebatan yang panjang, pengadilanmemutuskan Syekh Siti Jenar harus dihukum mati. Kemudian Sunan Kudusmelaksanakan eksekusi itu menggunakan keris pusaka Sunan Gunung Jati. Peristiwaitu terjadi pada bulan Safar 923 H atau 1506 (Sofwan, 2000: 222).
Pada peristiwa selanjutnya, mulai diperlihatkan kecurangan yangdilakukan oleh para ulama di Cirebon terhadap keberadaan jenazah Syekh SitiJenar. Dikisahkan, setelah eksekusi dilaksanakan, jenazah Syekh Siti Jenardimakamkan di suatu tempat yang kemudian banyak diziarahi orang. Untukmengamankan keadaan, Sunan Gunung Jati memerintahkan secara diam-diam agarmayat Syekh Siti Jenar dipindahkan ke tempat yang dirahasiakan, sedangk di kuburanyang sering dikunjungi orang itu dimasukkan bangkai anjing hitam.
Ketika para perziarah menginginkan agar mayat Syekh Siti Jenardipindahkan ke Jawa Timur, kuburan di buka dan ternyata yang tergeletak didalamnya bukan mayat Syekh Siti Jenar melainkan bangkai seekor anjing. Parapeziarah terkejut dan tak bisa mengerti keadaan itu. Ketika itu Sultan Cirebonmemanfaatkan situasi dengan mengeluarkan fatwa agar orang-orang tidakmenziarahi bangkai anjing dan agar meninggalkan ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar(Sulendraningrat, 1983: 28).
VersiKeenam
Bahwa Syekh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati oleh Wali Songo. Padasaatu hukuman harus dilaksanakan, para anggota Wali Songo mendatangi Syekh SitiJenar untuk melaksanakan hukuman mati. Akan tetapi kemudian para anggota WaliSongo tidak jadi melaksanakan hukuman tersebut, karena Syekh Siti Jenar justrumemilih cara kematiannya sendiri, dengan memohon kepada Allah agar diwafatkantanpa harus dihukum oleh pihak Sultan dan para Sanan, sekaligus Syekh SitiJenar menempuh jalan kematiannya sendiri, yang sudah ditetapkan oleh Allah. Versiini mengacu pada Serat Seh Siti Jenar yangdigubah oleh Ki Sosrowidjojo, yang kemudian disebarluaskan kembali ileh AbdulMunir Mulkan (t.t).
Sofwan (2000: 215-217) mengutip Suluk Walingsanga (sebagaimana juga yang terdapat dalam Serat Seh Siti Jenar dalam berbagaiversi) yang di dalamnya terdapat cerita yang mengisahkan bahwa kematian SyekhSiti Jenar berawal dari perdebatan yang terjadi antara Syekh Siti Jenar dengandua orang utusan Sultan Demak, yakni Syekh Domba dan Pangeran Bayat sebagaiutusan Sultan Fatah dan Majelis Wali Songo. Dua orang utusan ini diperintahSultan atas persetujuan Majelis Wali Songo untuk mengadakan tukar pikiran(lebih tepatnya menginvestigasi) dengan Syekh Siti Jenar mengenai ajaran yangdia sampaikan kepada murid-muridnya.
Disinyalir bahwa ajaran yang telah disampaikan oleh Syekh SitiJenar menyebabkan terganggunya stabilitas keamanan dan ketertiban di wilayahDemak. Hal ini disebabkan ulah para muridnya yang berbuat kegaduhan, merampok, berkelahi,bahkan membunuh. Bila ada kejahatan atau keonaran, tentu murid Syekh Siti Jenaryang menjadi pelakunya. Ketika pengawal kerajaan menangkap mereka, maka merekabunuh diri di dalam penjara. Bila dikorek keterangan dari mereka, dengan angkuhmereka mengatakan bahwa mereka adalah murid Syekh Siti Jenar yang telah banyakmengenyam ilmu makrifat, dan selalu siap mati bertemu Tuhan.
Mereka beranggapan bahwa hidup sekedar menjalani mati, olehkarena itu mereka merasa jenuh menyaksikan bangkai bernyawa bertebaran diatasnya. Dunia ini hanya dipenuhi oleh mayat, maka mereka lebih memilihmeninggalkan dunia ini. Mereka juga mengejek, mengapa orang mati diajarishalat, menyembah dan mengagungkan nama-Nya, padahal di dunia ini orang tidakpernah melihat Tuhan.
Berkenaan dengan pemahaman yang demikian ini, maka Syekh Dombadan Pangeran Bayat diutus oleh Sultan Demak untuk menemui Syekh Siti Jenar.Dalam pertemuan itu terjadi perdebatan antara utusan Sultan dengan Syekh Siti Jenar.Dalam perdebatan itu, terlihat bahwa kemahiran Syekh Siti Jenar berada di atasSyekh Domba dan Pangeran Bayat. Pada akhirnya, Syekh Domba merasa kagum atasuraian dan kedalaman ilmu Syekh Siti Jenar, bahkan dia bisa menyetujuikebenarannya. Dia ingin menjadi muridnya secara tulus, kalau saja tidak dicegaholeh Pangeran Bayat.
Selanjutnya, kedua utusan itu kembali ke Demak melaporkan apayang telah mereka saksikan tentang ajaran Syekh Siti Jenar. Setelah berundingdengan Majelis Wali Songo, Sultan kemudian mengutus lima orang Wali untukmemanggil Syekh Siti Jenar ke istana guna mempertanggungjawabkan ajarannya. Kelimautusan itu adalah Sunan Kalijaga, Sunan Ngudung, Pangeran Modang, Sunan Geseng,dan Sunan Bonang sebagai pemimpin utusan itu. Mereka diikuti oleh empat puluhorang santri lengkap dengan persenjataannya untuk memaksa Syekh Siti Jenardatang ke istana. Sesampainya di kediaman Syekh Siti Jenar, kelima Walitersebut terlibat perdebatan sengit. Perdebatan itu berakhir dengan ancamanSunan Kalijaga. Sekalipun mendapatkan ancaman dari Sunan Kalijaga, Syekh SitiJenar tetap tidak bersedia datang ke istana karena menurutnya Wali dan rajatidak berbeda dengan dirinya, sama-sama terbalut darah dan daging yang akanmenjadi bangkai. Lalu dia memilih mati. Mati bukan karena ancaman yang ada,tetapi karena kehendak diri sendiri. Syekh Siti Jenar kemudian berkonsentrasi,menutup jalan hidupnya dan kemudian meninggal dunia.
VersiKetujuh
Bahwa terdapat dua orang tokoh utama, yang memiliki nama asliyang berdekatan dengan nama kecil Syekh Siti Jenar, San Ali. Tokoh yang satuadalah Hasan Ali, nama Islam Pangeran Anggaraksa, anak Rsi Bungsi yang semulaberambisi menguasai Cirebon, namun kemudian terusir dari Keraton, karenakedurhakaan kepada Rsi Bungsi dan pemberontakannya kepada Cirebon. Ia menaruhdendang kepada Syekh Siti Jenar yang berhasil menjadi seorang guru suci utamadi Giri Amparan Jati. Tokoh yang satunya lagi adalah San Ali Anshar al-Isfahanidari Persia, yang semua merupakan teman seperguruan dengan Syekh Siti Jenar diBaghdad. Namun ia menyinpan dendang pribadi kepada Syekh Siti Jenar karenakalah dalam hal ilmu dan kerohanian.
Ketika usia Syekh siti Jenar sudah uzur, dua tokoh ini bekerjasama untuk berkeliling ke berbagai pelosok tanah Jawa, ke tempat-tempat yang penduduknya menyatakan diri sebagaipengikut Syekh Siti Jenar, padahal mereka belum pernah bertemu dengan SyekhSiti Jenar. Sehingga masyarakat tersebut kurang mengenal sosok asli Syekh SitiJenar. Pada tempat-tempat seperti itulah, dua tokoh pemalsu ajaran Syekh SitiJenar memainkan perannya, mengajarkan berbagai ajaran mistik, bahkan perdukunanyang menggeser ajaran tauhid Islam.
Hasan Ali mengaku dirinya sebagai Syekh Lemah Abang, dan San AliAnshar mengaku dirinya sebagai Syekh Siti Jenar. Hasan Ali beroperasi di Jawabagian Barat, sementara San Ali Anshar di Jawa Bagian Timur. Kedua orang inisebenarnya yang dihukum mati oleh anggota Wali Songo, karena sudah melancarkanberbagai fitnah keji terhadap Syekh Siti Jenar sebagai guru dan anggota WaliSongo.
Kemungkinan karena silang sengkarut kemiripan nama itulah, makadalam berbagai Serat dan babad di daerah Jawa, cerita tentang Syekh Siti Jenarmenjadi simpang siur. Namun pada aspek yang lain, ranah politik juga ikutmemberikan andil pendiskreditan nama Syekh Siti Jenar. Karena naiknya RadenFatah ke tampuk kekuasaan Kesultanan Demak, diwarnai dengan intrik perebutantahta kekuasaan Majapahit yang sudah runtuh, sehingga segala intrik bisaterjadi dan menjadi “halal” untuk dilakukan, termasuk dengan mempolitisasiajaran Syekh Siti Jenar yang memiliki dukungan massa banyak, namun tidakmenggabungkan diri dalam ranah kekuasaan Raden Fatah.
Jadi dikaitkan dengan kekuasaan Sultan Trenggono, sebagaimanatercatat dalam berbagai fakta sejarah, naiknya Sultan Trenggono sebagaipenguasa tunggal Kesultanan Demak, adalah dengan cara berbagai tipu muslihatdan pertumpahan darah. Karena sebenarnya yang berhak menjadi Sultan adalahPangeran Suronyoto, yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sekar Seda Ing Lepen, kakaklaki-laki Sultan Trenggono yang seharusnya menggantikan Adipati Unus. “Seda IngLepen” artinya meninggal di sungai.
Sebenarnya Pangeran Suronyoto tidak meninggal di sungai, namundibunuh oleh orang-orang suruhan Pangeran Trenggono, baru setelah terbunuh,mayatnya dibuang ke sungai (Daryanto, 2009: 215-278). Kematian kakaknyatersebut diduga atas strategi Sultan Trenggono. Sultan Trenggono sendiri, padamulanya tidaklah begitu disukai oleh para adipati dan kebanyakan masyarakat, karenasifatnya yang ambisius, yang dibingkai dalam sikap yang lembut.
Salah satu tokoh penentang utama naiknya Trenggono sebagaiSultan adalah Pangeran Panggung di Bojong, salah satu murid utama Syekh SitiJenar. Demikian pula masyarakat Pengging yang sejak kekuasaan Raden Fatah belummau tunduk pada Demak. Banyak masyarakat yang sudah tercerahkan kemudian kurangmenyukai Sultan Trenggono. Mungkin oleh karena faktor inilah, maka SultanTrenggono dan para ulama yang mendekatinya kemudian memusuhi pengikut SyekhSiti Jenar. Maka kemudian dihembuskan kabar bahwa Syekh Siti Jenar dihukum matioleh Dewan Wali Songo di masjid Demak, dan mayatnya berubah menjadi anjingkudisan, dan dimakamkan di bawah mihrab pengimaman masjid. Suatu hal yangsangat mustahil terjadi dalam konteks hukum Islam, namun tentu dianggap sebagaisebuah kebenaran atas nama kemukjizatan bagi masyarakat awam.
Keberadaan para ulama “penjilat” penguasa, yang untuk memenuhiambisi duniawinya bersedia mengadakan fitnah terhadap sesama ulama, dan untukselalu dekat dengan penguasa bahkan bersedia menyatakan bahwa suatu ajarankebenaran sebagai sebuah kesesatan dan makar, karena menabrak kepentinganpenguasa itu sebenarnya sudah digambarkan oleh para ulama. Imam Al-Ghazalidalam kitab Ihya’ “Ulum al-Din menyebutkansebagai al-‘ulama’ al-su’ (ulama yangjelek dan kotor). Sementara ketika Sunan Kalijaga melihat tingkah laku paraulama pada zaman Demak, yang terkait dengan bobroknya moral dan akhlakpenguasa, disamping fitnah keji yang ditujukan kepada sesama ulama, namun bedapendapat dan kepentingan, maka Sunan Kalijaga membuatkan deskripsi secarahalus. Sesuai dengan profesinya dalam budaya, utamanya sebagai dalang, SunanKalijaga menggambarkan kelakuan para ulama yang ambisi politik dan memilikikarakter jelek sebagai tokoh Sang Yamadipati (Dewa Pencabut Nyawa) dan PendetaDurna (ulama yang bermuka dua, munafik).
Kedua tokoh tersebut dalam serial pewayangan model SunanKalijaga digambarkan sebagai ulama yang memakai pakaian kebesaran ulama;memakai surban, destar, jubah, sepatu, biji tasbih dan pedang. Pemberiankarakter seperti itu adalah salah satu cara Sunan Kalijaga dalam mencatatkansejarah bangsanya, yang terhina dan teraniaya akibat tindakan para ulama jahatyang mengkhianati citra keulamaannya, dengan menjadikan diri sebagai SangYamadipati, mencabut nyawa manusia yang dianggapnya berbeda pandangan dengandirinya atau dengan penguasa di mana sang ulama mengabdikan dirinya. Haltersebut merupakan cara Sunan Kalijaga melukiskan suasana batin bangsanya yangsudah mencitrakan pakaian keulamaan, dalil-dalil keagamaan sebagai atribut SangPencabut Nyawa. Atas nama agama, atas nama pembelaan terhadap Tuhan, dan karenadalil-dalil mentah, maka aliran serta pendapat yang berbeda harus dibungkushabis.
Gambaran pendeta Durna adalah wujud dari rasa muak SunanKalijaga terhadap para ulama yang menjilat kepada kekuasaan, bahkanaktivitasnya digunakan untuk semata-mata membela kepentingan politik dankekuasaan, menggunakan dalil keagamaan hanya untuk kepentingan dan keuntunganpribadi dengan mencelakakan banyak orang sebagai tumbalnya. Citra diri ulamayang ‘tukang’ hasut, penyebar fitnah, penggunjing, dan pengadu domba. Itulahyang dituangkan oleh Sunan Kalijaga dalam sosok Pendeta Durna.
Berbagai versi tentang kematian Syekh Siti Jenar menunjukkanbahwa tokoh Syekh Siti Jenar memang sangat kontroversional. Berbagai literaturyang ada tidak dapat memastikan tentang asal-usul keberadaannya hingga proseskematian yang dialaminya, disebabkan oleh banyak faktor dan kepentingan yangmengitarinya. Walaupun demikian, sejumlah besar keterangan yang mengisahkantentang keberadaannya memerlihatkan ajarannya yang selalu dipertentangkandengan paham para Wali, namun sekaligus tidak jarang membuat para Wali itusendiri “kagum” dan “mengakui” kebenaran ajarannya. Tentu saja, “pengakuan” dan“kekaguman” itu tidak pernah diperlihatkan secara eksplisit karena akanmengurangi “keagungan” mereka, disamping kurang objektifnya penulisan serat danbabad Jawa, yang terkait dengan Syekh Siti Jenar.
Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa dalam berabgai Seratdan Babad tersebut, akhir dari kisah Syekh Siti Jenar selalu dihiasi denganusaha-usaha intrik politik para Wali. Bisa jadi hal ini memang dilakukan olehpara ulama penjilat kekuasaan, oleh murid-murid generasi penerus para ulamayang pernah memusuhi ajaran Syekh Siti Jenar, atau para penulis kisah yang jugamemiliki kepentingan tersendiri terkait dengan motif politik, ideologi, keyakinan,dan ajaran keagamaan yang dianutnya.
Pada sisi lain, disamping disebabkan banyaknya referensi yangberbeda dalam menjelaskan kisah Syekh Siti Jenar, pemahaman mereka yang membacaakan memberikan pemahaman baru dari bacaan tersebut sehingga memperbanyakversi. Misalnya, tentang pemahaman salah satu versi mengenai asal-usul SyekhSiti Jenar yang dalam Serat Syekh SitiJenar, sebagaimana juga disadur dalam FalsafahSyekh Siti Jenar disebut “berasal dari caing (elur)”.
Sebagian penafsir mengatakan bahwa memang Syekh Siti Jenarbukanlah berasal dari manusia, namun semula ia adalah seekor cacing yangdisumpah oleh Sunan Bonang menjadi manusia. Padalah, jika cara pembacaan inidilakukan dengan cara referensi silang, kita mendapatkan penjelasan dari sumberlain, misalnya dalam Serat Seh Siti Jenaryang tersimpan di musem Radya Pustaka Surakarta, bahwa yang dimaksud “elur”(cacing) tidak lain adalah “wrejid bangsa sudra” (yang berasal dari rakyatjelata). Maksudnya Syekh Siti Jenar adalah masyarakat biasa yang berhasilmenjadi Wali, atau seorang Wali yang menjelata (menempatkan dirinya berada ditengah-tengah mansyarakat jelata) (lihat misalnya Sujamto, 2000: 87).
Sumber : K.H. Muhammad Sholikhin. TernyataSyekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo. Erlangga. Boyolali: 2008.
Guru Sejati - Kejawen
HAKEKAT GURU SEJATI
Kembali pada pembahasan Guru Sejati. Melalui 3 langkahnya (Triwikrama) Dewa Wishnu (Yang Hidup), mengarungi empat macam zaman (kertayuga, tirtayuga, kaliyuga, dwaparayuga), lalu lahirlah manusia dengan konstruksi terdiri dari fisik dan metafisik di dunia (zaman mercapada). Fisik berupa jasad atau raga, sedangkan metafisiknya adalah roh beserta unsur-unsur yang lebih rumit lagi.
Ilmu Jawa melihat bahwa roh manusia memiliki pamomong (pembimbing) yang disebut pancer atau guru sejati. Pamomong atau Guru Sejati berdiri sendiri menjadi pendamping dan pembimbing roh atau sukma. Roh atau sukma di siram “air suci” oleh guru sejati, sehingga sukma menjadi sukma sejati. Di sini tampak Guru sejati memiliki fungsi sebagai resources atau sumber “pelita” kehidupan. Guru Sejati layak dipercaya sebagai “guru” karena ia bersifat teguh dan memiliki hakekat “sifat-sifat” Tuhan (frekuensi kebaikan) yang abadi konsisten tidak berubah-ubah (kang langgeng tan owah gingsir). Guru Sejati adalah proyeksi dari rahsa/rasa/sirr yang merupakan rahsa/sirr yang sumbernya adalah kehendak Tuhan; terminologi Jawa menyebutnya sebagai Rasa Sejati. Dengan kata lain rasa sejati sebagai proyeksi atas “rahsaning” Tuhan (sirrullah). Sehingga tak diragukan lagi bila peranan Guru Sejati akan “mewarnai” energi hidup atau roh menjadi energi suci (roh suci/ruhul kuddus). Roh kudus/roh al quds/sukma sejati, telah mendapat “petunjuk” Tuhan –dalam konteks ini hakikat rasa sejati– maka peranan roh tersebut tidak lain sebagai “utusan Tuhan”. Jiwa, hawa atau nafs yang telah diperkuat dengan sukma sejati atau dalam terminologi Arab disebut ruh al quds. Disebut juga sebagai an-nafs an-natiqah, dalam terminologi Arab juga disebut sebagai an-nafs al-muthmainah, adalah sebagai “penasihat spiritual” bagi jiwa/nafs/hawa. Jiwa perlu di dampingi oleh Guru Sejati karena ia dapat dikalahkan oleh nafsu yang berasal dari jasad/raga/organ tubuh manusia. Jiwa yang ditundukkan oleh nafsu hanya akan merubah karakternya menjadi jahat.
GURU SEJATI dan SEDULUR 4 , 5 PANCER
Menurut ngelmu Kejawen, ilmu seseorang dikatakan sudah mencapai puncaknya apabila sudah bisa menemui wujud Guru Sejati. Guru Sejati benar-benar bisa mewujud dalam bentuk “halus”, wujudnya mirip dengan diri kita sendiri. Mungkin sebagian pembaca yang budiman ada yang secara sengaja atau tidak pernah menyaksikan, berdialog, atau sekedar melihat diri sendiri tampak menjelma menjadi dua, seperti melihat cermin. Itulah Guru Sejati anda. Atau bagi yang dapat meraga sukma, maka akan melihat kembarannya yang mirip sukma atau badan halusnya sendiri. Wujud kembaran (berbeda dengan konsep sedulur kembar) itu lah entitas Guru Sejati. Karena Guru Sejati memiliki sifat hakekat Tuhan, maka segala nasehatnya akan tepat dan benar adanya. Tidak akan menyesatkan. Oleh sebab itu bagi yang dapat bertemu Guru Sejati, saran dan nasehatnya layak diikuti. Bagi yang belum bisa bertemu Guru Sejati, anda jangan pesimis, sebab Guru Sejati akan selalu mengirim pesan-pesan berupa sinyal dan getaran melalui Hati Nurani anda. Maka anda dapat mencermati suara hati nurani anda sendiri untuk memperoleh petunjuk penting bagi permasalahan yang anda hadapi.
Namun permasalahannya, jika kita kurang mengasah ketajaman batin, sulit untuk membedakan apakah yang kita rasakan merupakan kehendak hati nurani (kareping rahsa) ataukah kemauan hati atau hawa nafsu (rahsaning karep). Artinya, Guru Sejati menggerakkan suara hati nurani yang diidentifikasi pula sebagai kareping rahsa atau kehendak rasa (petunjuk Tuhan) sedangkan hawa nafsu tidak lain merupakan rahsaning karep atau rasanya keinginan.
Sarat utama kita bertemu dengan Guru Sejati kita adalah dengan lakuprihatin; yakni selalu mengolah rahsa, mesu budi, maladihening, mengolah batin dengan cara membersihkan hati dari hawa nafsu, dan menjaga kesucian jiwa dan raga. Sebab orang yang dapat bertemu langsung dengan Guru Sejati nya sendiri, hanyalah orang-orang yang terpilih dan pinilih.
SEDULUR; PAPAT KEBLAT, LIMA PANCER
Atau Keblat Papat,Lima Pancer, di lain sisi diartikan juga sebagai kesadaran mikrokosmos. Dalam diri manusia (inner world) sedulur papat sebagai perlambang empat unsur badan manusia yang mengiringi seseorang sejak dilahirkan di muka bumi. Sebelum bayi lahir akan didahului oleh keluarnya air ketuban atau air kawah. Setelah bayi keluar dari rahim ibu, akan segera disusul oleh plasenta atau ari-ari. Sewaktu bayi lahir juga disertai keluarnya darah dan daging. Maka sedulur papat terdiri dari unsur kawah sebagai kakak, ari-ari sebagai adik, dan darah-daging sebagai dulur kembarnya. Jika ke-empat unsur disatukan maka jadilah jasad, yang kemudian dihidupkan oleh roh sebagai unsur kelima yakni pancer. Konsepsi tersebut kemudian dihubungkan dengan hakekat doa; dalam pandangan Jawa doa merupakan niat atau kebulatan tekad yang harus melibatkan unsur semua unsur raga dan jiwa secara kompak. Maka untuk mengawali suatu pekerjaan disebut dibutuhkan sikap amateg aji (niat ingsun) atau artikulasi kemantaban niat dalam mengawali segala sesuatu kegiatan/rencana/usaha). Itulah alasan mengapa dalam tradisi Jawa untuk mengawali suatu pekerjaan berat maupun ringan diawali dengan mengucap; kakang kawah adi ari-ari, kadhangku kang lahir nunggal sedino lan kadhangku kang lahir nunggal sewengi, sedulurku papat kiblat, kelimo pancer…ewang-ewangono aku..saperlu ono gawe ….
MENGOLAH GURU SEJATI
Guru Sejati yakni rahsa sejati; meretas ke dalam sukma sejati, atau sukma suci, kira-kira sepadan dengan makna roh kudus (ruhul kudus/ruh al quds). Kita mendayagunakan Guru Sejati kita dengan cara mengarahkan kekuatan metafisik sedulur papat (dalam lingkup mikrokosmos) untuk selalu waspada dan jangan sampai tunduk oleh hawa nafsu. Bersamaan menyatukan kekuatan mikrokosmos dengan kekuatan makrokosmos yakni papat keblat alam semesta yang berupa energi alam dari empat arah mata angin, lantas melebur ke dalam kekuatan pancer yang bersifat transenden (Tuhan Yang Mahakuasa). Setiap orang bisa bertemu Guru Sejatinya, dengan syarat kita dapat menguasai hawa nafsu negatif; nafsu lauwamah (nafsu serakah; makan, minum, kebutuhan ragawi), amarah (nafsu angkara murka), supiyah (mengejar kenikmatan duniawi) dan mengapai nafsu positif dalam sukma sejati (almutmainah). Sehingga jasad dan nafs/hawa nafsu lah yang harus mengikuti kehendak sukma sejati untuk menyamakan frekuensinya dengan gelombang Yang Maha Suci. Sukma menjadi suci tatkala sukma kita sesuai dengan karakter dan sifat hakekat gelombang Dzat Yang Maha Suci, yang telah meretas ke dalam sifat hakekat Guru Sejati. Yakni sifat-sifat Sang Khaliq yang (minimal) meliputi 20 sifat. Peleburan ini dalam terminologi Jawa disebut manunggaling kawula-Gusti.
Tradisi Jawa mengajarkan tatacara membangun sukma sejati dengan cara ‘manunggaling kawula Gusti’ atau penyatuan/penyamaan sifat hakikat makhluk dengan Sang Pencipta (wahdatul wujud). Sebagaimana makna warangka manjing curiga; manusia masuk kedalam diri “Tuhan”, ibarat Arya Sena masuk kedalam tubuh Dewaruci. Atau sebaliknya, Tuhan menitis ke dalam diri manusia; curigo manjing warongko, laksana Dewa Wishnu menitis ke dalam diri Prabu Kreshna.
Sebagai upaya manunggaling kawula gusti, segenap upaya awal dapat dilakukan seperti melalui ritual mesu budi, maladihening, tarak brata, tapa brata, puja brata, bangun di dalam tidur, sembahyang di dalam bekerja. Tujuannya agar supaya mencapai tataran hakekat yakni dengan meninggalkan nafsul lauwamah, amarah, supiyah, dan menggapai nafsul mutmainah. Kejawen mengajarkan bahwa sepanjang hidup manusia hendaknya laksana berada dalam “bulan suci Ramadhan”. Artinya, semangat dan kegigihan melakukan kebaikan, membelenggu setan (hawa nafsu) hendaknya dilakukan sepanjang hidupnya, jangan hanya sebulan dalam setahun. Selesai puasa lantas lepas kendali lagi. Pencapaian hidup manusia pada tataran tarekat dan hakikat secara intensif akan mendapat hadiah berupa kesucian ilmu makrifat. Suatu saat nanti, jika Tuhan telah menetapkan kehendakNya, manusia dapat ‘menyelam’ ke dalam tataran tertinggi yakni makna kodratullah. Yakni substansi dari manunggaling kawula gusti sebagai ajaran paling mendasar dalam ilmu Kejawen khususnya dalam anasir ajaran Syeh Siti Jenar. Manunggling Kawula Gusti = bersatunya Dzat Pencipta ke dalam diri mahluk. Pancaran Dzat telah bersemayan menerangi ke dalam Guru Sejati, sukma sejati.
PENTINGKAH GURU SEJATI ?
Peran Guru Sejati sudah jelas saya paparkan di awal pembahasan ini. Namun demikian perlu kami kemukakan betapa pentingnya Guru Sejati dalam kehidupan kita yang penuh ranjau ini. Perahu kehidupan kita berlabuh dalam samudra kehidupan yang penuh dengan marabahaya. Kita harus selalu eling dan waspadha, sebab setiap saat kemungkinan terburuk dapat menimpa siapa saja yang lengah. Guru Sejati akan selalu memberi peringatan kepada kita akan marabahaya yang mengancam diri kita. Guru Sejati akan mengarahkan kita agar terhindar dari malapetaka, dan bagaimana jalan keluar harus ditempuh. Karena Guru Sejati merupakan entitas zat atau energi kebaikan dari pancaran cahaya Illahi, maka Guru Sejati memiliki kewaskitaan luarbiasa. Guru Sejati sangat cermat mengidentifikasi masalah, dan memiliki ketepatan tinggi dalam mengambil keputusan dan jalan keluar. Biasanya Guru Sejati “bekerja” secara preventif antisipatif, membimbing kita agar supaya tidak melangkah menuju kepada hal-hal yang akan berujung pada kesengsaraan, malapetaka, atau musibah.
ANASIR ASING
Konsep tentang guru sejati sebagaimana ajaran Jawa, dapat ditelusuri melalui konsep sedulur papat lima pancer, dalam konsep pewayangan yang makna dan hakikatnya dapat dipelajari sebagaimana tokoh dalam Pendawa Lima (lihat dalam tulisan Pusaka Kalimasadha). Namun demikian, dalam perjalanannya mengalami pasang surut dan proses dialektika dengan anasir asing yakni; Hindu, Budha, Arab. Leluhur bangsa kita memiliki karakter selalu positif thinking, toleransi tinggi, andap asor. Sehingga nenek moyang kita, para leluhur yang masih peduli dengan kearifan lokal, secara arif dan bijaksana mereka tampil sebagai penyelaras sekaligus cagar kebudayaan Jawa. Setelah Islam masuk ke Nusantara, ajaran Kejawen mendapat anasir Arab dan terjadi sinkretisme, sedulur papat keblat kemudian diartikan pula sebagai empat macam nafsu manusia yakni nafsu lauwamah (biologis), amarah (angkara murka), supiyah (kenikmatan/birahi/psikologis), dan mutmainah (kemurnian dan kejujuran). Sedangkan ke lima yakni pancer diwujudkan dalam dimensi nafsu mulhimah (sebagai pengendali utama atau tali suh atas keempat nafsu sebelumnya. Konvergensi antara Kejawen dengan tradisi Arab disusunlah klasifikasi sifat-sifat nafsu jasadiah di atas dengan diaplikasikan ke dalam lambang aslinya yakni tokoh wayang; 1. Lauwamah = Dosomuko, 2. Amarah = Kumbokarno, 3. Supiyah = Sarpo Kenoko, 4. Mutma’inah = Gunawan Wibisono.
Tulisan ini saya persembahkan kepada seluruh pembaca yang budiman sebagai penambah referensi dan informasi untuk generasi bangsa. Karena kita sadari sulitnya mendapatkan referensi sehingga seringkali dalam beberapa pembahasan maknanya menjadi salah kaprah. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi siapapun, walau sedikit dan masih banyak kekurangan di sana-sini. emoticon-Cendol (S)
Rahayu; sabdalangit emoticon-Blue Guy Peace
Wednesday, December 5, 2018
Cinta dan Kebaikan
Pengetahuan Terlarang
Kemarahan hanya akan menghancurkan dan membunuh diri sendiri. Orang lain dan situasi tidak akan bisa melukai tanpa reaksi kita sendiri.
Seperti ular yang mengira gergaji adalah ancaman, ia mulai menggigit dan membelit gergaji sehingga melukai diri semakin parah, demikian juga kemarahan yang semakin menjadi-jadi saat pikiran dipenuhi rasa terancam, kebencian dan permusuhan.
Semua penyakit datang dari pikiran, sebab pikiran akan melipatgandakan dan memerintahkan tubuh dan dari bawah sadar melalui perasaan untuk membentuk kondisi tubuh sebagaimana dipikirkan dan dirasakan. Sel-sel tubuh mewujudkan rasa sakit itu sebagai realita.
Tidak ada manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan diri sendiri dengan menyimpan dendam dan terus-menerus memproduksi kemarahan.
Itulah mengapa para guru spiritual mengajar pelatihan meditasi mengheningkan diri, olah nafas agar lebih sabar, inspirasi kebijaksanaan hidup untuk membangkitkan cinta dan pengampunan serta berbagi kebaikan, sebab dengan cara itulah kita akan sembuh dari luka, tidak lagi melukai diri sendiri dan menumbuhkan tubuh yang sehat bugar.
Mencintai diri sendiri adalah pengetahuan terlarang, sebab saat seseorang mempraktekkannya ia akan terlihat menarik diri dan menyimpang dari kebiasaan umum dan apa yang dianggap benar oleh umum. Masyarakat sudah terbiasa dengan pola pikir bahwa kesalahan harus mendapatkan hukuman setimpal, rasa takut adalah cara untuk mencegah kejahatan bahkan Tuhan pun harus ditakuti.
Orang akan benar-benar merasakan tekanan dari masyarakat saat benar-benar mempraktekkan mencintai diri sendiri itu. Namun, seiring dengan rasa damai, tenang, bahagia sejahtera, keyakinan akan cinta tanpa syarat itu akan mengikis keraguan dan semakin tumbuh membesar.
Melalui meditasi, kontemplasi, refleksi pengertian di atas akan semakin dikuatkan dan diteguhkan. Bukti dari pengalaman dan pemahaman yang didapatkan dari pembelajaran datang dari dalam diri sendiri yang semakin mengukuhkan keyakinan dan kesadaran untuk terus mencahaya.
https://cintadankebijaksanaan.blogspot.com/…/pengetahuan-te…
Sunday, November 11, 2018
Atheist
-
Atheist. Banyak orang berpendapat atheist adalah sisi lain dari kepercayaan pada Tuhan/theist. Namun menurutku malah lebih luas lagi. Kenapa konsep berfikir harus selalu mentok di kata Tuhan.?
Aku lebih membaca pada prosesnya,yang menurutku atheist adalah antonim dari keterikatan berfikir yang dibatasi oleh aturan dari ideologi/agama yang dianut.
Banyak yang beranggapan atheist tidak beragama. Tapi menurutku tidaklah demikian. Karena agama berkaitan dengan perilaku,sedang atheist merupakan pola berfikir seseorang.
Memang benar atheist pola berfikir yang terlepas dari doktrin teoritis apapun. Tapi malah menuju pada kemerdekaan dalam dunia berfikirnya sendiri. Dan menunjukkan independensi dalam berekspresi dalam kehidupan. Dan tak terikat oleh teoritis apapun,hanya hasil dari proses pemikiran sendiri. Dan menunjukkan jati diri atau karakter dengan cipta karya bukan sebatas membenarkan teori yang membenarkan tidak adanya Tuhan.
Jadi Atheist menurutku,adalah ketika pola berfikir sudah selesai dengan teori / Tuhan, dan mampu menciptakan pencerahan sendiri,dengan membaca keadaan.
Karena theist tidak akan sampai pada titik itu,karena masih terpenjara aturan. Maka dari itu atheist adalah wacana perubahan dan pembaharuan,supaya kehidupan bisa bersinergi dengan alam.
Bila dilihat dari sini, bisa siapa saja tanpa terkecuali sampai pada atheist.
Yaitu kemerdekaan dalam intuisinya demi menuju perbaikan dalam kehidupan. Bisa juga manusia beragamapun, ketika pola berfikirnya sampai pada kemerdekaannya.
Sebagai contoh manusia beragama,ketika dia berani mempelajari konsep ketuhanannya,dan dia benar benar tahu hakikatnya,bisa dipastikan dia akan selesai dengan percaya dan tidak percaya pada Tuhan. Yang ada dia akan mencoba bereksperimen dengan penyatuan dirinya dengan alam,untuk melakukan sebuah perubahan kemanusiaan dalam mengikuti dinamika alam.
Theist dengan bermedia Tuhan dan mendalami wilayah terlarang agama yaitu ketuhanan,akan sampai pada titik atheist juga. Agama hanya sebatas identitas dalam penempatan diri di masyarakat.
Apa gunanya theist dan atheist kita kalau masih terikat teori tak berujung.
Seharusnya dengan bukti cipta karya yang bermanfaat pada umat manusia. Juga menjadi penerang pada kegelapan hati para umat manusia.
Atheist atau theist tetaplah manusia. Dan kemanusiaan adalah nilai pengikat keduanya.
Friday, November 9, 2018
KITAB TANTU PANGGELARAN
Karya Sastra Jawa Pertengahan muncul pada masa Kerajaan Majapahit, mulai dari abad ke-13 sampai kira-kira abad ke-16. Pada masa ini muncul karya-karya puisi yang berdasarkan metrum Jawa atau Indonesia asli. Karya-karya ini disebut kidung. Salah satu contohnya adalah Tantu Panggelaran yang akan dibahas secara lebih lanjut.
Tantu Panggelaran adalah sebuah teks prosa yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia di pulau Jawa dan segala aturan yang harus ditaati manusia. Tantu Panggelaran ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan pada zaman Majapahit. Yang kemudian telah diteliti pada tahun 1924 di Leiden oleh Dr. Th. Pigeaud. Tantu Panggelaran terdiri atas mitos-mitos yang berhubungan dengan penciptaan dan menyebarnya mandala-mandala (tempat-tempat suci), dan Bhimasuci (juga dikenal sebagai Dewaruci). Mitos tentang penciptaan ini, antara lain manusia pertama di pulau Jawa, adanya rumah sebagai tempat tinggal, adanya pekerjaan sebagai mata pencaharian manusia, pakaian, perhiasan, dan lain-lain hingga terjadinya kesempurnaan keseimbangan dalam kehidupan manusia dan alam semesta, hal ini merupakan sinkretisme yang terjadi dari latar belakang budaya yang berpengaruh pada saat Tantu Panggelaran diciptakan.
Yang menarik perhatian adalah bagaimana isi naskah itu menggambarkan alam pikiran pengarangnya yang hidup pada masa tertentu dalam suatu lingkungan yang khusus dengan memunculkan berbagai identitas budaya (Jawa, Hindu, Buddha) yang memiliki toleransi hidup berdampingan dengan damai.
Berdasarkan edisi teks yang telah dikerjakan oleh Pigeaud, naskah yang dipilih olehnya didasarkan pada kenyataan bahwa naskah itu merupakan satu-satunya di antara semua naskah yang ada yang memiliki kolofon dan berangka tahun. Kolofon tersebut, dalam transliterasi Pigeaud berbunyi:
Iti sang hyang Tantu panglaran, kagaduhana de sang mataki-taki, kabuyutan ing sang Yawadipa, caturpakandan, caturpaksa, kabuyutan ring Nanggaparwwata. Muwah tanpasasangkala, mulanikang manusa Jawa, duk durung sang hyang Mahameru tka ring Jawa, sawusira tibeng Jawa: mangkana nimitanya tanpasasangkala, reh yan ing purwwa. Tlaç [s]inurat sang hyang Tantu panglaran ring karang kabhujangggan Kutritusan, dina u(manis) bu(dha) madangsya, titi caci kaca, rah 7, tenggek 5, rsi pandawa buta tunggal: 1557.
Kutipan di atas, memaparkan bahwa penulis/penyalin teks ini tinggal di suatu karang kabhujanggan, yaitu suatu lokasi khusus tempat tinggal para bhujangga (penyandang tugas keagamaan), Kutritusan namanya. Dinyatakan pula bahwa kitab ini hendaknya menjadi milik mereka (para pertapa) yang “menjalani upaya (ritual keagamaan) dengan penuh perhatian” (mataki-taki) di tempat-tempat suci kuna (kabuyutan) di Jawa. Jelaslah bahwa dari pembacaan terhadap seluruh teks Tantu Panggelaran, ternyata teks ini sama sekali tidak mengacu atau menunjukkan pernyataan keterlibatan apapun dengan kalangan raja dan bangsawan. Maka dapat dikatakan bahwa teks ini dibuat untuk kalangan keagamaan di luar lingkungan kehidupan kraton.
Sedangkan Angka tahun 1557 Çaka adalah 1635 M. Menurut Zoetmulder dalam Kalangwan (1983: 59), Tantu Panggelaran digolongan ke dalam naskah Jawa Kuna. Menurut Sedyawati (2001) TP merupakan sebuah teks berbahasa Jawa Kuna yang muda, sedangkan Poerbatjaraka dalam Kapustakan Djawi (1952) mendaftar Tantu Panggelaran termasuk karya sastra zaman Jawa Pertengahan. Namun dalam kolofon tersebut tidak dinyatakan apakah tahun tersebut merupakan tahun penulisan atau penyalinan naskah.
konsep-konsep yang terdapat di dalam Tantu Panggelaran merupakan pengaruh ajaran Hindu yang terbawa dari India, sedangkan agama Hindu ketika itu (di India) memiliki dasar ajaran dari agama Buddha, sehingga secara tidak langsung ajaran-ajaran yang terdapat di dalam Tantu Panggelaran sekaligus mendapatkan pengaruh agama Buddha. Jejak pengaruh India itu terungkap jelas dalam cerita Tantu Panggelaran, terutama dalam pengungkapan di awal ceritanya, seperti kutipan berikut:
…. Yata matangnyan hengang henggung hikang nusa Jawa, sadala molah marayegan, hapan Tanana sang hyang Mandarparwwata, nguniweh janma manusa. Yata matangnyan mangadeg bhatara Jagatpramana, rep mayugha ta sira ring nusa Yawadipa …; yata matangnya hana ri Dihyang ngaranya mangke, tantu bhatara mayugha nguni kacaritanya.
Malawas ta bhatara manganaken yugha, motus ta sira ri sang hyang Brahma Wisnu magawe manusa. ….
“Uduh kamu kita hyang dewata kabeh, rsigana, curanggana, widyadara, gandarwwa, laku pareng Jambudipa, tanayangku kita kabeh, alihakna sang hyang Mahameru, parakna ring nusa Jawa, makatitindih paknanya marapwan apageh mari enggangenggung ikang nusa Jawa, lamun tka ngke sang hyang Mandaragiri. Laku, tanayangku kabeh!”
Dinyatakan bahwa pada saat itu pulau Jawa masih berguncang ke sana ke mari, selalu bergerak berpindah-pindah sebab tidak ada gunung-gunung (Tanana sang hyang Mandaraparwwata), bahkan belum ada manusia (nguniweh janma manusa), maka batara Jagatpramana (nama lain batara Guru) bersemadi (mayugha) di pulau Jawa, di Dihyang tepatnya, sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama Dieng. Setelah batara Guru selesai melakukan semadi, kemudian memerintahkan hyang Brahma dan Wisnu untuk menciptakan manusia (motus ta sira ri sang hyang Brahma Wisnu magawe manusa). Selanjutnya dipaparkan tentang perintah Batara Guru memindahkan gunung Mahameru yang berasal dari Jambudwipa (=India) ke pulau Jawa untuk dijadikan sebagai tindihnya, agar pulau Jawa berhenti bergerak berpindah-pindah.
Memperhatikan cerita tersebut di atas, dengan memindahkan gunung Mahameru dari India ke pulau Jawa, memungkinkan terjadinya proses Indianisasi. Mahameru yang dianggap sebagai titik pusat alam semesta itu, kemudian dipindah ke pulau Jawa untuk digunakan sebagai poros kekuatan gunung dari gunung-gunung lain. Gunung-gunung lain itu terjadinya dari serpihan tanah yang runtuh dari gunung Mahameru ketika dipindahkan, yaitu gunung Kelasa, Wilis, Kampud, Kawi, Arjuna, Kumukus, dan lain sebagainya.
Berdasarkan paparan di atas, bahwa dalam Tantu Panggelaran terdapat pengaruh-pengaruh agama Hindu dan Buddha sekaligus serta terungkapkan jejak-jejak Indianisasi dari transformasi budaya dan politik ketika gunung Mahameru dipindahkan.
Kisah Tantu Panggelaran dapat dibagi menjadi beberapa babak:
1. Awal Keberadaan Pulau Jawa
Pada mulanya pulau Jawa tidak berpenghuni dan dalam keadaan khaotis, karena pulau Jawa selalu bergoncang (bandingkan dengan batu apung yang bergoncang di atas permukaan air). Oleh karena itu, pulau Jawa membutuhkan gunung untuk menancapnya, sehingga tidak bergoncang lagi. Gunung tempat Batara Guru mengatur keadaan yang khaotis ini adalah Gunung Dihyang (atau Gunung Dieng, lihat artikel tentang Gunung Dieng). Proses pengaturannya berjalan sebagai berikut: para Dewa mengangkat puncak gunung Mahameru (Gunung Semeru) dari India dan ditempatkan di sebelah barat pulau Jawa. Namun yang terjadi adalah, bahwa pulau Jawa terjungkit dan sebelah timur pulau Jawa terangkat ke atas. Oleh karena itu para dewa memindahkannya ke sebelah timur, tetapi dalam perjalanan pemindahan gunung itu ke sebelah timur, gunung tersebut berceceran di sepanjang jalan, sehingga terjadilah gunung Lawu, Wilis, Kelut, Kawi, Arjuna, Kumukus dan pada akhirnya Semeru. Setelah itu keadaan pulau Jawa tidak bergoncang lagi.
2. Penciptaan Manusia
Setelah pulau Jawa tidak lagi bergoncang, Batara Guru mempunyai keinginan untuk membuat manusia sebagai penghuni pulau Jawa. Untuk itu dia memerintahkan Batara Brahma dan Batara Wisnu menciptakan manusia. Mereka menciptakan manusia dari tanah yang dikepal-kepal lalu dibentuk manusia berdasarkan rupa dewa. Brahma menciptakan manusia laki-laki dan Wisnu menciptakan manusia perempuan, yang kemudian kedua manusia ciptaan para dewa tersebut dipertemukan dan mereka hidup saling mengasihi.
3. Proses Terjadinya Peradaban Manusia
Pada mulanya manusia yang diciptakan oleh batara Brahma dan bathara wisnu masih telanjang karena tidak dapat membuat pakaian, tidak tinggal di dalam rumah, tidak dapat berbicara, oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa manusia pertama yang tinggal di pulau Jawa tidak mempunyai peradaban. Untuk itu para dewa diberi tugas oleh Batara Guru untuk "memberi pelajaran" kepada manusia, supaya mereka dapat membuat pakaian, membuat rumah, dapat berbicara antara satu sama lainnya. Pada intinya para dewa mengajar manusia Jawa tentang budaya dan peradaban. Contoh yang dikutip dari kitab Tantu Panggelaran untuk Babak ini:
Demikianlah kata Bhatara Mahakarana (istilah lain dari Batara Guru):
Anakku, Brahma, turunlah engkau ke Pulau Jawa. Pertajamlah benda-benda tajam, misalnya: panah, parang, pahat, pantek, kapak, beliung, segala pekerjaan manusia. Engkau akan disebut pandai-besi. Engkau akan mempertajam benda-benda tajam itu di tempat yang bernama Winduprakasa. Ibu jari (kw. empu) kedua kakimu mengapit dan menggembleng, besi anak panah dikikir. Panah itu menjadi tajam oleh ibu jari kedua kaki, maka dari itu engkau akan disebut Empu Sujiwana sebagai pandai-besi, karena ibu jari/empu dari kakimu mempertajam besi. Oleh karena itu, tukang pandai-besi disebut empu, karena ibu jari kakimu menjadi alat bekerja. Demikianlah pesanku kepada anakku.
Lagi pesanku kepada anakku Wiswakarmma. Turunlah ke Pulau Jawa membuat rumah, biar dirimu ditiru oleh manusia. Sebab itu, engkau dinamai Hundahagi (membangun).
Adapun engkau Iswara. Turunlah ke Pulau Jawa. Ajarlah manusia ajaran berkata-kata dengan bahasa, apalagi ajaran tentang Dasasila (sepuluh hal yang utama) dan Pancasiska (lima hukum/tata tertib). Engkau menjadi guru dari kepala-kepala desa, sehingga engkau dinamai Guru Desa di Pulau Jawa.
Adapun engkau Wisnu. Turunlah engkau ke Pulau Jawa. Biarlah segala perintahmu dituruti oleh manusia. Segala tingkah lakumu ditiru oleh manusia. Engkau adalah guru manusia, hendaknya engkau menguasai bumi.
Adapun engkau Mahadewa, turunlah engkau ke Pulau Jawa. Hendaknya engkau menjadi tukang pandai emas dan pembuat pakaian manusia.
Bhagawan Ciptagupta hendaknya melukis dan mewarnai perhiasan, serta membuat hiasan yang serupa dengan ciptaan, menggunakan alat ibu jari tanganmu. Oleh karena itu engkau akan dinamai Empu Ciptangkara sebagai pelukis.
Latar Belakang Budaya
Dalam ajaran agama Hindu dan Budha dikenal adanya konsepsi makrokosmos (susunan alam semesta) bahwa alam semesta berbentuk lingkaran pipih seperti piringan dengan gunung Mahameru sebagai pusatnya. Mahameru yang dimaksud adalah gunung dalam konsepsi ajaran Hindu, yang dianggap sebagai titik pusat alam semesta. Pada mulanya Mahameru terletak di benua Jambudwipa (India). Benua tersebut merupakan tempat hidup manusia, hewan dan tumbuhan, sedangkan di lerengnya terdapat hutan lebat tempat tinggal berbagai binatang yang mempunyai mitos dan para pertapa. Sejak jaman agama Hindu dan Budha berkembang di Jawa, masyarakat sudah menganggap keramat gunung tersebut. Dalam Tantu Panggelaran disebutkan gunung Mahameru yang dibawa ke pulau Jawa itu, bernama gunung Pawitra. Menurut Lestari (1976) gunung Penanggungan yang terdapat di Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Mojokerto, dahulunya dikenal dengan nama gunung Pawitra dalam kepercayaan masyarakat Jawa adalah salah satu perwujudan konsepsi makrokosmos tersebut karena gunung itu diyakini sebagai salah satu puncak Mahameru yang dipindahkan oleh dewa penguasa alam. Dan hingga kini gunung Penanggungan masih dianggap keramat oleh masyarakat sekitarnya, karena bentuk gunung Penanggungan merupakan salah satu gunung yang berarti kabut dengan puncaknya yang runcing selalu tertutup kabut, yang lain daripada gunung-gunung lainnya.
Menurut Santiko (Kompas, 14 Januari 2009) Kitab Tantu paggelaran yang muncul pada masa Majapahit ini merupakan kitab multikultural, mengingat Majapahit adalah kerajaan agro-maritim yang juga multikultural. Perdagangan terjadi, baik lokal, antarpulau, atau internasional, melibatkan pedagang dari berbagai daerah. Hal ini menciptakan kondisi multikultural di Majapahit yang menjadi situs pertemuan dan percampuran aneka unsur budaya “pendatang” dan lokal. Kondisi multikultural ini terjalin dengan proses-proses politik di Majapahit, sejalan dengan ”proyek politik Nusantara” Gajahmada untuk memperluas dan menyatukan wilayah Majapahit, yang dicetuskan sebagai ”Sumpah Palapa” di hadapan Ratu Tribhuwanotunggadewi, ibu Raja Hayam Wuruk. Dinamika politik-budaya ini dipertahankan, khususnya oleh Raja Hayam Wuruk yang mempertahankan hegemoni Majapahit meski harus bekerja sendiri selama 25 tahun. Dengan wafatnya Hayam Wuruk tahun 1389, kerajaan Majapahit memudar karena ada konflik internal, perebutan kekuasaan. Meski demikian, kondisi multikultural tetap dipertahankan, khususnya dalam bidang agama. Hayam Wuruk dan raja-raja Majapahit lainnya amat menghargai multiagama yang berkembang saat itu.
Di dalam Tantu Panggelaran hubungan makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (manusia) saling memberikan keseimbangan dari pencapaian kesempurnaannya masing-masing. Tantu Panggearan memberikan gambaran sebagai salah satu karya sastra yang merepresentasi kehidupan multikultural dalam cerita. Misalnya seperti kutipan di bawah ini:
Hana ta brahmāna sakeng Jambuddipa, sang hyang Tkěn-wuwung aranya; anggaganacara anūtta lari sang hyang Mahāmeru. Manwan ta tejā putih: “Ika pawitra nggoning sang hyang” lingnira. Anger ta sira luhurning thirtha mili maring Sukāyajnā; tuminghal ta sang hyang Içwara:
“Jah sang brahmāna” … “haywa sira hangher hing ruhuring kene. Tunggal hikang bañu hiki, sugyan kita rinangkusa, acěpěl tikang bañu. Pamet hunggon maneh, hangruhuri dahat kita”.
Ndah paksa tinaggehan sang brahmāna; kewalya juga tanangga, … metu cirinya tan yogya. Awamana ri sang pandita, …, angising taya ring bañu:
“Kadi wruhanira sang panddita” lingnira “Yan mamyāngising ring lwah.”
… tuminghal ta bhatareçwara:
“Uduh, rinangkusa hikang brahmāna, keli tahine sne. Ih, waluya ta ko, bañu, pareng natare dang hyang Tkěn-wuwung!”
…. Mwajar dang hyang Tkěn-wuwung:
“Ih, bañu mili maring natar, ising mangan tayang mami, huni wus lepas keli, mangke ta munggwing natar. ,,,. Ih, çakti tmen sang pāndita!”
Rěp datang dang hyang Tkěn-wuwung ri kahanan sang hyang Içwara:
“Uduh sangtabya ranak sang pāndita; …. Mapa kalinganya?”
Sumahur bhatāra Içwara:
“Ah, rinangkusa tan sipi dahat, harih, ….
….
“Lah, sang brahmāna yan ahyun warahen, lamun si kita haywa salah rūpa; den tunggal kang warnna; pawiku kita hiri kami, manandanga hupakāra bhatāra, matangnyan tunggal kang warnna.”
“Uduh, bhagawan yan mangkana, pwangkulun.”
Wilaça laksana ning wiku; rěp sdang sinangaskāra sang brahmāna, kinen çiwopakārana; inaranan mpu Siddayogi. Winarah ring upadeça de bhatareçwara.
Kutipan di muka, mengisahkan tentang hadirnya seorang brahmana berasal dari India yang bernama Teken-wuwung ke pulau Jawa pada saat ia mengikuti pemindahan gunung Mahameru. Kisah ini menggambarkan bahwa pemindahan Mahameru ke tanah Jawa, disertai masuknya budaya India yang dibawa oleh sang brahmana. Namun ketika tindakan sang brahmana menyalahi tatanan masyarakat dan lingkungan setempat, maka ia harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Tatanan masyarakat yang disesuaikan adalah sang brahmana disucikan kembali oleh pendeta Siwa sebagai seorang wiku di tanah Jawa dengan berganti nama Sidayogi. Dan pada tatanan lingkungan, sang brahmana tidak diperkenankan mengotori aliran sungai dari pegunungan dengan perlakuannya yang tidak pada tempatnya/tidak senonoh (buang air besar).
Kisah tersebut menggambarkan hubungan makrokosmos dan mikrokosmos serta akulturasi budaya dalam sebuah keseimbangan yang ditata demi keselarasan kehidupan. Gunung Mahameru sebagai titik pusat alam semesta dan tatanan lingkungan hidup yang diwakili oleh sungai yang mengalir dari daerah pegunungan merupakan makrokosmos. Manusia yang berada di lingkungan itu berselaras dengan keadaan sekitar agar dapat terus menjaga keseimbangan merupakan gambaran mikrokosmos. Hubungan timbal balik di antara keduanya dapat mewujudkan harmonisasi dalam kehidupan dengan proses akulturasi pada aspek budaya. Proses akulturasi yang terjadi dalam kisah ini adalah penyesuai budaya India terhadap budaya Jawa dalam konsep agama Hindu, yang diwakili oleh pendeta Siwa, dan agama Buddha, yang diwakili oleh sebutan bagi sang brahmana setelah disucikan, Sidayogi. 5 Yogi adalah istilah yang dikenal untuk penyebutan para suci dalam agama Buddha.
Dalam Tantu Paggelaran, peristiwa-peristiwa tersebut digambarkan dalam kisah-kisah yang berkaitan dengan penggambaran tentang nama tokoh-tokoh, misalnya seperti para bathara, sidaresi, hyang, dewa, atau wiku, dan lain sebagainya. Dikisahkan bahwa pencapaian kesempurnaan manusia dilakukan dengan pancagati sangsara (dari manusia disucikan menjadi wiku, lalu menjadi dewa, hyang, sidaresi, dan terakhir menjadi bhatara) sebagai pelepasan diri manusia melalui lima tingkat penjelmaan dalam rangka lingkaran lahir kembali, seperti kutipan di bawah ini:
Mojar ta bhatāra Guru:
“Kapan ta kang manusa limpada sakeng pañcagati sangsara? Dawning makāryya mandala panglpasana pitarapāpa. Antuk aning manusa mangaskara hayun wikuha; matapa sumambaha dewata, dewata suměngkaha watěk hyang, watěk hyang suměngkāha siddārsi, siddārsi suměngkāha watěk bhatāra. Lena sakerikā hana pwa wiku sasar tapabratanya; tmahanya tumitis ing rāt, mandadi ratu cakrawarthi wiçesa ring bhuwana, wurungnya mandadi dewata. Matangnyan wuwurungan dewata prabhu cakrawarthi, apan tmahan ing wiku sasar tapabratanya hika. Matangnyan ta kita, hyang Wisnu, pangaskārani kanyu!”
Dalam agama Hindu, konsep tersebut dikenal dengan sebutan reinkarnasi sebagai kelahiran kembali sesuai dengan karma manusia, sedangkan dalam agama Buddha pelepasan diri manusia mencapai nirwana melalui dharma. Dalam setiap kenaikan dalam tingkatan tapa itu, masing-masing harus melalui pensucian kembali hingga di akhir pencapaian menjadi batara yang telah melepaskan diri dari segala kegiatan yang bersifat duniawi. Hal ini merupakan pelepasan diri dari kesengsaraan untuk mencapai kebahagiaan abadi. Dalam agama Buddha dikenal Samsara adalah titik pencapaian satu kesatuan kesadaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, yaitu nirwana. Memperhatikan kisah tersebut, dapat diketahui bahwa konsep pancagati sangsara itu merupakan ajaran yang berasal dari agama Buddha.
Tantu Panggelaran banyak menyebutkan nama-nama tempat dari yang pertama dibangun, mandala Sarwasida hingga yang terakhir mandala Hahah yang berada di sekitar gunung Mahameru (Pawitra). Pembangunan selanjutnya adalah dari masing-masing para suci yang telah menerima wewenang dari Bhatara Guru. Demikian pula, banyak mitos tentang dewa-dewi yang tidak pernah didengar di India dijumpai di Jawa, misalnya hyang Kandyawan, sang Mangukuhan, sang Sandang Garba, sang Katung Malaras, sang Karung Kalah, sang Wreti Kandayun, batari Sri, sang hyang Ketek-meleng, batari Smari, batari Uma, dan lain-lain. Orang Majapahit dengan sadar menciptakan dewa-dewi baru, dan dalam karya sastra bernama Tantu Panggelaran secara implisit disebut perubahan terjadi karena ”dewa-dewa Jambhudwipa telah menjadi dewa-dewa Jawa”, disebabkan oleh pemindahan puncak gunung Mahameru ke Pulau Jawa.
Akhirnya, seperti juga halnya yang dialami oleh agama-agama lain, Hinduisme mengalami tarik-menarik antara ide universalisme dan lokalitas, serta antara pendekatan purifikasi dan pendekatan budaya. Sejarah agama-agama besar penuh dengan cerita gerakan purifikasi yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dialektika keagamaan dan relasi kuasa. Namun dengan terkuaknya Tantu Panggelaran dapat dilihat bahwa tidaklah demikian keadaannya. Yang paling terlihat adalah dengan pemindahan gunung Mahameru dari India ke Jawa, merupakan gambaran yang jelas dari adanya pengaruh agama yang terbawa. Bahkan tidak hanya agama, namun juga budaya dan politik yang menyertainya. Meskipun demikian, hal itu tetap dapat diterima sebagai sesuatu yang berharga dari warisan budaya Indonesia, dan patut dipelajari lebih dalam untuk dipetik manfaatnya.
Tuesday, August 7, 2018
Kenal jiwa raga sendiri
BISAKAH BERBICARA DENGAN TUBUH ANDA MENJADI JAWABAN KELUHAN KESEHATAN ANDA?
21 Mei 2016
Oleh: Carolanne Wright
Kontribusi penulis untuk Wake Up World
Jangan bimbang, pikiran dapat menjadi alat penyembuhan yang kuat. Dan ilmu pengetahuan mulai mengakui apa yang telah dikenal oleh para penyembuh, para intuitif, shaman dan guru spiritual selama ribuan tahun. Peneliti seperti Bruce Lipton, Ph.D. telah menunjukkan bahwa pikiran kita, baik secara sadar atau tidak, memiliki dampak yang mendalam pada tubuh kita - sampai ke tingkat sel dan DNA kita. Dari waktu ke waktu, telah menunjukkan bahwa ketika kita memperlakukan diri kita dengan buruk melalui pikiran dan percakapan serta keyakinan, kesehatan pada akhirnya akan menderita. Untungnya, sebaliknya juga benar. Ketika kita berada dalam keadaan cinta murni tanpa syarat - mukjizat terjadi sebagai hal yang biasa.
Mengambil cerita dari seorang wanita yang menderita kanker stadium IV. Tubuhnya hancur dari terapi konvensional - ia telah kehilangan rambutnya dan berat badan, menua dengan cepat dan kesakitan. Dia pada dasarnya sekarat. Pada suatu malam, saat dia berdiri di depan cermin, melihat tubuh kurus, dia sangat terpukul dan timbul kasih sayang sepenuh hati untuk dirinya sendiri. Dia mulai berbicara dengan penuh kasih kepada tubuhnya, layaknya ia berkata kepada anak kecil yang ketakutan, mengatakan kepada dirinya sendiri/tubuhnya betapa dia sangat mencintainya. Dia juga menyatakan penyesalannya karena ia selama ini tidak menunjukkan cinta sejati dan hormat terhadap tubuhnya. Percakapan berlangsung untuk beberapa waktu. Kemudian dia tidur dan merasa damai dan puas dimana selama bertahun-tahun tidak pernah dia rasakan. Sebagaimana ia ceritakan, ini adalah awal dari pemulihan yang mencengangkan.
SETIAP PIKIRAN BERARTI
Biasanya kita tidak memberikan banyak perhatian pada pikiran-pikiran yang berputar di kepala kita – dan ini merupakan kesalahan besar. Berikut ini alasannya. Kata-kata negatif bersenandung di latar belakang otak kita dan sedang didengar oleh sel-sel kita sepanjang hari. Sebagaimana Ian Brown telah menunjukkan pada bukunya “Kata-kata Berguna Untuk Sel Anda: "Sel adalah penimbun - emosi, pikiran, dan pengalaman-pengalaman sebelumnya - dan tidak ada yang dapat dihentikan kecuali Anda memberitahu pikiran dan emosi untuk pergi."
Kabar baiknya adalah bahwa sel-sel kita juga menyerap penuh kasih sayang, semangat, pikiran dan kata-kata positif. Saya masih ingat mendengar seorang Rinpoche Tibet terkenal, mengatakan bahwa setiap pikiran – satu pikiran sangat berarti. Pada saat itu saya berpikir: "Ah masa sih?." Sekarang saya paham. Bahkan para ilmuwan kini menyadari bahwa DNA dapat di program dengan kata-kata dan frekuensi.
Alih-alih membombardir sel-sel kita dengan pikiran dan keyakinan yang tidak begitu bermanfaat, kita bisa mulai menyembuhkan diri dengan pemahaman pertama bahwa kita tidak hanya otak yang didukung oleh tubuh yang signifikan - orientasi buruk di sebagian masyarakat Barat saat ini. Sesungguhnya kami ini merupakan sistim yang sangat cerdas di mana masing-masing bagian memiliki kesadaran yang unik yang memberikan kontribusi untuk keseluruhan.
KATA-KATA POSITIF KEPADA TUBUH UNTUK PENYEMBUHAN
Praktisi Medis intuitif Caroline Myss ingat saat dia menerima "pesan" yang kuat dari hati (liver) seorang klien, yang menyatakan bahwa ia sedih dan bingung. Ketika Caroline mempertanyakan wanita tentang hal itu, klien malu-malu mengakui bahwa ia kesal terhadap hatinya karena tidak "bekerja sama" menjadi sehat. Hal yang sama berlaku untuk setiap organ dan sel dalam tubuh - semua mendengarkan (dan menanggapi) pikiran kita.
Ketika kita mengakui saling ketergantungan yang luar biasa ini dalam diri kita, kita dapat mengembangkan hubungan yang penuh kasih dan hormat dengan tubuh, organ-organ dan sel-sel kita. Menenangkan pikiran melalui meditasi dan mendengarkan tubuh kita adalah langkah pertama yang baik. Anda akan terkejut akan informasi yang muncul ke permukaan. Kami kemudian bisa mengatakan dengan suara keras kata sederhana dengan niat tulus: Aku mencintaimu. Beberapa mulai dengan area spesifik yang bermasalah, orang lain menyelimuti seluruh tubuh dengan kata-kata penyembuhan.
Therese Wade, MSc menawarkan tips tambahan yang ada pada bukunya “Sel Anda Mendengarkan: Bagaimana Berbicara dengan Tubuh Anda Dapat Menyembuhkan”:
• Sapalah tubuh Anda dengan kasih sayang yang tulus, memahami bahwa tubuh terdiri dari sel-sel yang memiliki kesadaran dan mengalami emosi.
• Membangun kepercayaan dengan melibatkan tubuh Anda dalam percakapan mental yang positif tentang keinginan Anda untuk Anda berdua bekerja sama dan mengatasi penyakitnya.
• Memungkinkan perubahan dalam percakapan dengan menggunakan pikiran dan kata-kata berbeda yang menimbulkan emosi yang tinggi secara spontan.
Dengan tujuan yang sama, pemimpin spiritual Osho menambahkan:
"Setelah Anda mulai berkomunikasi dengan tubuh Anda, hal-hal menjadi sangat mudah. Tubuh tidak perlu dipaksa namun dapat dibujuk. Seseorang tidak perlu bertarung dengan tubuh – itu sangat buruk, kekerasan, agresif, dan konflik apapun akan menciptakan lebih banyak ketegangan. Jadi Anda tidak perlu berada dalam kondisi yang menimbulkan konflik (tegang) - biarkan kenyamanan menjadi penguasa".
Osho mengingatkan kita bahwa penyakit yang berulang dan kronis dapat mengindikasikan penyakit serius, sehingga harus bijaksana untuk berkonsultasi dengan praktisi kesehatan berpengalaman untuk di evaluasi. Selain itu, jangan menyebutkan ketidak-nyamanan atau rasa sakit/penyakit, namun Anda harus berbicara langsung kepada otak / tubuh.
Di bawah ini Osho memberikan dua contoh bagaimana menyambut ketidak seimbangan dalam tubuh:
Berat badan: "Pertama beritahukan otak bahwa Anda mengirim pesan ke tubuh, dan bahwa otak harus menyebarkannya. Kemudian beritahukan tubuh bahwa 5 pound atau kilo yang berkurang akan ideal dan bahwa Anda mencerna secara normal. Jangan melibatkan cara makan sama sekali. Hanya memberitahu tubuh bahwa penurunan beberapa kilo diperlukan. Dan ketika Anda sampai di sana, beritahu tubuh untuk tetap berada pada berat ideal, tidak ada kebutuhan untuk kehilangan berat badan lagi atau naik. "
Migrain: "Berbicaralah kepada tubuh dengan dua cara. Pertama berbicara ke seluruh tubuh, mengatakan bantuan diperlukan untuk menghilangkan rasa sakit ini dalam otak. Jelaskan kepada tubuh bahwa sakit ini bukan alami. Tidak perlu berada pada rasa sakit ini. Kemudian berbicara ke otak secara langsung, melalui kata-kata Anda sendiri mengatakan, "Aku mencintaimu tapi rasa sakit ini bukan bagian dari alam, dan sekarang saatnya untuk mengembalikan ke tatanan semula." Dan pada saat migraine hilang ingatkan otak agar tidak kembali. "
Pada akhirnya ia yakin bahwa "Manusia perlu diajarkan bagaimana berteman dengan tubuh" agar dapat benar-benar sembuh dan sehatBISAKAH BERBICARA DENGAN TUBUH ANDA MENJADI JAWABAN KELUHAN KESEHATAN ANDA?
21 Mei 2016
Oleh: Carolanne Wright
Kontribusi penulis untuk Wake Up World
Jangan bimbang, pikiran dapat menjadi alat penyembuhan yang kuat. Dan ilmu pengetahuan mulai mengakui apa yang telah dikenal oleh para penyembuh, para intuitif, shaman dan guru spiritual selama ribuan tahun. Peneliti seperti Bruce Lipton, Ph.D. telah menunjukkan bahwa pikiran kita, baik secara sadar atau tidak, memiliki dampak yang mendalam pada tubuh kita - sampai ke tingkat sel dan DNA kita. Dari waktu ke waktu, telah menunjukkan bahwa ketika kita memperlakukan diri kita dengan buruk melalui pikiran dan percakapan serta keyakinan, kesehatan pada akhirnya akan menderita. Untungnya, sebaliknya juga benar. Ketika kita berada dalam keadaan cinta murni tanpa syarat - mukjizat terjadi sebagai hal yang biasa.
Mengambil cerita dari seorang wanita yang menderita kanker stadium IV. Tubuhnya hancur dari terapi konvensional - ia telah kehilangan rambutnya dan berat badan, menua dengan cepat dan kesakitan. Dia pada dasarnya sekarat. Pada suatu malam, saat dia berdiri di depan cermin, melihat tubuh kurus, dia sangat terpukul dan timbul kasih sayang sepenuh hati untuk dirinya sendiri. Dia mulai berbicara dengan penuh kasih kepada tubuhnya, layaknya ia berkata kepada anak kecil yang ketakutan, mengatakan kepada dirinya sendiri/tubuhnya betapa dia sangat mencintainya. Dia juga menyatakan penyesalannya karena ia selama ini tidak menunjukkan cinta sejati dan hormat terhadap tubuhnya. Percakapan berlangsung untuk beberapa waktu. Kemudian dia tidur dan merasa damai dan puas dimana selama bertahun-tahun tidak pernah dia rasakan. Sebagaimana ia ceritakan, ini adalah awal dari pemulihan yang mencengangkan.
SETIAP PIKIRAN BERARTI
Biasanya kita tidak memberikan banyak perhatian pada pikiran-pikiran yang berputar di kepala kita – dan ini merupakan kesalahan besar. Berikut ini alasannya. Kata-kata negatif bersenandung di latar belakang otak kita dan sedang didengar oleh sel-sel kita sepanjang hari. Sebagaimana Ian Brown telah menunjukkan pada bukunya “Kata-kata Berguna Untuk Sel Anda: "Sel adalah penimbun - emosi, pikiran, dan pengalaman-pengalaman sebelumnya - dan tidak ada yang dapat dihentikan kecuali Anda memberitahu pikiran dan emosi untuk pergi."
Kabar baiknya adalah bahwa sel-sel kita juga menyerap penuh kasih sayang, semangat, pikiran dan kata-kata positif. Saya masih ingat mendengar seorang Rinpoche Tibet terkenal, mengatakan bahwa setiap pikiran – satu pikiran sangat berarti. Pada saat itu saya berpikir: "Ah masa sih?." Sekarang saya paham. Bahkan para ilmuwan kini menyadari bahwa DNA dapat di program dengan kata-kata dan frekuensi.
Alih-alih membombardir sel-sel kita dengan pikiran dan keyakinan yang tidak begitu bermanfaat, kita bisa mulai menyembuhkan diri dengan pemahaman pertama bahwa kita tidak hanya otak yang didukung oleh tubuh yang signifikan - orientasi buruk di sebagian masyarakat Barat saat ini. Sesungguhnya kami ini merupakan sistim yang sangat cerdas di mana masing-masing bagian memiliki kesadaran yang unik yang memberikan kontribusi untuk keseluruhan.
KATA-KATA POSITIF KEPADA TUBUH UNTUK PENYEMBUHAN
Praktisi Medis intuitif Caroline Myss ingat saat dia menerima "pesan" yang kuat dari hati (liver) seorang klien, yang menyatakan bahwa ia sedih dan bingung. Ketika Caroline mempertanyakan wanita tentang hal itu, klien malu-malu mengakui bahwa ia kesal terhadap hatinya karena tidak "bekerja sama" menjadi sehat. Hal yang sama berlaku untuk setiap organ dan sel dalam tubuh - semua mendengarkan (dan menanggapi) pikiran kita.
Ketika kita mengakui saling ketergantungan yang luar biasa ini dalam diri kita, kita dapat mengembangkan hubungan yang penuh kasih dan hormat dengan tubuh, organ-organ dan sel-sel kita. Menenangkan pikiran melalui meditasi dan mendengarkan tubuh kita adalah langkah pertama yang baik. Anda akan terkejut akan informasi yang muncul ke permukaan. Kami kemudian bisa mengatakan dengan suara keras kata sederhana dengan niat tulus: Aku mencintaimu. Beberapa mulai dengan area spesifik yang bermasalah, orang lain menyelimuti seluruh tubuh dengan kata-kata penyembuhan.
Therese Wade, MSc menawarkan tips tambahan yang ada pada bukunya “Sel Anda Mendengarkan: Bagaimana Berbicara dengan Tubuh Anda Dapat Menyembuhkan”:
• Sapalah tubuh Anda dengan kasih sayang yang tulus, memahami bahwa tubuh terdiri dari sel-sel yang memiliki kesadaran dan mengalami emosi.
• Membangun kepercayaan dengan melibatkan tubuh Anda dalam percakapan mental yang positif tentang keinginan Anda untuk Anda berdua bekerja sama dan mengatasi penyakitnya.
• Memungkinkan perubahan dalam percakapan dengan menggunakan pikiran dan kata-kata berbeda yang menimbulkan emosi yang tinggi secara spontan.
Dengan tujuan yang sama, pemimpin spiritual Osho menambahkan:
"Setelah Anda mulai berkomunikasi dengan tubuh Anda, hal-hal menjadi sangat mudah. Tubuh tidak perlu dipaksa namun dapat dibujuk. Seseorang tidak perlu bertarung dengan tubuh – itu sangat buruk, kekerasan, agresif, dan konflik apapun akan menciptakan lebih banyak ketegangan. Jadi Anda tidak perlu berada dalam kondisi yang menimbulkan konflik (tegang) - biarkan kenyamanan menjadi penguasa".
Osho mengingatkan kita bahwa penyakit yang berulang dan kronis dapat mengindikasikan penyakit serius, sehingga harus bijaksana untuk berkonsultasi dengan praktisi kesehatan berpengalaman untuk di evaluasi. Selain itu, jangan menyebutkan ketidak-nyamanan atau rasa sakit/penyakit, namun Anda harus berbicara langsung kepada otak / tubuh.
Di bawah ini Osho memberikan dua contoh bagaimana menyambut ketidak seimbangan dalam tubuh:
Berat badan: "Pertama beritahukan otak bahwa Anda mengirim pesan ke tubuh, dan bahwa otak harus menyebarkannya. Kemudian beritahukan tubuh bahwa 5 pound atau kilo yang berkurang akan ideal dan bahwa Anda mencerna secara normal. Jangan melibatkan cara makan sama sekali. Hanya memberitahu tubuh bahwa penurunan beberapa kilo diperlukan. Dan ketika Anda sampai di sana, beritahu tubuh untuk tetap berada pada berat ideal, tidak ada kebutuhan untuk kehilangan berat badan lagi atau naik. "
Migrain: "Berbicaralah kepada tubuh dengan dua cara. Pertama berbicara ke seluruh tubuh, mengatakan bantuan diperlukan untuk menghilangkan rasa sakit ini dalam otak. Jelaskan kepada tubuh bahwa sakit ini bukan alami. Tidak perlu berada pada rasa sakit ini. Kemudian berbicara ke otak secara langsung, melalui kata-kata Anda sendiri mengatakan, "Aku mencintaimu tapi rasa sakit ini bukan bagian dari alam, dan sekarang saatnya untuk mengembalikan ke tatanan semula." Dan pada saat migraine hilang ingatkan otak agar tidak kembali. "
Pada akhirnya ia yakin bahwa "Manusia perlu diajarkan bagaimana berteman dengan tubuh" agar dapat benar-benar sembuh dan sehat
Subscribe to:
Posts (Atom)