Latihan spiritual dari Subud, dikenal sebagai
latihan kejiwaan,
merupakan hasil dari kontak yang terbarui dengan daya hidup ilahiah. Ia
merupakan proses alami yang bangkit di dalam diri setiap orang yang
menghendakinya, yang berlangsung dengan kecepatan masing-masing dan
menurut sifat masing-masing. Terkadang, ketika kita diam dan tenang,
atau dalam keadaan kesadaran tinggi yang tidak biasa, kita dapat
tiba-tiba menyadari kebangkitan hidup yang terdalam ini. Proses latihan
menghubungkan kita kembali dengan sesuatu yang lebih besar dari diri
kita dan terus menjaga agar kesadaran istimewa ini tetap hidup dan
aktif.
El latihan es un proceso, un recibir, y no una enseñanza. No se espera
que las personas crean en algo, sino que reconozcan y confíen en lo que
experimentan. Personas de diferentes religiones pueden encontrar mayor
profundidad en su fe y practicar el latihan en armonía con los demás y
con aquellos que no poseen afinidad religiosa alguna.
Latihan merupakan suatu proses, suatu penerimaan, dan bukan suatu
ajaran. Tak seorang pun diharapkan untuk mempercayai apa pun, hanya
untuk mengenali dan meyakini apa yang ia alami. Orang-orang dari
berbagai agama akan menemukan keimanan mereka semakin mendalam, dan
melakukan latihan dalam harmoni dengan sesamanya serta bersama mereka
yang tidak memiliki pertalian dengan agama tertentu.
Esensi dari latihan adalah membiarkan dan mengikuti gerakan-gerakan dari
dalam yang bersifat spontan. Latihan tidak memerlukan petunjuk atau
ritual. Dan sifatnya berbeda untuk setiap orang.
Banyak orang merasakan kesan yang tenang dan suatu kedalaman dari
keterhubungan alami dengan kebijaksanaan, dirinya yang tertinggi, yang
ilahi, atau Tuhan, tergantung dari istilah yang disukainya. Latihan
merupakan suatu katalis yang mengarah pada pengembangan karakter
seseorang dan dapat menuntun kehidupan sehari-hari kita. Ia dapat
memperkuat intuisi atau guru di dalam diri kita. Biasanya, proses
transformasi ini berlangsung secara bertahap dan terpadu dengan
kebutuhan-kebutuhan praktis dari hidup kita.
Nama
'Subud'
merupakan singkatan dari tiga kata dalam bahasa Sansekerta:
Susila, Budhi
dan
Dharma.
Susila Budhi Dharma (Subud)
merepresentasi kemungkinan untuk menyerah kepada kekuatan ilahiah di
dalam diri, membiarkannya memengaruhi perubahan di dalam yang akan
membawa kepada kualitas-kualitas dari manusia sejati.
Latihan tersedia secara gratis, meskipun perkumpulan bergantung pada
sumbangan-sumbangan. Biasanya, ada masa tunggu selama tiga bulan sebelum
Anda bisa bergabung. Masa ini memberi Anda kesempatan untuk bertemu
dengan orang-orang yang berpengalaman dalam latihan dan memperoleh
keterangan tentang prosesnya.
Subud didirikan oleh seorang Indonesia, Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo.
Beliau biasanya dipanggil ‘Bapak’ oleh para anggota Subud yang merupakan
panggilan hormat kepada pria yang lebih tua. Latihan datang padanya
sebagai suatu mukjizat, secara tiba-tiba dan tak terduga. Beliau
kemudian menyampaikannya kepada orang lain, dan kini dilakukan oleh
ribuan orang di 83 negara.
Organisasi Subud bersifat mendunia. Ada pengurus-pengurus nasional dan
internasional dan ada kelompok-kelompok lokal di mana orang-orang
bertemu untuk melakukan latihan bersama-sama. Perkumpulan Subud dibentuk
di Timur pada tahun 1947 dan di Barat sejak 1957 dan bekerja untuk
memberikan manfaat yang positif di dunia. Visi utamanya adalah untuk
memengaruhi budaya dunia yang berpikiran terbuka dan peduli.
Organisasi Subud Dunia (" WSA") adalah sebuah organisasi nirlaba
yang berkantor-pusat di Washington, D.C.(USA). Anggota Subud tergabung
dalam sebuah kegiatan spiritual non-sekte atau aliran agama yang
disebut " latihan kejiwaan", bermula di Indonesia dan sekarang telah
menyebar ke seluruh dunia. Terbuka untuk yang sudah berusia 18 tahun
keatas. Organisasi ini tidak melakukan diskriminasi atas apapun,
termasuk suku bangsa, jenis kelamin, warna kulit, usia, atau orientasi
seksual. Subud bukanlah suatu agama dan terbuka bagi pemeluk agama
apapun dan mereka yang tidak beragama. WSA dan semua organisasi Subud
tidak memiliki suatu kebijakan atau mengharuskan untuk mengganti
kepercayaan/agama, atau merubah orientasi seksual anggota, atau hak-hak
anggota untuk menyatakan pandangan mereka atas hal-hal diatas, konsisten
dengan agama yang mereka anut masing-masing serta patuh pada hukum dari
setiap negara di mana mereka berada.