Monday, May 20, 2013

Adityawarman di tanah Minang

A. EXPEDISI PAMALAYU..
1. Pengiriman pasukan Singosari..

Menurut garis matrilineal Adityawarman anak dari Dara Jingga.. Dara Jingga anak dari Puti Reno Mandi, isteri Mauliwarmadewa Raja Dhamasraya.. Puti Reno Mandi, anak dari Sari Laut, anak isteri Raja Taluak Kuantan.. Sari Laut anak dari Puti Reno Indah.. Reno Indah adik yang dibawa Dt Parpatih Nan Sabatang (menurut ranji Mataram).. Puti Reno Mandi adalah adik yang dibawa oleh Dt Katumanggungan menurut silsilah Minangkabau.. 1309 M Raden Wijaya wafat digantikan oleh satu-satunya anak laki-lakinya Kalagemet yang digelari Jaya Negara.. 1319 terjadi pemberontakan besar-besaran dibawah pimpinan Rakyan Kuti dibantu oleh beberapa rakyan lainnya seperti Ra Wedeng, Ra Jayu, Ra Pangsa, Ra Tanca dll.. Jayawijaya terpaksa menyingkir ke Badander pegunungan kapur di Bojonegoro.. Jayawijaya didukung oleh Gajah Mada dan Aji Mantrolot.. Berkat ketangkasan Gajah Mada dan Aji Mantrolot Jaya Negara dapat kembali menduduki tahta Mojopahit di Mojokerto.. Setelah pemberontak terjepit Ra Tanca menyerah bersumpah akan setia kepada Majapahit dan Prabu Jaya Negara.. Gajah Mada disuruh membentuk dan langsung memimpin pasukan Bayangkhara (pasukan keamanan istana) dengan pangkat Senopati dan langsung dibawah komando raja.. Aji Mantrolot diangkat meminpin pasukan khusus dan diberi jabatan Wardamentri atau Praudatara..

Puti Jamilan adalah saudara dari Dt Katumanggungan.. Dt Katumanggungan adalah datuak pucuak (raja) kerajaan Bungo Setangkai Sungai Tarab yang dikenal pendiri Lareh Koto Piliang.. Menurut garis matrilineal itu Adityawarman harusnya bersuku Koto atau Piliang orang Minangkabau..

Menurut garis patrilineal Adityawarman adalah anak dari Rakyan Maha Mantri anak dari Karta Negara Raja Singasari.. Sri Gitarya Tungga Dewi (raja Majapahit ke 3) adalah anak dari Sri Gayatri Rajendra Dewi Biksuni Raja Patni anak dari Karta Negara Raja Singasari.. Sri Gayatri Rajendra adalah adik Rakyan Mahamantri bapaknya Adityawarman..

Jaya Wijaya (Raja Majapahit ke 2) adalah anak dari Dara Pitok.. Dara Pitok adalah anak dari Mauliwarmadewa raja Dhamasraya.. Dara Pitok adik Dara Jingga ibu Adityawarman..

Dalam sislsilah raja raja Majapahit dan Mataram Dara Jinggo adalah keturunan saudara Diraja Dewa Prapatih Nan Sabatang dari Sumatra.. Suami dara Jinggo adalah Sri Wismarupa Kumara adik Karta Negara.. Ada dua fersi bapak Adityawarman, fersi Minangkabau mengatakan Adityawarman anak dari Rakyan Maha Mantri anak dari Karta Negara, fersi raja raja Maja Pahit/Mataram Adityawarman adalah anak dari Sri Wisma Kumara adik Karta Negara..

Adityawarman adalah panglima pasukan khusus Majapahit yang telah mengalahkan pasukan pemberontakan Rakyan Kuti /Rakyan Tanca dan pasukan pemberontakan Sadeng.. Adityawarman adalah panglima yang bertangan besi.. Semua kekuasaan berada ditangannya.. Dimana mana di tanah Jawa berserakan ptasastinya..

Dia seorang Bhairawa Tantrayana Syiwa.. Penyembahan terhadap tuhannya ialah moksa.. Moksa adalah suatu acara yang sangat seram, dilakukan diatas bangkai manusia, dengan suatu persetubuhan dan musik pukulan tulang manusia.. Dilakukan dengan meminum darah manusia dengan cawan tengkorak manusia pula.. Cara penyembahan ini sangat bertentangan dengan adat animisme dan adat agama Islam yang telah berakar di Minangkabau.. Sehingga sangat tidak disukai oleh masyarakat Minangkabau..

Adityawarman diperintahkan pulang kampung oleh Raja Majapahit Sri Gitarya Tungga Dewi bersama Gajah Mada untuk menguasai wilayah produksi kampher, lada dan emas serta perdagangan Selat Sumatra (selat Malaka).. Dia dibekali dengan pasukan besar dan wilayah Dhamasraya sebagai basis dan penyangga.. Dari Dhamasraya dia menyerang ke utara menaklukkan pusat Minangkabau Batu Sangkar.. Dari situ dia menaklukkan daerah ke sekeliling dengan kekuatan militer.. Ke utara dia mencapai sungai Batahan Gunung Milintang, Gunung Tua dan sungai Barumun.. Ke selatan dia mencapai sungai Ipuah dan gunung Sumbing.. Seluruh daerah itu dia taklukkan dengan kekerasan.. Pasukan Adityawarman menjadi hantu bagi rakyat.. Mereka sangat takut akan kedatangannya kembali.. Karena hal demikian rakyat menjadi sangat patuh.. Mendengar namanya saja rakyat mengeluarkan apa yang diminta..

Kedatangan Adityawarman ini dilukiskan dalam tambo dengan “datanglah anggang dari laut ditembak rajo nan baduo, badia sadantum duo latuihnyo.. Jatuahlah talua anggang nantun ka Alam Minangkabau ko.. Sindiran itu diartikan orang sebagai berikut: Datang ekpedisi Pamalayu menyerang Minangkabau.. Ekpedisi itu ditahan di Sijunjung.. Tapi kemudian telur anggang itu menetas yaitu Adityawarman.. Dia datang menyerang menduduki dan memerintah di Minangkabau..

Untuk memungut pajak dan mendatangi daerah-daerah Adityawarman memakai tenaga pemuka pribumi Minangkabau.. Inilah kesempatan bagi pemuka pribumi Minangkabau mengembangkan Budaya dan agama yang dianutnya sampai ke pelosok-pelosok tersebut...

Adityawarman meninggal th 1375 M, memerintah selama 25 tahun.. Dia tidak sempat membenahi pemerintahan Nagari.. Sistem Pemerintahan Nagari tetap sebagaimana biasa yaitu sistem Koto Piliang, sistem Budi Caniago dan sistem Pisang Sikalek-kalek hutan.. Semenjak itu seluruh Sumatra Tengah dari Batahan, Barumun sampai sungai Ipuah dan Batang Hari, dari pantai lautan Hindia sampai pantai Timur Sumatra mengakui berada dibawah Minangkabau yang berpusat di Pagaruyuang..

Tersusunlah Kerajaan Minangkabau dibawah satu komando dari Pagaruyuang yang merupakan sebuah kerajaan yang sebenarnya menurut satu komando dalam satu tangan, tidak pemerintahan kolektif seperti sebelumnya..

Adityawarman dan pasukannya beragama Tantrayana Siwa.. Cara penyembahannya terhadap tuhannya sangat berbeda dengan agama Islam, agama yang dianut sebagian besar penduduk.. Juga sangat berbeda dengan agama animisme agama asli orang Minangkabau.. Penyembahan puncak terhadap tuhan dilakukan dengan moksa yaitu

Matsya, pembacaan mantra-mantra dan dengan tarian bermusik dari memukulkan tulang-tulang kepada tulang-tulang manusia..
Mamsa, yaitu meminum darah, makan benak dan daging manusia dengan batok kepala orang sebagai cawan dan piringnya
Madya, menghilangkan dunia fana dengan bermabuk mabukan memasuki dunia bawah sadar bersama sang dewa dengan meminum tuak dan sebangsanya..
Maltina, melakukan hubungan sexual dengan keperkasaan..
Mudra, melakukan gerakan tangan yang menimbulkan tenaga gaib..

Upacara moksa, dilakukan dengan cara yang sangat menyeramkan.. Dengan mabuk-mabukan minum darah dan makan benak dengan cawan batok kepala manusia, sambil tertawa dan menari-nari yang ditingkahi bunyi-bunyian pukulan tulang-tulang manusia yang gaduh sambil mensetubuhi tahanan dengan cara perkasa ..







2. Adityawarman Ibu Minangkabau dengan bapak Jawa..

Dengan surutnya kerajaan Budha Mahayana Sriwijaya di jawa berdiri kerajaan Hindu Tantrayana Singhasari.. Di Muaro Jambi hiliran batang hari masih tersisa kerajaan Budha Hinayana.. Kerajaan Muaro Jambi digantikan oleh kerajaan Melayu Dhamasraya dengan pusat Siguntua, Sungai Lansek dekat Sungai Dareh.. Rajanya dipanggilkan Sri Maharaja Diraja.. Semenjak tahun 1272 M di Dhamasraya berkuasa Maharaja Diraja Mauliwarmadewa..

Buku Nagara Kartagama menjelaskan 1197 saka (1275 M) Karta Negara memerintahkan pasukan besar dibawah pimpinan Sri Wismarupa Kumara dibantu oleh dua orang pangeran Rakyan Mahamantri dan Rakyan Demung Pu Wira untuk menaklukkan Melayu (Sumatra bagian tengah).. Penaklukan itu dimaksudkan untuk

Menguasai daerah produsen emas, lada dan kampher serta wilayah perdagangan laut selat Sumatra..
Mengusir Islam dari wilayah hiliran Batang Hari, Kampar, Siak, Rokan dan Barumun..
Mempersatukan Asia Tenggara dibawah Singhasari..

Tahun 1208 saka (1286 M) kerajaan Dhamasraya dapat dikuasainya dengan suatu perundingan dengan menyerahkan dua anak gadisnya sebagai jaminan kesetiaan.. Pada tahun itu juga Karta Negara mengirimkan arca Amoghapasya duplikat arca Amoghapasya di candi jago Malang suatu ajaran Hindu/Budha sekte Tantrayana Siwa yang dianut Singhasari ke Dhamasraya untuk diikuti sebagai pedoman peribadatan raja dan penduduk Dhamasraya.. Arca itu diletakkan di Padang Candi, Rambahan Pulau Punjung dekat Sungai Dareh.. Disekitar arca itu penduduk setempat telah menganut agama Islam.. Oleh penduduk setempat yang beragama Islam itu arca Amogha pasya ini dinamakan “barhalo”..

Dibelakang arca itu tertulis tiga kelompok tulisan bagian atas berupa sloka dan bagian bawah berupa prosa dan pada tapak berupa prosa.. Pada bagian atas ditulis oleh Karta Negara seloka dan prosa ditulis oleh Karta Negara.. Pada tulisan seloka tertulis daerah yang belum tercapai ialah kekuasaan Sri maharaja (maksudnya mungkin Taluak Kuantan) dan wilayah Maharaja Dewa Prapatih (maksudnya mungkin MInangkabau).. Tulisan itu bertahun 1208 Saka (1286M).. Tulisan pada tapak belakang oleh Adityawarman pada tahun 1268 Saka (1346M), menjelaskan ekpedisi Pamalayu dipimpin oleh Stri Wiswarupa Kumara dibantu oleh dua orang pangeran anak Karta Negara, Dewa Rakyan Maha Mantri dan Rakyan Demung Pu Wira, sebelum dia pindah ke Pagaruyuang di Minangkabau 1268 Saka (1346M),

Ekpedisi Pamalayu ditahan oleh pasukan gabungan Minangkbau dan Taluak Kuantan antara Sijunjuang dan Sungai Dareh.. Pasukan ini terhenti disana, tidak dapat melanjutkan penguasaanya ke pusat Minangkabau.. Di Jawa terjadi kekacauan, karena itu, permohonan bantuan pasukan tidak kujung datang.. Kejadian ini dikiaskan dalam tambo Minangkabau dengan “datanglah anggang dari laut ditembak rajo nan baduo, badia sadantum duo latuehnyo, jatuahlah talua anggang nantun ka Alam Minagkabau ko.. Artinya datanglah pasukan dari seberang laut (jawa/ ekpedisi Pamalayu), pasukan itu ditahan oleh rajo nan Baduo Rajo Minangkabau dan Rajo Ranah Sikaladi (Taluak Kuantan) di Sijunjuang, tapi talua anggang nantun (keturunannya /Adityawarman), melanjutkan ekpedisinya dan memerintah Minangkabau.. 6 tahun setelah datangnya ekspedisi Pamalayu itu tahun 1288 Dhamasraya bersama orang Minangkabau mengirim utusannya ke negeri Cina yang terdiri dari orang orang Islam dibawah pimpinan Syamsudin dan Sulaiman.. Disini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa Hubungan Dhamasraya dengan Minangkabau tidak rusak masih seperti sedia kala, penduduk Mingkabau dan Dhamasraya telah memeluk agama Islam..

Tahun 1291 M kerajaan Singhasari diserang oleh Jaya Katwang raja Kediri.. Sewaktu Karta Negara raja Singosari, merasa tidak akan mampu lagi mempertahanan Negara, dua anak laki laki nya sedang berada di Sumatra, empat orang anak perempuannya disuruh selamatkan kepa Raden Wijaya.. Raden Wijaya adalah anak Mahisa Cempaka saudara sepupu dari Karta Negara.. Raden Wijaya mampu menyelamatkan ke empat anak gadis Karta Negara.. Raden Wijaya minta bantuan kepada pasukan Sampokong (panglima besar angkatan laut Cina) dan dapat menghancurkan Jaya Katwang.. Akhirnya Raden Wijaya dapat pula menyingkirkan pasukan Cina itu.. anggota pasukan Cina Sampokong pada umumnya beragama Islam.. Mereka inilah pengembang Islam di pulau Jawa.. Tahun 1293 Raden Wijaya mendirikan kerajaan Wilwatika di Mojokerto yang kemudian dirubah menjadi Maja Pahit.. Tahun 1295 sebagian pasukan Singhasari kembali ke Jawa, mereka bergabung dengan Majapahit.. Pasukan itu banyak membawa orang dari Dhamasraya diantaranya Dara Jingga, adiknya Dara Pitok dan adiknya lagi laki laki yang masih kecil, bernama Gajah Mada.. Untuk menjaga kesetiaan Dhamasraya sebagian pasukan ditinggalkan di Dhamasraya.. Menurut ranji raja jara Majapahit dan Mataram di Jogjakarta diketemukan Dara Jingga dikawini oleh Sri Wismarupa Kumara adik karta Negara.. Sedangkan Dara Jingga ini adalah anak perempuan dari kemenakan perempuan Dewa Prapatih Nan Sabatang.. Menurut catatan dalam tambo Minangkabau kamanakan Dt Katumanggungan dari Sungai Tarab kawin dengan Rajo Taluak Kuantan, anak perempuan rajo Taluak Kuantan kawin dengan Rajo Dhamasraya.. Anak raja Dhamasraya itulah Dara Jingga.. Menurut adat Minang kabau kemenakan Dt Kaumanggungan adalah juga kamanakan Dt Parpatih, karena Dt Katumanggungan satu ibu dengan Dt Parpatiah.. Silsilah dari Mataram dan dari Minangkabau berarti sama karena orang Minangkabau menganut system matrilineal.. Dara Pitok dikawini oleh Raden Wijaya.. Sri Tribuana Tungga Dewi mengatakan Adityawarman adalah saudaraku sendiri..

Keempat anak Karta Negara dikawini Raden Wijaya.. Isteri isteri Raden Wijaya lima orang yaitu:

Isteri pertama, Tribhuaneswari anak kedua Karta Negara
Iisteri kedua, Nurenda Dukita anak ketiga Karta Negara
Isteri ketiga, Paradnya Paramita anak keempat Karta Negara
Isteri ke empat. Gayatri Sri Rajendra Dewi Biksuni Raja Patni anak kelima Karta Negara..
Isteri kelima, Stri Tenuh Weng Pura (Dara Pitok), gadis dari Dhamasraya Sumatra..

Stri Tinuh Weng Pura adalah sebagai koordinator permaisuri, selir dan semua perempuan dalam istana.. Hubungan kelima permaisuri sangat akrab sebagaimana layaknya adik kakak, mereka sangat hormat kepada Stri Tinuh Weng Pura..

1296 M Dara Pitok melahirkan seorang anak laki laki yang bernama Kalagemet satu satunya anak laki laki Raden Wijaya.. Gayatri Sri Rajendra Dewi Biksuni Raja Patni melahirkan dua orang anak Perempuan, Gitarja Tri Bhuanna Tungga Dewi Jaya Wisnu Wardhani dan Diyah Wiyat Raja Dewi Maharajasa.. Karena ketangkasan Gajah Mada diangkat sebagai senopati (panglima) Bhayangkara Mojopahit.. Banyak pemberontakan yang diamankan Gajah Mada.. Sri Biksuni Raja Patni oleh Raden Wijaya diserahi sebagai penguasa wilayah Daha dan Kahuripan..

Dara Jingo hamil, oleh suaminya dia dihantarkan kekampungnya Siguntua Sungai Langsek Dhamasraya untuk melahirkan.. 1307 M Dara Jingo melahirkan seorang anak laki laki yang diberinya nama Aji Mantrolot yang nantinya terkenal sebagai Adityawarman yang artinya cahaya matahari.. Diwaktu kanak-kanak Aji Mantrolot dibawa ke Majapahit untuk dididik sebagai seorang Bhairawa yang tangguh dan setia kepada ajaran Tantrayana Syiwa, bagian dari Hindu Budha sebagai ajaran yang dianut oleh Karta Negara dan Raden Wijaya.. Bhairawa ialah kesatria yang mengalahkan semua musuh.. Di Majapahit dia dipanggilkan dengan tuan Waruyu (tuan bungsu) dengan tuan sulungnya ialah Kalagemet..

Adityawarman dibesarkan dan dididik di istana Majapahit.. Hubungan Adityawarman dengan Majapahit ialah Dara Jingga ibu Adityawarman adalah adik dari Dara Pitok ibu Prabu Jaya Wijaya raja Majapahit kedua.. Bapak Adityawarman Sri Wismarupa Kumara, seorang adik Karta Negara paman Biksuni Raja Patni permaisuri Raden Wijaya. Adalah kakek Tri Bhuana Tungga Dewi raja ketiga Maja Pahit...

Hubungan Adityawarman dengan Minangkabau ialah, ibunya adalah Dara Jingga adalah anak dari Tribhuana Mauliwarmadewa dari isteri Putri Reno Mandi.. Putri Reno Mandi adalah anak dari raja Ranah Sikaladi Taluak Kuantan dari isteri Sari Laut.. Sari Laut adalah anak dari Reno Indah adik yang dibawa Dt Parpatiah Nan Sabatang ke Limo Kaum.. Menurut adat Minangkabau Adityawarman sesuku dengan ibunya Dara Jingga, sesuku (sekaum) dengan ibunya Puti Reno Mandi, sesuku (sekaum) dengan ibunya Sari Laut, sesuku (sekaum) dengan ibunya Reno Indah adik Dt Parpatih yang dibawa ke Limo Kaum dan sesuku (sekaum) dengan Dt Parpatiah Nan Sabatang yaitu suku Bodi atau Caniago.. Menurut adat Minangkabau Adityawarman adalah pewaris gelar Dt Parpatiah Nan Sabatang, berhak bergelar Dt Parpatiah Nan Sabatang.. Begitulah menurut ranji (silsilah kerajaan Mataram).. Menurut silsilah dari Minangkabau Sari laut anak dari Puti Jamilan kamanakan Dt Katumanggungan di Sungai Tarab.. Menurut adat Minangkabau Adityawarman adalah pewaris gelar Dt Katumanggung an.



1309 M Raden Wijaya wafat digantikan oleh satu-satunya anak laki-lakinya, Kalagemet yang digelari Jaya Negara.. 1319 terjadi pemberontakan besar-besaran dibawah pimpinan Rakyan Kuti dibantu oleh beberapa rakyan lainnya seperti Ra Wedeng, Ra Jayu, Ra Pangsa, Ra Tanca dll.. Jaya wijaya terpaksa menyingkir ke Badander pergunungan kapur di Bojo Negoro.. Jaya Wijaya didukung oleh Gajah Mada dan Aji Mantrolot.. Berkat ketangkasan Gajah Mada dan Aji Mantrolot Jaya Negara dapat kembali menduduki tahta Mojopahit di Mojo Kerto.. Setelah pemberontah terjepit Ra Tanca menyerah bersumpah akan setia kepada Majapahit dan Prabu Jaya Wijaya.. Gajah Mada disuruh membentuk dan langsung memimpin pasukan Bayangkhara (pasukan keamanan istana) dengan pangkat Senopati dan langsung dibawah komando raja.. Aji Mantrolot diangkat meminpin pasukan khusus dan diberi jabatan Wardamentri atau Praudatara..

Setelah keamanan cukup pulih, Gajah Mada dibawa Raja Patni sebagai Patih Daha Kahuripan.. Sebagai Senopati Bhayangkara ia digantikan oleh Senopati Gajah Enggong.. Semenjak itu pejabat Senopati Bhayangkara dipanggil dengan istilah Gajah..

Telah terdapat kesepakatan acara perkawinan antara Tri Bhuana Tungga Dewi dengan Raden Khuda Merta Pangeran wilayah Singosari yang bergelar Raden Sri Karta Wardana.. Masih dalam persiapan acara perkawinan itu Jaya Wijaya jatuh sakit.. Sakitnya tidak begitu parah, hanya bisul yang tumbuh di pantat.. Ra Tanca terkenal sebagai dukun yang pandai.. Ra Tanca dipanggil untuk mengobati Jaya Negara.. Ra Tanca memberikan racun yang mematikan kepada Jaya Negara.. Beberapa saat setelah minuman beracun itu mulutnya berbusa langsung wafat.. Gajah Mada mengintip kejadian itu langsung membunuh Rakyan Tanca. Kejadian itu tahun 1328 M.. Pemberontakan demi pemberontakan.. Sebelumnya Ra Tanca telah menjalin hubungan asmara dengan Diyah Wiyat anak bungsu Raden Wijaya..Acara perkawinan yang telah mencapai final persiapannya tetap dilaksanakan.. Acara perkawinan Tri Bhuana Tungga Dewi dilangsungkan dalam suasana berkabung kematian raja kakanya, dalam suasana kematian suasana berkabung kekasih adiknya.. Suasana perkawinan yang direncanakan sangat meriah menjadi kurang meriah.. Mengikuti kejadian ini terjadi pembunuhan beruntun di sekitar istana daerah-daerah banyak yang berontak.. Sementara pemberontak dapat diamankan, pemerintahan dikuasai oleh Permaisuri Sri Rajendra Biksuni Raja Patni bersama Maha Patih Arya Tadah.. Patih Daha dan Kahuripan Gajah Mada diperbantukan menjadi pimpinan (Senopati) Bhayangkara.. Dalam mengamankan pemberontakan ini Aji Mantrolot mendapat jabatan-jabatan penting.. Setelah keamanan pulih Sri Tri Buana Tungga Dewi terpilih sebagai raja ketiga Mojo Pahit....

Ibu Adityawarman Dara Jinggo adalah kakak dari Dara Pitok ibu Jaya Negara.. Bapak Adityawarman Dewa Rakyan Mahamantri anak Karta Negara.. Gayatri Raja Patni adalah anak Karta Negara menjabat raja Majapahit.. Pada arca Manjusri tertulis Raja Patni mengakui Adityawarman sebagai saudara sendiri.



3. Adityawarman panglima pasukan khusus Majapahit..

Dibawah kekuasaan Sri Gitarja Tri Buana Tungga Dewi terjadi pemberontakan Sadeng yang terkenal dan melelahkan itu.. 1253 S (1331 M) Aji Mantrolot diangkat sebagai panglima untuk mengamankan pemberontakan itu.. Tiap Daerah yang dia amankan dia buat patung dirinya.. Setelah seluruh pemberontakan dia lumpuhkan Aji Mantrolot diberi nama penghormatan Cahaya Matahari (Adityawarman) dan diberi berpangkat Arya Wangsa di Raja.. Gajah Mada diangkat menjadi Maha Patih Mangkubhumi Mojopahit, pengganti Maha Patih Mangku bhumi Arya Tadah yang telah meninggal..

1330 dan 1341 M Adityawarman diangkat sebagai pimpinan utusan Majapahit ke negeri Cina.. 1264 S (1342 M) pangkatnya dinaikkan menjadi Sang Dewa Raja (orang kedua setelah raja).. Jabatan setinggi ini hanya mungkin didapat oleh seorang keluarga keraton (kerajaan)..

Dizaman Jaya Wijaya dan Tri Bhuana Tungga Dewi hidup Pancaksara Prapanca, seorang pencatat sejarah.. Bapaknya bernama Samenaka bepangkat Darmadyaksa Ring Kasogatan, suatu pangkat yang tinggi di istana.. Setelah dia meninggal jabatan itu dipegang oleh Pacaksara Prapanca.. Karenanya dia dapat agak bebas dalam istana.. Prapanca adalah penulis Nagara Karta Gama..

Untuk mempersatukan dan melancarkan jalan rohnya, moyang dan kaumnya nanti bersama Dhyani Budha Aksobnya menuju Nirwana, tahun 1343 M (1275 saka) Adityawarman mendirikan arca manjusri dalam komplek candi Jago Malang.. Ajaran Tantrayana Syiwa Budha adalah gabungan agama Buda dengan agama Hindu Syiwa.. Didirikan di timur Benggala pada abad ke 6 M.. Berkembang ke utara melalui Tibet ke Mongolia, Cina dan Jepang.. Ke Asia Tenggara berkembang pada abad ke 11 M.. Puncak kekuasaan sekte Bhairawa Siwa ini di Jawa dizaman Karta Negara dan di Sumatra dizaman Adityawarman..

Penghapus dosa dan melancarkan roh menuju nirwana oleh seorang bhairawa, setiap waktu tertentu terutama setelah mengalahkan orang yang melawan kepadanya seorang bhairawa melakukan upacara moksa.. Upacara moksa dilakukan dengan lima M (molimo).. Lima M itu ialah:

Matsya, pembacaan mantra mantra dan dengan tarian bermusik dari memukulkan tulang tulang kepada tulang tulang manusia..
Mamsa, yaitu meminum darah, makan benak dan daging manusia dengan batok kepala orang sebagai cawan dan piringnya
Madya, menghilangkan dunia fana dengan bermabuk mabukan memasuki dunia bawah sadar bersama sang dewa dengan meminum tuak dan sebangsanya..
Maltina, melakukan hubungan sexual dengan keperkasaan..
Mudra, melakukan gerakan tangan yang menimbulkan tenaga gaib..

Upacara moksa adalah upacara bhairawa pada agama tantrayana shiwa Bhuda, dilakukan dengan cara yang sangat menyeramkan.. Dengan mabuk mabukan minum darah dan makan benak dengan cawan batok kepala manusia, sambil tertawa dan menari nari yang ditingkah bunyi bunyi bunyian pukulan tulang tulang manusia yang gaduh.. Upacara ini dilakukan diatas bangkai manusia (bhumi tyaga).. Acara ini dilakukan setelah menang perang mengamankan pemberontakan dengan membunuh tentara musuh yang tertawan atau menyarah.. Adityawarman adalah bhairawa Syiwa, dewa pengrusak (pembunuh).. Dia bangga dengan sipat yang demikian..

Tugas yang dilaksanakan oleh ekpedisi Pamalayu belum selesai.. Oleh Gajah Mada penyelesaian tugas itu diserahkan kepada Adityawarman.. Tahun 1345 M Adityawarman berangkat dengan pasukan besar ke Dhamasraya.. Dalam tempo dua tahun wilayah Dhamasraya dia amankan dan Ranah Sikaladi Taluak Kuantan dapat dia taklukkan.. Tahun 1347 Adityawarman menyatakan dirinya sebagai raja Dhamasraya.. Sebagai peringatan atas keberhasilannya atas petunjuk dia sendiri dia perintahkan mendirikan membuat arca dirinya sesuai dengan jabatannya bhairawa yang dia miliki.. Arca itu didirikan di padang Roco 5 km diarah hilir padang Candi tempatnya arca Amoghapasya..

Schnitger, Jl Moens, Stutterheim dan JG de Casparis menjelaskan

Arca ini bukanlah arca puja atau untuk mengagungkan sesuatu seperti Amoghapasya dan Heruka melainkan bentuk simbolis perwujudan seseorang..
Lokasi penemuan arca ini berada jauh dari Padang candi tempat candi Amoghapasya..
Pada sa’at itu tidak jauh dari tempat pendidrian arca ini telah banyak penduduk yang beragama Islam.. ,

Arca Adityawarman sesuai dengan sipat dan pembawaannya, penduduk setempat yang beagama Islam itu menamakannya barhalo.. Team peneliti arkeologi Nasional tahun 1992-1993 M menyimpulkan Arca Padang Roco sebagai berikut:

Stella; latar belakang terdiri dari batu tebal dibuat datar halus, simetris, lengkung bagian atas..
Prabha; dibelakang kepala arca sebelah kiri berada Ivala (lidah api) dan sebelah kana nada matahari..
Asana (tempat arca berdiri); Arca berdiri diatas bangkai telanjang yang terlipat diatas kaki.. Bangkai telanjang terletak diatas delapan tengkorak manusia.. Upacara ibadat bhairawa dilakukan diatas ksetra (kumpulan mayat)..
Bhusana; badan ditutup dengan kain petak petak yang bergambarkan tengkorak..
Makuta (mahkota); disebut “Jata makuta” terdiri dari pintalan rambut yang berbentuk sorban, merupakan rambut Dhyani Budha Aksobya, sebagai teman roh menuju nirwana..
Kayura (kain selendang) terdiri dari seekor ular upawita yang melilit kedua bahu..
Kankana (gelang); terdiri dari ular bhujanga – valaya yang melilit masing masing pergelangan tangan..
Udara bhanda (ikat pinggang); makhluk demon (binatang antah berantah) berkepala kala jengking..

Laksana; ditangan kanan dipegang pisau/keris.. Ditangan kiri dipegang tempurung kepala orang untuk tempat makan benak dan minum darah.



B. ADITIYAWARMAN RAJA MINANGKABAU DI PAGARUYUANG..



1. Adityawarman menduduki Minangkabau..

Pada saat itu pemuka masyarakat Minangkabau tigo luhak, golongan pemangku adat dan golongan agama Islam masih dalam pertengkaran dan perang kecil karena masalah adat dan syariat agama Islam yang belum terselesaikan.. Golongan adat mohon bantuan Adityawarman untuk mengokohkan kekuasaannya.. Bagi Adityawarman pucuk dicinta ulam tiba.. Pada tahun 1349 dengan pasukan besar dia berangkat menuju Batusangkar.. Selama perjalanan tejadi pertempuran pertempuran.. Semua pertempuran dia menangkan.. Di nagari Minangkabau dia mendapat tantangan menghadapi benteng orang Islam.. Disana terjadi peperangan dahsyat.. Benteng dapat dia hancurkan, dia ratangan dengan tanah.. Seluruh penghuni benteng dan penduduk disekitarnya, laki laki, perempuan, tua muda dan anak anak dia penggal kepalanya.. Sama seperti tindakan Hulagu Khan sewaktu penaklukkan Bagdad..

Sebagai tanda bersyukur terhadap dewa atas kemenangan yang dia dapat, dia adakan upacara syukuran tantrayana.. Diatas puing benteng yang penuh dengan mayat, dia bermabuk-mabukan, memakan benak, minum darah dengan batok kepala orang sebagai cawannya.. Gadis-gadis dizinahi, dan kemudian dibunuh.. Pekerjaan itu dia lakukan beberapa hari lamanya.. Upacara itu dilakukan dengan ketawa besar, dengan musik pukulan tulang manusia.. Melihat perbuatannya itu penghulu yang meminta bantuan kepadanya merasa jijik dan antipati kepadanya.. Rakyat menyesali, penghulu yang mengundangnya..

1370M datang utusan dari Tiongkok ke kerajaan Minangkabau.. 1373 Ananggawarman diutus sebagai memimpin utusan balasan ke Tiongkok.

Prasati Saruaso I bertahun 1297 saka (1375 M) yang didapat oleh Rafles.. Inggeris berada di Minangkabau tahun 1795 -1819 M, oleh Moens tulisannya diartikan, upacara ibadah untuk keluar dari sangsara menuju ketentraman nirwana dilakukan dengan seram.. Selanjutnya dalam buku Replica arca dan Prasasti Adityawarman dijelaskan ibadah sekte bhairawa (moksa) itu dilakukan diatas tumpukan mayat dengan tertawa mabuk (madya), sambil minum darah dan makan daging manusia dengan batok tengkorak sebagai cawan (mamsa) dan melakukan hubungan sek (maituna).. Perbuatan itu dilakukan dengan musik pukulan tulang manusia.. Bau busuk darah dan mayat, melebihi bau harum berpuluh ribu bunga.. Acara penyembahan bairawa ini bertentangan dengan adat masyarakat Minangkabau dan hukum Islam yang dianut kebanyakan masyarakat.. Karenanya oleh masyarakat Minangkabau Adityawarman dinamakannya Sri Paduko Barhalo.. Begitulah yang ditulis oleh Rasyid Manggis Dt Rajo Panghulu dalam bukunya Minangkabau dengan sejarah rungkas dan adatnya tahun 1966..

Untuk pemantapan pengawasan wilayah dia lakukan patroli wilayah dan ekspedisi kecil.. Ekspedisi itu dia lakukan dengan membawa pemuka Minangkabau lama dari Nagari Pariangan.. Patroli itu mencapai keseluruh walayah bagian barat sampai ke pantai.. Ke utara sampai ke gunung Malintang dan sungai Batahan.. Ke selatan sampai gunung Sumbing dan sungai Ipuah di selatan Kerinci.. Di Kerinci dia tinggalkan pasukan kecil dengan seorang komandan.. Sebagaimana sering dia bicarakan dengan Gajah Mada dan Jaya Negara, selat Perca (selat Malaka) sebagai pusat perdagangan dan Minangkabau sebagai pusat produksi lada, kampher dan emas, yang dibutuhkan Negara-negara di sekitar laut tengah khususnya dan dunia umumnya harus dikuasai.. Penguasaan daerah itu adalah suatu tugas utama yang sangat penting.. Pada tahun 1348 itu dengan pasukan yang besar Adiyawarman berangkat menaklukkan kerajaan Kuntu dan Aru Barumun..

Kesempatan ini dipergunakan oleh pemuka adat dan agama Islam menyusun tenaga mengusir Adityawarman.. Mereka berapat didapat kesepakatan; meraka membentuk pasukan besar.. Pemuka agama Islam setuju atas saran pemuka adat, bahkan semangatnya lebih menyala, dikumandangkan ayat-ayat al qur’an, yaitu “seratus orang suci dapat mengalahkan seribu orang kafir” .. “Bukan kamu yang membunuh, Allah lah yang membunuh, bukan kamu yang melempar Allahlah yang melempar” ..

Sewaktu Adityawarman kembali dari ekspedisi Kuntu Barumun Adityawarman dihadang di Atar dekat Sitangkai.. Mereka menawarkan kepada Adityawarman wilayah Minangkabau inti (wilayah tigo luhak), dibiarkan diurus oleh mereka sendiri, oleh penghulu-penghulu di nagari, daerah di luar itu diurus oleh kerajaan Pagaruyuang dibawah Adityawarman.. Jika tawaran ini diterima, rakyat Nagari tigo luhak akan membantu apa yang dibutuhkan oleh Adityawarman.. Jika tawaran ini tidak diterima, akan terjadi suatu peperangan.. Karena tawaran itu sama-sama menguntungkan Adityawarman menerima tawaran tersebut dengan segala senang hati.. Menjadilah luhak nan tigo sebagai wilayah inti Minangkabau (Minangkabau al biththah) dan mandiri.. Daerah lain disebut rantau Minangkabau (Minangkabau azzawahir).. Kesepakatan ini disebut “Kesepakatan Atar”.. Dijelaskan dengan petitih luhak bapanghulu rantau barajo.. Daerah Luhak nan Tigo diserahkan kepada kebijakan mereka sendiri, Adityawarman tidak mencampurinya..

Setelah seluruh wilayah dari Batahan Barumun di Utara dan Ipuah Batang Hari di selatan dia kuasai dan merasa mendapat dukungan masyarakat Minangkabau, pusat pemerintahan resmi dia pindahkan ke Pagaruyuang di kaki bukit batu patah.. Tahun 1349 dia umumkan, “kerajaannya bernama Minangkabau dia adalah Maharaja Diraja-nya yang pertama, tidak berada dibawah Majapahit”..

Pengawasan daerah rantau diperketat.. Petugas dari penduduk luhak Nan Tigo, sambil bertugas mereka mengajarkan agama Islam, sistem pemerintahan bernagari dan adat matrilineal.. Sistem matrilineal, Islam dan system pemerintahan bernagari berkembang ke rantau.. Sekarang di rantau tidak didapati raja tapi kaum telah dipimpin oleh penghulu..



Di setiap daerah yang dia taklukkan di jawa dia buat arca dirinya.. Tahun 1343 dalam komplek Candi Jago Malang Adityawarman, menulis prasasti manjusri.. Tahun 1346 di Padang Roco Siguntua, Dhamasraya, Adityawarman membuat arca dirinya.. Sebagai pengumuman dan untuk memulyakan dirinya ditengah masyarakat tahun 1345-1375 M di daerah Minangkabau puluhan prasasti yang dia tulis, diantaranya ialah

Prasasti kubu rajo

Prasasti Pagaruyuang sebanyak 8 buah

Prasasti suruaso 2 buah

Prasasti Rambahan 2 buah

Prasasti Ponggongan

Prasasti umbilin

Prasasti Pariangan

Prasasti Lubuk Layang



Dengan Isteri Puti Bungsu dan kebanyakan orang istana berasal dari orang tigo luhak yang beragama Islam.. Adityawarman beroleh anak satu-satunya yang bernama Ananggawarman.. Tahun 1375 Adityawarman meninggal dunia, dia digantikan oleh Yang Dipertuan Maha Raja Diraja Ananggawarman.. Dikiri kanannya semuanya orang yang beragama Islam.. Budaya bapaknya agama Tantrayana tidak melekat kepada dirinya.. Masa tuanya, setelah bapaknya meninggal, Anggawarman menjadi penganut agama Islam..

Pembantu Ananggawarman kebanyakan beragama Islam.. Isterinya dan keluarga Ananggawarman beragama Islam.. Vijayawarman anak Ananggawarman walaupun dilahirkan dalam suasana Tantrayana, tapi dibesarkan dibawah asuhan agama Islam.. Tidak satupun prasasti yang ditemui dibuat dizaman tuanya Ananggawarman apalagi dizaman Vijayawarman.. Tahun 1389 M Vijayawarman dinobatkan sebagai Yang Dipertuan Maharaja Diraja Minangkabau.. Anaknya Bakilap Alam seorang anak yang salih ta’at menjalankan agama Islam.. Bersama temannya dari Bungo setangkai Sungai Tarab, dia dikirim belajar agama Islam ke Fansur.. Sekembali dari Fansur 1396 M karena ilmu agamanya dianggap telah tinggi dia digelari Tuanku Maharajo Sakti.. 1401 M Tuanku Maharajo Sakti menggantikan ayahnya dinobatkan sebagai Maharaja Diraja Minangkabau.. Perhatian yang besar atas pertentangan yang tak kunjung selesai antara aliran-aliran agama, dia ingin menyelesaikannya secara musyawarah.. Pada bulan Sya’ban tahun 804H beliau dengan bantuan Dt. Bandaro Putiah yang teman sama mengajinya, mengundang seluruh pucuak adat, para Ulama dan para llmuwan di seluruh luak nan Tigo sebagai daerah inti kerajaan Minangkabau untuk berbincang-bincang di atas sebuah bukit dekat puncak Pato yang disebut Marapalam.. Pada pertemuan Marapalam didapat sebuah kesepakatan yang ditutup dengan sumpah yang disebut Bai’ah Marapalam yang dalam bahasa Minangkabau disebut Sumpah Satia Marapalam.. Bukan piagam Marapalam.. Piagam jika dijadikan bahasa Arab ialah Shahifah bukan bai’ah.. Kerajaan Minangkabau dirubah menjadi Kesulthanan Minangkabau Darul Qarar.. Yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau dipanggilkan Daulat Yang Dipertuan Sulthan.. Tuangku Maharajo Sakti dinobatkan sebagai Sulthan pertama Kesulthanan Minangkabau Darul Qarar dengan panggilan Daulat Yang Dipertuan (DYD) Sulthan Alif Khalifatullah.. Menurut penjelasan keluarga Istana Pagaruyuang, Bakilap Alam Tuangku Maharajo Sakti bukanlah anak Vijayawarman tapi adalah Vijayawarman itu sendiri..



2). Perang Padang Sibusuak..

Kembali untuk mencapai cita-citanya menguasai wilayah produksi dan pusat perdagangan kampher, lada dan emas, Gajah Mada mengirimkan pasukan besar.. Setelah menguasai Dhamasraya pasukan itu melanjutkan perjalanannya menuju daerah Batusangkar.. Tentara Jawa itu dihadang oleh pasukan Minangkabau dibawah pimpinan DYD Sulthan Alif Khalifatullah Tuangku Maharajo Sakti.. Tahun 1409 terjadilah pertempuran hebat di suatu padang.. Sulthan Alif dibantu oleh dua orang penghulu kaum yang gagah berani.. Begitu hebatnya pertempuran itu, jumlah tentara yang mati tidak terkuburkan, padang pertempuran itu menjadi busuk.. Sampai sekarang padang itu tetap bernama Padang Sibuasuak.. Sebuah bukit ludes untuk dipakai menjadi kiliran (batu pengasah) pedang dan parang tentara dari jawa.. Tempat itu sampai sekarang masih bernama kiliran Jawo.. Pasukan Jawa binasa, pasukan Minangkabau melanjutkan perjalanannya untuk menguasai kembali Dhamasraya supaya berada kembali dibawah kekuasaan Pagaruyuang.. Kekuasaan Minangkabau kembali meliputi Dhamasraya dan seluruh hiliran Batanghari..

Daerah Padang Sibusuak diserahkan Sulthan Alif kepada salah seorang panglima tersebut, diberi gelar Dt Pahlawan Gaga Gajah Tongga Koto Piliang.. Daerah Silungkang diberikan kepada panglima lainnya deberi gelar Dt Pahlawan Gaga Malintanglobia Gajah Tongga Koto Piliang..



3). Keturunan Adityawarman..

Raja raja Pagaruyuang keturunan Adityawarman ialah :

1) Maharaja Diraja Raja Alam Adityawarman (1350 - 1376 M)

2) Maharaja Diraja Raja Alam Ananggawarman (1376 - 1389 M)

3) Maharaja Diraja Raja Alam Vijayawarman (1389 - 1401 M)..

4) Maharaja Diraja Raja Alam Bakilap Alam Tuangku Maharajo Sakti (1401-1403 M).. Tuangku Marajo Sakti, dinobatkan sebagai Daulat Yang Dipertuan Sulthan Alif Khalifatullah (1403 - 1416 M).. Berakhirlah Kerajaan Minangkabau dialihkan menjadi Kesulthanan Minangkabau Darul Quorar..



Sulthan Alif Khalifatullah adalah Sulthan pertama Kesulthanan Minangkabau Darul Qarar.. Semenjak Sulthan Alif, raja raja Pagaruyuang dipanggilkan Daulat Yang Dipertuan (DYD) Sulthan - - - Sulthan pertama ialah Sulthan Alif Khalifatullah Bakilap Alam, jabatan DYD ini diturunkan bukan lagi kepada anak tapi kepada anak saudara perempuan seperti adat Koto Piliangnya orang Minangkabau.. Ibunda Raja didipanggilkan Bundo Kanduang, sebagai Ratu Kerajaan.. Jika Bundo Kanduang meninggal diganti dengan Bundo Kanduang baru yang dipilih dari salah satu saudara perempuan Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam.. Anak Bundo Kanduanglah yang menjadi pewaris pengganti DYD Sulthan sebagai Rajo Alam yang akan datang.. Begitu juga sistemnya pada Rajo Adat dan Rajo Ibadat.. Rajo Adat di Buo dan rajo ibadat di Sumpur Kudus tidak dipanggilkan Sulthan tapi hanya Tuangku Buo dan Tuangku Sumpur Kudus.. Sumpur Kudus terpilih sebagai raja ibadat karena pada saat itu di Sumpur Kudus banyak ulama Islam.. Sumpur Kudus dekat dengan nagari Kuntu, pusat sebuah kerajaan yang telah lama Islamnya..



4). Wilayah Minangkabau..

Wilayah Minangkabau dapat diartikan wilayah kerajaan Minagkabau raya di zaman Adityawarman.. Wilayah itu meliputi sebelah utara, dari pantai barat Sumatra, sungai batahan gunung Malintang, Gunung Tua sungai Barumun sampai kepantai Timur.. Sebeleh selatan dari pantai barat , Muko-muko, sungai Ipuah, gunung Sumbing, seluruh hiliran sungai Batang Hari sampai pantai Timur.. Pada saat kini berada pada empat propinsi yaitu propinsi Sumatra Barat tanpa Mentawai, propinsi Riau tidak termasuk kepulauan, hampir seluruh propinsi Jambi dan propinsi Bengkulu bagian utara..

Wilayah Minangkabau ditandai dengan penduduknya yang mempunyai suku menurut garis keibuan (matrilinial), gelar pemuka kaum dan tanah Ulayat kaum yang diwariskan dari ninik ke mamak dari mamak ke kamanakan menurut garis keibuan (matrilinial).. Wilayah itu meliputi dari barat Sumatra, sungai batahan Gunung Malintang, Pasia Pangaraian, Patapahan, Gunung Sailan, Kuantan, Tanah tinggi Bangko, Muaro Bungo, Gunung Sumbing Muko Muko.. Pada saat ini wilayah Minangkabau berada pada Sumatra Barat tak masuk Mentawai, bagian utara Bengkulu berbatasan dengan sungai Ipuah dan gunung Sumbing, Kabupaten Muaro Bungo, tanah Tinggi Bangko, wilayah Indragiri hulu dan kabupaten VII Koto Kampar dan sedikit Sumatra Utara..

Tambo adat menjelaskan, Minangkabau dari Sikilang Aia Bangih sampai ka Durian ditakuak Rajo, Sirangkak Nan badangkong, Buayo Putiah Daguak, aia babaliak mudiak dan riak nan badabua.. Sikilang aiar Bangih terletak di Pasaman Barat bagian utara.. Durian ditakuak rajo terletak di utara Pasir Pangaraian.. Sirangkak nan badangkong dan buayo putiah daguak terletak digunung Sailan.. Aia babaliak mudiak ialah air sungai batang kampar naik terjauah diwaktu pasang (tidak sampai ke pantai Timur Sumatra).. Riak nan badabua (bukan ombak nan badabua) ialah sewaktu waktu air sungai kuantan itu naik ombaknya dan besar, bunyinya keras sekali, orang didaerah itu menamkannya bono (tidak sampai ke pantai timur Sumatra)..

Tujuh Koto kampar garis keturunannya matrilineal, mempunyai penghulu kaum yang bergelar datuak, ulayat kaum dari mamak ka kamanakan, rumah adat bagonjong.. Adatnya adalah adat Limopuluah Koto (pisang sikalek kalek hutan/ lareh nan Panjang), campuran adat Budi Caniago dan Koto Piliang.. Ada diantara penduduk nagari itu yang berasal dari luhak Agam sehingga nama Nagari itu juga dinamakan dengan nagari asalnya, seperti Salo dan Kamang.. Nagari-nagari diatur menurut syariat Islam.. Penduduknya ta’at menjalankan syariat Islam itu..



5). Minangkabau setelah Adityawarman..

Laporan perjalanan Thomas Diaz tahun 1684 M Semenjak berangkat dari Patapahan Melalui Bangkinag ke Buo dan kembali melalui Sumpur Kudus dan Lipek kain Bangkinang Patapahan.. Semua nagari yang dilalui adalah nagari nagari di Minangkabau dengan penduduk beragama Islam yang pekat.. Nagari yang dilalui Thomas Diaz termasuk Luhak Nan Tigo yang berarti Minangkabau Inti..

Sewaktu orang Minangkabau melatih pemudanya sebagai kadet militer di Kamang, orang Pasia Pangaraian mengirimkan beberapa orang pemudanya.. Seorang diantaranya menjadi orang terkenal yang digelari Tuangku Tambuasi.. Dia adalah pahlawan Riau.. Perjuangan terakhir Tuangku Tambusai ialah mempertahankan benteng Dalu dalu Pasia Pangaraian

Ada lagi orang membagi Minangkabau menjadi wilayah Minangkabau inti (Minangkabau al biththah) dan Minangkabau rantau (Minangkabau azzawahir).. Minangkabau inti terdiri dari Luhak Nan Tigo yaitu Luhak Tanah Data, Luhak Agam dan Luhak Limo Puluah Koto.. Minangkabau rantau ialah Rantau pesisir, rantau di hilir dan rantau Malaya (Negeri Sembilan).. Batas antara luhak nan tigo dengan daerah rantau sangat kabur tidak begitu jelas.. Rantau pesisir ialah daerah pantai barat Sumatra mulai dari Natal sampai muko muko.. Rahtau di hilir ialah darah daratan dari Dumai sampaii Muaro Sabak.. Rantau Malaya ialah Negeri Sembilan..

Pertengahan abad ke 14 M, karena kurang sesuainya mereka dengan adat Adityawarman, orang dari Minangkabau pergi beramai-ramai merantau ke negeri sembilan.. Satu rombongan dibawah pimpinan Dt Marajo, mereka menetap di Londak Naga.. Disusul oleh rombongan Dt Bandaro dari Sungai Tarab; mereka menetap di Sungai Layang.. Disusul oleh rombongan Dt Makhudum, rombongan St Kabasaran dari Sumaniak; rombongan mereka menetap di Gunung Pasir.. Rombongan Dt Putiah dari Sari Lamak Luhak Limopuluah Koto menetap di Seri Menanti.. Rombongan Dt Lelo Balang dan Dt Laut dari Batu Hampar Luhak Limo Puluah menetap di Kampuang Tiga Niniak.. Dari keturunan mereka itulah penduduk Negeri Sembilan sekarang ini..

Semenjak 1511 Negeri Sembilan dibawah Portugis, meraka tidak diberi kesempatan mengatur diri sendiri.. Semenjak 1641 M Negeri Sembilan berpindah kebawah kerajaan Johor.. Kerajaan Johor sebagai atasan mereka selalu berada dalam keadaan kacau, sehingga mereka tidak dapat mengatur Negeri Sembilan secara baik.. Kesulthanan Johor menyarankan agar negeri Sembilan menjemput raja-rajanya ke Minangkabau.. Mudah-mudahan dengan demikian semua kesulitan Negeri Sembilan dapat diatasi.. Raja pertama yang dikirim dari Minangkabau tahun 1765 ialah raja Kasah selanjutna raja Adil.. Kedua raja itu dianggap kurang berprestasi.. Raja Malewar (1773-1795 M), yang kiriman dari Pagaruyuang adalah raja yang pintar lagi bijaksana sehingga hal-hal yang rumit selama ini dapat teratasi.. Raja Malewar digantikan oleh Raja Hitam yang juga berasal dari Minangkabau (1795-1808 M).. Raja Hitam termasuk raja yang pintar lagi bijaksana.. Raja Hitam digantikan oleh Raja Malenggang (1808 -1829 M), juga raja kiriman dari Minangkabau.. Raja Malenggang adalah raja terakhir dari Minangkabau.. Raja-raja Negeri Sembilan selanjutnya adalah keturunan raja Malenggang.. Ditahun 1840 orang orang Minangkabau yang tidak senang dibawah Belanda banyak yang menyingkir ke negeri Sembilan.

(ditulis oleh: H. Asbir Abdullatief Dt. Rajo Mangkuto)

Thursday, March 21, 2013

Cerita Islam



Kekerasan dan penindasan Islam kepada kaum wanita muslim telah menjadi sorotan publik..Mengapa hal ini bisa terjadi ??? Ternyata setelah diselidiki dan dikaji bahwa banyak wanita muslim yang menderita di bawah Hukum Syariah,karena Muhammad dan Al-Quran melegalkan kekerasan dan penganiaayaan terhadap wanita demi Islam !.....

11 Kemuliaan Wanita dalam Islam:

1) Boleh membuang istri dan menggantinya dengan wanita lain (QS 4:20)

2) Boleh memelihara dan menyetubuhi budak/pembokat (QS 4:3, QS 23:5-6)

3) Wanita adalah tempat bercocok tanam dan pemuas nafsu laki-laki(QS 2:223)

4) Boleh pukul istri (QS 4:34)

5) Boleh mengurung istri hingga istrinya wafat (QS 4:15)

6) Boleh kawin lagi sesuai nafsunya(QS 4:3)

7) wanita adalah mayoritas penghuni neraka (Hadits Bukhari I/28, 301; II/161).

8) Wanita sama dengan keledai dan anjing*, bisa membatalkan sholat
(Sahih Muslim No. 1034)

9) Kesaksian wanita hanya setengah laki-laki karena wanita mahluk bodoh (Bukhari III/826).

10) Perkosaan minimal 3 saksi laki2 atau 6 saksi perempuan, shg pemerkosa merajalela d negara syariat(Qs 4:157)

11) Wanita yang telah dicerai boleh disetubuhi (QS 33:51)

Hadist Sahih Bukhari vol. 7, Book 72 No. 715.

Diriwayahkan Ikrima: 'Rifaa menceraikan isterinya dan Abdur-Rahman menikahinya (isterinya yg diceraikan Rifaa. Aisha mengatakan bahwa sang isteri datang mengenakan selendang hijau dan mengeluh kepadanya (Aisha) dan menunjukkan sebuah luka berwarna hijau pada kulitnya yg diakibatkan oleh pemukulan. ... Ketika Muhammad datang, Aisha mengatakan, "SAYA BELUM PERNAH MELIHAT WANITA MANAPUN MENDERITA SEBANYAK YANG DIDERITA WANITA2 MUSLIM, LIHAT! KULITNYA LEBIH HIJAU DARI PAKAIANNYA!"

Monday, February 25, 2013

Ronggowarsito

1)-. Wejangan ke-1 "Ananing Dhat" (Adanya Dzat) - Sajatine, Sesungguhnya tdk ada apa pun k'tika masih sunyi hampa blom ada sesuatu, yg paling awal adanya adalah 'AKU', sesungguhnya yg 'Maha Suci' meliputi 'sifat-Ku', menyertai 'nama-Ku', dan menandakan 'perbuatan-Ku'.

2)-. Wejangan ke-2 "Wahananing Dhat" (Tempat Dzat) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU' adalah 'Dzat' yang 'Maha Kuasa' yang-kuasa menciptakan s'gala sesuatu, jadi s'ketika, sampoerna berasal dari 'kuasa-Ku', di situ telah nyata tanda 'perbuatan-Ku' yg sbg pembuka 'kehendak-Ku', yg pertama 'AKU', pan menciptakan "Kayu" bernama: "Sajaratul'yakin", yg tumbuh di dlm alam yg sejak zaman-azali & kekal adanya. Dan, k'mudian "Cahya", yg bernama: "Nur Muhammad", berikutnya: "Kaca" bernama: "Mir'atulhaya", selanjutnya: "Nyawa", yg bernama: "Roh Idhofi", lalu "Lantera", yg bernama: "Kandil", lalu "Permata", yg bernama: "Darah", lalu "Dinding Pembatas", yg bernama: "Hijab". Dan, itu sbg tempat 'kekuasaan-Ku'.

3)-. Wejangan ke-3 "Kahananing Dhat" (Keadaan Dzat) - Sajatine, Sesungguhnya manusia itu 'rahsa-Ku' & 'Aku' itu rahsanya manusia, k'rena 'AKU', pan menciptakan 'Adam' berasal dari (4) empat-perkara, Bumi, Api, Angin, & Air. Itu sbg perwujudan akan 'sifat-Ku', di sana 'Aku' tempatkan (5) lima-perkara, Nur, Rahsa, Roh, Nafsu, & Budi. Itulah sbg perwujudan 'wajah-Ku', yang Maha Suci.

4)-. Wejangan ke-4 "Pambukaning tata malige ing dalem betalmakmur" (Pembukaan tahta dlm baitul makmur) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU', pan bertahta dlm 'Baitul Makmur', itu rumah tempat 'pesta-Ku', berdiri di dlm 'kepala-Adam'. Yang pertama dlm kepala itu dimaknai yaitu 'Otak', yg ada di antara otak itu 'Manik', di dlm manik itu 'Budi', di dlm budi itu 'Nafsu', di dlm nafsu itu 'Suksma', di dlm suksma itu 'Rahsa', di dlm rahsa itu "AKU", tdk ada "Tuhan selain hnya AKU", "Dzat" yg meliputi keberadaan yg sesungguhnya.

5)-. Wejangan ke-5 "Pambuka tata malige ing dalem betalmukarram" (Pembuka tahta dlm baitul mukarram) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU', pan bertahta dlm 'Baitul Mukarram', itu rumah-tempat 'larangan-Ku', berdiri di dlm 'dada-Adam'. Yang ada di dlm dada itu Hati, yg ada di antara hati itu Jantung, dlm jantung itu Budi, dlm budi itu Jinem, yaitu angan-2, dlm angan-2 itu Suksma, dlm suksma itu Rahsa, dlm rahsa itu "AKU". Tidak ada "Tuhan kecuali hnya AKU", "Dzat" yg meliputi keberadaan yg sesungguhnya.

6)-. Wejangan ke-6 "Pambuka tata malige ing dalem betalmukadas" (Pembuka tahta dalam baitul muqaddas) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU', pan bertahta di dlm 'Baitul Muqaddas', itu rumah-tempat 'kesucian-Ku', (Ma'af): berdiri di 'penis/ alat kelamin-Adam'. Yang ada di dlm penis itu Buah-Pelir, di antara pelir itu Nutfah yaitu mani, di dlm mani itu Madi, di dlm madi itu Wadi, di dlm wadi itu Manikem, di dlm manikem itu Rahsa, di dlm rahsa itu "AKU". "Tidak ada Tuhan kecuali AKU", "Dzat" yg meliputi keberadaan sesungguhnya, berdiri di dlm 'Nukat Gaib', turun menjadi johar-awal, di situ keberadaan alam-ahadiyat, wahdat, wahidiyat, alam arwah, alam-misal, alam-ajsam, alam-insan kamil, jadinya manusia sampoerna yaitu sejatinya 'sifat-Ku'.

7)-. Wejangan ke-7 "Panetep santosaning iman" (Penetapan iman sentosa) - Ingsun, 'AKU' menyaksikan bhw sesungguhnya tdk ada 'Tuhan' kecuali hnya 'AKU' dan 'AKU' menyaksikan sesungguhnya ('Muhammad'), itu adalah 'utusan-Ku'.

8)-. Wejangan ke-8 "Sasahidan" (Syahadat) - Ingsun, 'AKU', pan menyaksikan pd 'Dzat-Ku' sendiri, sesungguhnya tdk ada 'Tuhan' kecuali 'AKU', dan menyaksikan 'AKU' sesungguhnya ('Muhammad') itu 'utusan-Ku'. Sesungguhnya yg bernama: ('Alloh') itu 'badan-Ku', ('Rasol') itu 'rahsa-Ku', ('Muhammad') itu 'cahaya-Ku'. AKU-lah yg hidup tdk bisa mati, AKU-lah yg ingat tdk bisa lupa, AKU-lah yg kekal tdk bisa berubah dlm keberadaan yg sesungguhnya, AKU-lah waskita, tdk ada tersamar pd sesuatu pun. AKU-lah yg berkuasa berkehendak, yg kuasa bijaksana tdk kurang dlm tindakan, terang sampoerna jelas terlihat, tdk terasa apa-pun, tdk kelihatan apa-pun, k'cuali hnya "AKU" yg meliputi alam s'mua dgn 'kuasa-Ku'. .-("R. Ng. Ronggowarsito - Wirid Hidayat Jati")-.

Tuesday, January 29, 2013

Serat Centini



Dear: Mas BHB Bow Ho Bow - Meleburkan SEX dan MISTIK - Serat Centhini - SERAT Centhini, yang dianggap karya terbesar dan terindah dalam kesusastraan Jawa, ditulis pada abad ke-19. Dia lahir dari rahim keraton Solo. Pangeran Adipati Anom, seorang putra Susuhunan Pakubuwana IV, menginginkan pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa dikumpulkan. Tiga pujangga keraton ditunjuk untuk membantunya.

Kerja keempatnya menghasilkan karya setebal 4.000 halaman lebih yang terbagi atas selusin jilid. Beberapa jilid di antaranya memuat ajaran erotika yang dibalut dengan mistisisme Islam dan Jawa. Inilah yang menarik minat Elizabeth D. Inandiak, seorang Prancis yang menggubah dan menerjemahkan Serat Centhini ke Bahasa Indonesia. "Saya tak pernah membayangkan sama sekali bahwa seks bisa bergabung dengan mistik," katanya dalam kuliah umum "Erotika Nusantara: Serat Centhini" di Teater Salihara, Jakarta, 10 Maret lalu.

Dalam Centhini, seks tak diartikan hanya sebagai pertemuan dua alat kelamin manusia. "Kalau cuma bersetubuh, nanti lama-lama bisa busuk," tandas Inandiak.

Lebih dari itu, seks dapat berarti puncak erotika. Dalam menjelaskan arti erotika, Inandiak tak hanya menjabarkannya dari istilah Barat, tapi juga mencoba menggalinya dari khazanah istilah lokal. "Kenapa kita harus meminjam istilah dari bahasa-bahasa Barat?" tanya Inandiak dalam makalahnya, "Dari Erotika ke Sir Centhini". Erotika berasal dari kata Yunani, eros, yang berarti dewa asmara. Kata ini dipakai untuk menjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan syahwat, hawa, nafsu, atau kebirahian.

Padanan kata ini, menurut Inandiak, dapat ditemukan dalam Centhini. Beberapa kata yang berkelindan dengan erotika misalnya ajigineng, terangsang, nafsu berahi, cinta syahwati, asmaragama (seni bercinta), kasmaran, naluri seksual, pengumbaran nafsu, dan mabuk kepayang. Masyarakat Jawa telah mempunyai konsep dan kata mengenai erotika. Dengan demikian, erotika tidak sepenuhnya datang dari Barat.

Sejak 1990-an, Elizabeth menerjemahkan Centhini ke dalam bahasa Prancis. Buku sadurannya dalam bahasa Indonesia, Centhini: Kekasih Yang Tersembunyi, baru terbit pada 2008. Penerjemahan Serat Centhini itu tak mudah, Inandiak mesti menghadapi dua pendapat ekstrem para ahli sastra Jawa. Satu kelompok berpendapat Serat Centhini terlalu kotor untuk diterjemahkan karena memuat ajaran dan kata-kata kotor, cabul, dan kasar. Di kutub lain, para ahli menilai Serat Centhini sangat adiluhung sehingga tak bisa diterjemahkan. Kalaupun diterjemahkan, nilai estetis Centhini akan berkurang. Kedua pendapat itulah yang menyebabkan Serat Centhini tak diterjemahkan selama hampir satu abad. Tapi Inandiak tetap berkeras menerjemahkannya karena menganggap karya ini sangat penting untuk mengungkap dunia tersembunyi orang Jawa.

Beberapa jilid Serat Centhini memang memuat ajaran-ajaran kotor dan cabul. Penuh adegan persanggamaan dan pelepasan hasrat seksual yang tak terbatas suami dan istri tapi juga di luar pernikahan. Petualangan Cebolang, remaja yang lari dari rumah orangtuanya karena menilai dirinya berdosa besar, menjadi simbolisasinya.

Dalam pelariannya, dia bersanggama dengan orang yang berbeda, tak peduli laki atau perempuan, di banyak tempat. Perbuatannya itu tak lain untuk menebus dosa-dosanya. Cebolang menganggap hanya dengan menceburkan diri ke perbuatan yang hina kesalahannya diampuni. Ketika sampai di Mataram (Yogyakarta), Cebolang, bersama kawan lelakinya, Nurwitri, menyetubuhi dua perempuan secara bergantian di area pesantren. Subuh tiba, mereka berhenti, lalu mandi untuk menunaikan salat subuh di masjid.

"Ini menarik. Kalau terjadi di klub seks bebas, itu bukan erotika. Tapi, ini terjadi di pesantren sehingga erotikanya sangat tinggi. Seperti ada sesuatu yang tersembunyi dalam kisah itu," terang Inandiak.

Tapi, Inandiak mengingatkan bahwa kecabulan dan kekotoran bahasa Serat Centhini terhapus lewat keindahan tembang dengan paduan gamelan dan pesinden. "Pembacaan Serat Centhini sejatinya memang ditembangkan," tandasnya. Dengan demikian, para pembaca tak tenggelam ke lautan kata-kata kotor dan cabul sehingga keindahan erotika Serat Centhini tetap dapat ditangkap.

Kisah asmara paling halus dalam Serat Centhini tak pelak menjadi milik pasangan Amongraga dan Tembangraras. Amongraga, putra mahkota Sunan Giri, duduk berhadapan dengan Tambangraras, istrinya, di kamar pengantin pada malam pertama pernikahannya. Amongraga berada di buritan ranjang pengantin, sedangkan Tambangraras duduk di haluan. Jarak antara keduanya cukup jauh. Riuh-rendah tetamu yang masih berpesta dan mabuk di luar kamar masih terdengar, sedangkan suasana di dalam kamar sangat tenang dan damai.

Amongraga tak lantas bersanggama dengan istrinya. Dan terus begitu hingga malam keempat puluh. Selama itu, Amongraga mengajarkan sejumlah rahasia kepada istrinya agar persanggamaan mereka mencapai penyatuan sejati. Sebelum tibanya malam itu, keduanya hanya saling menatap dan berbicara.

Mereka bertelanjang secara bertahap sesuai dengan tingkatan mistiknya. "Semakin tinggi tingkatan mistiknya, semakin tinggi pulalah ketelanjangannya," kata Inandiak.

Tingkatan mistik tercapai berkat ajaran-ajaran Amongraga yang diambil dari mistisisme Islam dan asmaragama (seni bercinta Jawa). Ajaran Islamnya bersumber dari buah pikir sufi Timur Tengah seperti Al-Jili, Abdul Qadir al-Jailani, Al-Ghazali, dan Rumi. Sedangkan ajaran asmaragama bersumber dari tradisi tantrisme dan falsafah Jawa Kuno. Karena asmaragama, banyak yang menganggap Serat Centhini sebagai Kamasutra Jawa. "Memang ada yang menyebut seperti itu, tapi saya kira Centhini bercerita tentang banyak hal. Lebih luas daripada Kamasutra," katanya.

Amongraga menyadari sepenuhnya apa yang diajarkannya selama empat puluh malam, pun jua dengan Tambangraras. Jiwa mereka terbakar dalam api asmara. Dan mencapai puncaknya pada malam keempatpuluh. Saat itulah, mereka menyatukan tubuh. Tak ada laki-laki, tak ada perempuan. Manunggal. Demikianlah puncak erotika. Inandiak menyebut itu sebagai paduan sir (nafsu dalam bahasa Jawa) dan sir (rahasia dalam bahasa Arab). "Nafsu yang mengangkat asmaragama ke alam gaib (rahasia)," tulis Inandiak. Sesuatu yang menurut Inandiak menjadi padanan kata paling tepat untuk erotika dan tidak ditemukan dalam alam pikiran orang Barat melalui pembacaannya terhadap karya sastra mereka.

"Sepanjang pengetahuan saya, mudah-mudahan saya salah, tak ada kesusastraan Eropa yang menggabungkan seks dan mistik seperti ini," kata Inandiak menutup 

Sunday, January 27, 2013

Sharing David

kalo nempel di aku dan mengaku yah mungkin awalnya mah bener tp akhirnya jd salah hahaha krn pengalaman spiritual yg bener ,ga menimbukan arsip ingetan,sehingga ga menumbuhkan rasa aku dan pengakuan..,ga jadi lebih2,ga jadi pinter,tetep biasa...begitu pikiran dan hati ikut2 lantas ke aku,baru jadi ga ngerasa biasa...pengen luar biasa,lebìh unggul,lebih linuwih,lebìh bijak,lebih suci dr yg lainnya..pengen jd beda dr umumnya..entah dr pakaian,gaya,solah tingkah ,nama gelar dsbnya...lah gimana mau pinter kalo pikiran n ati di lepas?.cuma ngerti..krn semakin murni,kosong sehingga apa2 menjadi lebih mudah di terima ,di mengerti,di fahami,di insyafi n di maklumi...lah itu Eyang Subuh itu cerita pengalamannya,apa krn mengaku,tdk,skdr adanya gitu,di kehendaki Tuhan gitu,buat meyakinkan kita di awal, akan kebenaran Subud ...bukan butuhnya Eyang itu 
kalo nempel di aku dan mengaku yah mungkin awalnya mah bener tp akhirnya jd salah hahaha krn pengalaman spiritual yg bener ,ga menimbukan arsip ingetan,sehingga ga menumbuhkan rasa aku dan pengakuan..,ga jadi lebih2,ga jadi pinter,tetep biasa...begitu pikiran dan hati ikut2 lantas ke aku,baru jadi ga ngerasa biasa...pengen luar biasa,lebìh unggul,lebih linuwih,lebìh bijak,lebih suci dr yg lainnya..pengen jd beda dr umumnya..entah dr pakaian,gaya,solah tingkah ,nama gelar dsbnya...lah gimana mau pinter kalo pikiran n ati di lepas?.cuma ngerti..krn semakin murni,kosong sehingga apa2 menjadi lebih mudah di terima ,di mengerti,di fahami,di insyafi n di maklumi...lah itu Eyang Subuh itu cerita pengalamannya,apa krn mengaku,tdk,skdr adanya gitu,di kehendaki Tuhan gitu,buat meyakinkan kita di awal, akan kebenaran Subud ...bukan butuhnya Ey
ang itu 

Friday, January 11, 2013

serah diri


Berserah diri adalah sebuah pencapaian diri dalam menapaki kesadaran spiritual.....coba simak pernyataan bli Gobind berikut ini.....

Berserah adalah menyerah total. menyerah bukan berarti kalah, juga tidak berarti menang, ia yang menyerah penuh adalah menyerahkan semuanya termasuk semua kemenangan dan kekalahan.

orang ini tidak mempunyai apa-apa, ia telah menjadi tawananNYa. Semua yang diminta pasti ia lakukan, apapun pemberianNya ia terima, juga apapun yang diambil ia lepaskan.

Walaupun bergelar tawanan ia adalah orang yang paling bebas.Ia tidak terikat kenangan masa lalu juga belenggu ketakutan masa depan. Kemarin, hari ini dan esok, semua sama saja.

ia tidak memihak kepada terang dan memusuhi gelap.
Baginya terang dan gelap mempunyai fungsinya masing-masing, walau terlihat berlawanan, mereka saling melengkapi, saling membutuhkan.

Puja-puji tidak melayangkan hatinya juga cacian tidak meremukkan kalbunya. tidak ada kebaikan yang digenggam juga keburukan yang ia tendang.

Semuanya ia serahkan, tubuhnya pikirannya bahkan jiwanya,
ia sadar tubuh ini hanya sementara, juga segala pemikiran dan konsep yang ia yakini, adalah ilusi.
Manusia ini tidak pernah kehilangan apapun, karena ia tidak pernah merasa mempunyai apa-apa.

ia sadar, setiap "saya" adalah ego yang mencemarkan keheningan, setiap "aku" hadir, keikhlasan menghilang.

tidak ada seorangpun sampai disana dengan menginginkan atau mengejarnya, mereka yang berhenti, mereka yang berkata cukup dan mereka yang menyerah, merekalah yang sudah sampai.

Saturday, December 15, 2012

Syeh Siti Jenar



RajaningBudaya Seni Mataram · 262 pelanggan
Rabu pukul 8:29 di sekitar Kota Yogyakarta · 
  • MEMBEDAH ALAM FIKIRAN SITI JENAR

    TANYA JAWAB DENGAN SYEH SITI JENAR



    Ajaran Syekh Siti Jenar dikenal sebagai ajaran ilmu kebatinan. Suatu ajaran yang menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah yang kasat mata. Intinya ialah konsep tujuan hidup. Titik akhir dari ajaran Siti Jenar ialah tercapainya manunggaling kawula-Gusti. Yaitu bersatunya antara roh manusia dengan Dzat Allah. Paham inilah yang hampir sama dengan ajaran para zuhud, wali dan orang-orang khowash. Zuhud banyak dijumpai dalam dunia tasawuf. Mereka merupakan orang-orang atau kelompok yang menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan duniawi. Sebab mereka mempunyai tujuan hidup yang lebih utama, yakni ingin mencapai kesucian jiwa atau roh.

    Inti ajaran Syeh Siti Jenar adalah pencapaian spiritualitas yang tinggi dalam penyatuan antara makhluk dengan Dzat Pencipta, yang lebih populer disebut sebagai manunggaling kawula-Gusti. Bagian-bagian dari ajaran itu adalah meliputi penguasaan hidup, pengetahuan tentang pintu kehidupan, tentang kematian, tempat kelak sesudah ajal, hidup kekal tak berakhir, dan tentang kedudukan Yang Mahaluhur. Paham yang hampir senada dengan falsafah Jawa kuno.

    Suatu ketika Syeh Siti Jenar mengajarkan ilmu kepada para murid-muridnya. Syeh Siti Jenar berkata,”Manusia harus berpegang pada akal, meyakini pula dua puluh sifat yang dimiliki Allah”. Antara lain yakni; wujud, tak berawal, tak berakhir, berlainan dengan barang baru, berkuasa, berkehendak, berpengetahuan, memiliki ilmu secara hakikat dan sebagainya. Para santri mengajukan pertanyaan- pertanyaan sebagai berikut;



    Tentang Ketuhanan



    M (murid) ; Apakah wujud dari Tuhan itu dapat dimiliki oleh manusia ?”

    S (Syeh Jenar) ; Memang, sifat wujud itu bisa dimiliki manusia dan itulah inti dari ajaran ini. Selama manusia mampu menjernihkan kalbunya, maka ia akan mempunyai sifat-sifat itu. Sifat tersebut pun sudah kumiliki. Kalian bisa melakukannya dengan mengamalkan apa yang hendak kuajarkan. Allah adalah satu-satunya yang wajib disembah. Dia tidak tampak dan tidak berbentuk. Tidak terlihat oleh mata. Sedangkan alam dan segala isinya merupakan cerminan dari wujud Allah yang tampak. Seseorang bisa meyakini adanya Allah karena ia melihat pancaran wujudNya melalui jagad raya ini. Allah tidak berawal dan berakhir, memiliki sifat langgeng, tak mengalami perubahan sedikitpun. Allah berada di mana-mana, bukan ini dan bukan itu. Dia berbeda dengan segala wujud barang baru yang ada di dunia.



    M ; Wahai Kanjeng Syeh, jelaskan kepada kami tentang hakikat kodrat !”

    S ; Kodrat adalah kekuasaan pribadi Tuhan. Tak ada yang menyamainya. KekuatanNya tanpa sarana. kehadiranNya berasal dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda. Tak dapat ditafsirkan. Jika engkau menghendaki sesuatu maka pasti kalian rencanakan matang-matang dan pasti pikirkan berulang-ulang. Itupun masih sering meleset. Namun Allah tidak demikian, bila menghendaki sesuatu tak perlu dipersoalkan terlebih dahulu.



    M ; Kalau begitu Allah tidak memerlukan sesuatu ?

    S ; Benar Allah tidak memerlukan sesuatu. Karena itu jika kalian hidup tanpa memerlukan sesuatu, tanpa butuh harta benda, tanpa butuh jabatan, tanpa butuh pujian, maka kalian akan merasakan hidup yang sesungguhnya. Kalian akan memiliki sifat Allah tersebut.



    M ; Kalau manusia menghindari sesuatu dan merasa tidak memerlukan apapun, apakah akhirnya dapat disamakan dengan Allah ?

    S ; Tidak ! walaupun manusia hidup tanpa bergantung sama sekali kepada duniawi, namun ia tetap berbeda dengan Allah. Tidak bisa disamakan dengan Tuhan. Allah adalah pencipta dan kalian adalah yang diciptakan. Allah berdiri sendiri, tanpa memerlukan bantuan. Hidupnya tanpa roh, tidak merasa sakit dan kesedihan, Allah muncul sekehendaknya.



    M ; Jika Allah berkehendak, maka apakah kehendak seseorang itu karena kemauan Allah ?

    S ; Untuk sampai pada jawaban itu, kita harus membedakan seseorang mana. Manusia itu dibedakan menjadi beberapa tingkatan. Ada yang awam, ada yang khowash. Orang awam hanya beribadah secara syariat, tanpa dapat memelihara kalbu, maka ia masih jauh bisa berhubungan dengan Allah. Sedangkan orang-orang khowash, termasuk para nabi, rasul, dan waliyullah, mereka beribadah secara utuh. Bahkan sampai pula pada tingkatan hakikat. Kalau kalbunya sudah bersih dari duniawi dan menyatu dengan cahaya Ilahi, maka kehendak dan kemauannya itu berasal dari Allah. Perbuatannya adalah perbuatan Allah. Maka jangan heran jika ada orang yang diberi karomah sehingga segala ucapannya menjadi bertuah.



    M ; Kalau begitu, ibadahnya orang yang sudah khowash itu merupakan kehendak Allah ?

    S ; Benar ! mereka mempunyai kejernihan akal budi. Memiliki kebersihan jiwa dan ilmu. Shalat lima waktu dan berzikir merupakan kehendak yang sangat dalam. Bukan kehendak nafsunya, namun kehendak Allah. Semangatnya sedemikian besar. Mereka shalat tidak mengharapkan pahala, tetapi merupakan suatu kewajiban (diri) dan pengabdian. Badan haluslah yang mendorong untuk menjalankan.



    M ; Banyak orang melakukan shalat tetapi tidak menyentuh kepada Yang Disembah. Ini bagaimana ?

    S ; Memang banyak orang yang secara lahiriah tampak khusuk shalatnya. Bibirnya sibuk mengucapkan zikir dan doa-doa, namun hatinya ramai oleh urusan duniawi mereka. Islam yang demikian ini ibarat kelapa, mereka hanya makan serabutnya. Padahal yang paling nikmat adalah buah/daging kelapa dan air kelapanya. Mereka sembahyang lima waktu sebatas lahiriah saja. Tidak berpengaruh sama sekali kepada akal budinya. Padahal sembahyang itu diharapkan dapat mencegah keji dan munkar namun mereka tak mampu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun hakikat shalatnya itu membekas pada budinya itupun hanya sedikit. Buat apa sembahyang lima kali jika perangainya buruk ? masih suka mencuri dan berbohong. Untuk apa bibir lelah berzikir menyebut asma Allah, jika masih berwatak suka mengingkari asma. Kadang-kadang pula mereka berharap pahala. Shalatnya saja belum tentu dihargai oleh Allah, tetapi buru-buru meminta balasan,…..aneh!



    M ; Wahai Syeh, ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa amal hamba yang pertama kali diperhitungkan adalah sembahyang. Jika sembahyangnya baik, maka semua dianggap baik. Ini bagaimana ?

    S ; Itu perlu ditafsirkan. Tidak boleh dipahami secara dangkal makna dari hadits tersebut. Hadits itu mengandung logika sebagai berikut; Orang yang tekun mengerjakan sembahyang dengan sempurna, maka perilaku, budi pekerti dan kalbunya juga harus terpengaruh menjadi baik. Sebab sembahyang yang dilakukan dengan jiwa yang bersih akan berpengaruh pula bagi cabang kehidupan lainnya. Lebih lanjut Syeh Siti Jenar mengatakan; sebaliknya hadits itu tidak berlaku bagi orang yang tekun mengerjakan sembahyang tetapi hatinya masih kotor, tersimpan keinginan-keinginan nafsu misalnya ingin dipuji orang lain, terdapat ujub dan sombong, serta budinya menyimpang dan menabrak tatanan yang dilarang.



    M ; Apakah ada tuntunan mengenai pakaian seseorang yang sedang melakukan sembahyang ?

    S ; Sesungguhnya aku (Syeh Siti Jenar) tidak sependapat jika ada orang yang mengenakan pakaian gamis dan meniru-niru pakaian orang Arab dalam melakukan shalat. Jika selesai shalat, jubah atau gamis itu dilepaskan. Sedangkan shalat orang tersebut tidaklah menyentuh hatinya. Meskipun berlama-lama merunduk di masjid, namun masih mencintai duniawi. Sembahyang yang pakaiannya kedombrangan, merunduk di masjid berlama-lama sampai lupa anak istri. Sedangkan ia masih menyintai duniawi dan mengumbar nafsu manusiawinya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia seringkali menyusahkan orang lain. Maka orang yang demikian itu tidak terpengaruh oleh sembahyang yang dilakukan. Biasanya tipe orang seperti itu sibuk menghitung pahala. Dia sangat keliru dan bodoh. Pahala yang masih jauh tetapi diperhitungkan. Sungguh, sedikit pun tak akan dapat dicapainya.



    M ; Dzat Yang Luhur dan Sejati itu sesungguhnya siapa, wahai Syekh ?

    S ; Gusti Allah. Gusti Allah adalah Dzat yang tinggi dan terhormat. Ia memiliki dua puluh sifat, semua timbul atas kehendakNya. Ia mampu mencurahkan ilmu kebesaran, kasampurnan, kebaikan, keramahan, kekebalan dalam segala bentuk, memerintah umat. Dapat muncul di segala tempat dan sakti sekali. Aku (Syekh Siti Jenar) merasa wajib dan menuruti kehendakNya. Sebagaimana ajaran jabariyah, dengan kesungguhan dan konsekuen, selalu kuat cita-citanya, kokoh tak tergoyahkan terhadap sesuatu yang tidak suci, berpegang teguh kepadaNya selama hidup, tak akan menyembah terhadap ciptaanNya, baik dalam wujud maupun dalam pengertian.



    M ; Mengapa Kanjeng Syekh dianggap oleh para wali sebagai wali murtad ?

    S ; Karena ajaranku tidak mudah dipahami orang awam.



    M ; Bagaimana ajaran Kanjeng Syeh yang dianggap sesat ?

    S ; Aku adalah penjelmaan dari Dzat Luhur, yang memiliki semangat, sakti, dan kekal akan kematian. Dengan hilangnya dunia Gusti Allah telah memberi kekuasaan kepadaku dapat manunggal denganNya, dapat langgeng mengembara melebihi kecepatan peluru. Bukannya akal, bukannya nyawa, bukan penghidupan yang tanpa penjelasan dari mana asalnya dan kemana tujuannya.



    M ; Apa hubungannya antara kanjeng Syeh Siti Jenar dengan Allah, yang kau sebut sebagai Dzat sejati ?

    S ; Dzat yang sejati menguasai wujud penampilanku. Karena kehendakNya maka wajarlah jika aku tidak mendapat kesulitan. Aku bisa berkelana ke mana-mana. Tidak merasa haus dan lelah, tanpa sakit dan lapar, karena ilmu kelepasan diri, tanpa suatu daya kekuatan. Semua itu disebabkan jiwaku tiada bandingannya. Secara lahiriah memang tidak berbuat sesuatu, tetapi tiba-tiba sudah berada di tempat lain. Gusti Kang Murbeng Dumadi (Allah) yang kuikuti, kutaati siang malam, yang kuturut segala perintahNya. Tiada menyembah Tuhan lain, kecuali setia terhadap suara hati nuraniku. Allah Mahasuci.



    M ; Wahai Syeh jelaskan apa yang di maksud bahwa Allah itu Maha Suci ?

    S ; Allah Mahasuci itu hanyalah sebatas istilah saja. Merupakan nama saja. Sebenarnya hal itu dapat disamakan dengan bentuk penampilanku. Jika kalian melihatku, maka tampak dari luar sebagai warangka (kerangka), sedangkan di dalamnya adalah kerisnya (intinya) Hyang Agung, yang tak ada bedanya dengan kerangka. Tuhan itu wujud yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang yang bersinar cemerlang. Sifat-sifatNya berwujud samar-samar bila dilihat, warnanya indah sekali seperti cahaya.



    M ; Di manakah Tuhan berada ? kami membayangkan Dia ada di langit ke 7 dan bersemayam di atas singgasana layaknya raja.

    S ; Siti Jenar mendadak tertawa. Setelah tertawanya reda, ia berkata, “Itu salah besar, itu kebodohan. Sesungguhnya Tuhan tidak berada di langit ketujuh dan tidak bertahta di singgasana atau arsy (Kursi). Bila kalian membayangkan demikian, maka hati kalian sudah musyrik. Berdosa besar. Karena kalian menyamakan Dia dengan raja atau dengan penguasa.



    M ; Kami jadi bingung, Kanjeng Syekh, lantas Tuhan itu ada di mana ?

    S ; Kalau kalian bertanya demikian, maka jawabnya mudah. Gusti Allah itu tidak kemana-mana, tetapi ada di mana-mana.



    M ; Kami semakin tak mengerti. Bisakah Kanjeng Syeh memberi penjelasan yang lebih gamblang ?

    S ; Gusti Allah itu berada pada dzat yang tempatnya tidak jauh. Dia bersemayam di dalam tubuh kita. Tetapi hanya orang yang khowash, orang yang terpilih dapat melihat. Tentunya dengan mata batin. Hanya mereka yang dapat merasakannya.



    M ; Apakah Allah itu berupa roh atau sukma ?

    S ; Bukan roh dan bukan sukma. Allah adalah wujud yang tak dapat dilihat oleh mata, tetapi dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang. Sudah kukatakan tadi, warnanya indah sekali. Ia memiliki dua puluh sifat seperti; sifat ada, tak berawal, tak berakhir, berbeda dengan barang-barang yang baru, hidup sendiri dan tidak memerlukan bantuan dari sesuatu, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, berilmu, hidup dan berbicara. Sifat Gusti Allah yang duapuluh itu terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut dengan Dzat. Sifat duapuluh itu juga menjelma pada diriku. Karena itu aku yakin tidak akan mengalami sakit dan sehat, punya budi kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramahan. Roh ku memiliki sifat duapuluh itu, sedangkan ragaku yang lahiriah memiliki sifat nur Muhammad.



    M ; Wahai Syekh, bukankah Muhammad SAW itu seorang nabi. Apakah Syekh mengaku sebagai Nabi ? Sedangkan dikatakan bahwa setelah nabi Muhammad, di dunia ini tidak ada kenabian lagi ?

    S ; Jangan salah menafsirkan kata-kataku. Jika salah, maka kau akan sesat dan timbul fitnah. Tentu saja memfitnah diriku. Begini, bahwa rohku adalah roh Ilahi. Karena aku pun memiliki sifat duapuluh. Sedangkan badan wadag ku, jasadku ini, adalah jasad Muhammad. Dari segi lahiriah Muhammad adalah manusia. Namun manusia Muhammad berbeda dengan orang kebanyakan. Muhammad memiliki jasad yang kudus, yang suci. Aku dan dia sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat panca indera. Dan panca indra itu hanyalah meminjam. Jika sudah diminta kembali oleh Pemiliknya akan berubah menjadi tanah yang busuk, berbau, hancur dan najis. Nabi atau wali, jika sesudah kematian jasadnya menjadi tak bermanfaat. Bahkan berbau, kotor, najis, busuk dan hancur. Warangka jika sudah ditinggalkan kerisnya maka tiada guna.



    M ; Jika seseorang sudah mati, berarti selesai sudah kehidupannya ?

    S ; Siapa bilang begitu ? Tidak ! meskipun jasadnya mati, tetapi sebenarnya ia tidaklah mati. Karena itu, kalian semua harus mengerti bahwa dunia ini sesungguhnya bukanlah kehidupan. Buktinya ada mati. Di dunia ini, kehidupan disebut kematian. Coba rasakan ! Aku mengajarkan kepada kalian untuk tidak menyintai dunia ini dan tidak terpesona terhadap keindahannya. Carilah kebenaran dan kebahagiaan sejati demi kehidupan mendatang, kehidupan setelah kematian. Kalian akan berarti jika telah menemui kematian dan hidup sesudah itu. Engkau harus memilih hidup yang tak bisa mati. Dan hidup yang tak bisa mati itu hanya kalian rasakan setelah nyawa terlepas dari badan. Kehidupan itu akan dapat dirasakan dengan tanpa gangguan seperti sekarang ini. Ketahuilah, hidup yang sesungguhnya adalah setelah nyawa lenyap dari badan.



    M ; Agar dapat meraih kehidupan dalam kemuliaan sejati kelak, dalam kehidupan di dunia ini dibutuhkan kebenaran dan kebahagian sejati. Bagaimanakah cara mendapatkannya Kanjeng Syekh ?

    S ; Jiwa manusia adalah suara hati nurani. suara hati nurani merupakan ungkapan Dzat Allah yang harus ditaati perintahnya. Maka ikutilah hati nuranimu.



    M ; Bagaimana caranya meyakinkan bahwa suatu bisikan adalah suara hati nurani yang sesungguhnya ?

    S ; Kalian harus cermat, karena hati nurani berbeda dengan akal budi, jiwa itu milik Allah, sedangkan akal milik manusia. Akal bersifat manusiawi, karena itu kadang-kadang akal tak mampu menemukan keajaiban Allah. Kehendak, angan-angan, ingatan, merupakan suatu akal yang tak kebal atas kegilaan. Suatu ketika akal bisa menjadi bingung sehingga membuat seseorang lupa diri. Akal seringkali tidak jujur. Siang malam membuat kepalsuan demi memakmurkan kepentingan pribadi.



    M ; Bukankah manusia menjadi lebih mulia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia diberi akal oleh Allah ?

    S ; Ya, itulah yang membedakan. Tapi jangan lupa bahwa akal seringkali tidak jujur. Sering bersifat dengki, suka memaksa, melanggar aturan, jahat, suka disanjung-sanjung, sombong, yang ahirnya membuat manusia justru tidak berharga samasekali. Lebih hina dari makhluk lainnya.



    M ; Jadi kita harus menggunakan akal sesuai dengan jiwa atau kehendak Allah ?

    S ; Ya, benar. Jika seseorang mampu mengendalikan akalnya dengan ajaran Allah, dengan kebenaran, dan dengan jiwa yang bersih, maka ia bermanfaat. Menjadikan diri lebih mulia.



    M ; Apa yang menghalangi seseorang sehingga gagal dalam dalam menempuh manunggaling kawula-Gusti ?

    S ; Jangan mementingkan kehidupan duniawi. Sebab kehidupan duniawi yang kalian jalani penuh kotoran. Akal kalian mudah tercemar dengan kotoran sifat dan mudah dikuasai oleh nafsu, sehingga menghalangi kalian untuk bisa menuju pada tahap manunggaling kawula-Gusti.

    M ; Di dunia ini ada yang cantik, tampan dan gagah. Bagaimana kedudukan orang-orang tersebut jika kelak telah terlepas rohnya ?

    S ; Kalian jangan menyintai dan mengagumi bentuk yang cantik, tampan atau gagah. Sebab sebenarnya badan wadag (jasad) laksana sangkar yang mengurung jiwa. Badan wadag merupakan beban yang memberatkan dan menyakitkan roh kalian.



    M ; Wahai Syekh, benarkah sesudah kematian ada surga neraka ?

    S ; Para wali memang mengajarkan demikian. Inilah ajaran yang justru menurutku menyesatkan karena terlalu dangkal. Para wali hanya mengajarkan “serabut” atau kulitnya, tidak sampai pada isinya; tidak sampai pada hakikat yang sebenarnya. Para wali mengajarkan bahwa surga dan neraka hanya dijumpai kelak setelah kiamat. Adanya di akherat. Dan orang-orang awam menelan mentah-mentah keterangan itu. Siksa kubur hanya dijumpai dan dirasakan badan wadag ketika di tanam di kuburan. Para wali memang bertujuan baik, tetapi diputus sampai di situ. Mereka enggan menjelaskan lebih dalam dan lebih sampai pada makna yang hakiki.



    M ; Kalau menurut Syekh bagaimana ?

    S ; Begini, untuk menemui dan merasakan surga dan neraka maka seseorang tidak harus menunggu sampai mati atau sampai datangnya kiamat. Di dunia ini saja kita sudah dapat merasakan surga dan siksa neraka. Karena sesungguhnya surga dan neraka itu berada di dalam jiwa kalian. Berada di dalam jiwa setiap manusia yang bernafas. Jika jiwa manusia telah bersih dari gangguan hawa nafsu dan dapat menyatu dengan Gusti Allah, maka di dunia ini ia akan merasakan suatu kenikmatan surga. Jika budi kalian, misalnya menolong orang lemah, lalu hati menjadi ikhlas dan puas, maka itulah yang disebut surga. Sedangkan neraka, perwujudannya adalah jika hawa nafsu telah menguasai diri seseorang. Kemudian jiwanya meronta dan merasa bersalah. Maka dia tentu tersiksa. Ia tidak bisa tidur, gelisah pikirannya, sedih dan bermacam-macam rasa tak enak. Itulah yang dinamakan neraka.



    M ; Jadi surga dan neraka di akherat tidak berlaku ? maksud kami tidak ada ?

    S ; Surga dan neraka di hari kiamat, di akherat kelak, sudah diterangkan dalam Al Quran. Itu perkara gaib dan erat kaitannya dengan iman. Kalian harus meyakininya.



    M ; Untuk apa meyakini ? bukankah jika di dunia berbudi baik dan beriman kepada Allah sudah merasakan surga. Sedangkan surga dan neraka di akhirat hanyalah bersifat menakut-nakuti manusia agar tidak berbuat buruk ?

    S ; Pendapatmu memang cerdas dan kritis. Namun kalian tidak usah mempertanyakan, apakah kelak di akhirat ada surga dan neraka. Itu urusan Gusti Allah. Kalian harus meyakini. Karena meyakini hari akhir merupakan rukun iman. Sekali lagi, untuk mendapatkan surga pun kalian tak perlu menunggu datangnya hari akhir. Meskipun seseorang sembahyang seribu kali setiap hari, toh akhirnya mati juga. Walaupun badanmu kau tutupi dengan kain surban dan jubah, namun akhirnya menjadi debu juga. Maka jiwalah yang paling penting. Jika keadaan jiwa seperti Tuhan, maka surga akan didapatkannya. Kenikmatan luar biasa akan dirasakan.



    M ; Wahai Syeh, sesungguhnya yang menjadi pikiranku adalah sebelum ada dunia ini, apakah sudah ada dunia lainnya. Atau setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru lagi seperti sekarang ?

    S ; Sebelum dunia ada, apakah ada dunia lain, itu hanya Allah yang tahu. Tetapi sekarang kita berada di dunia ini menempati ruang dan waktu. Dunia ini asalnya adalah baru. Kemudian mengalami kerusakan dan kelak akhirnya menjadi hancur. Lenyap tak berharga. Setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru untuk keduakalinya ? Tidak !



    M ; Wahai Syekh, kalau begitu dunia erat kaitannya dengan raga kita, sedangkan jiwa erat kaitannya dengan alam akhirat ?

    S ; Benar, dunia itu erat kaitannya dengan raga. Raga mempunyai sifat seperti alam semesta, yang semula baru kemudian rusak. Sedangkan jiwa tidak akan mengenal kerusakan karena jiwa merupakan penjelmaan Dzat Allah. Ketahuilah bahwa raga adalah barang pinjaman yang suatu saat akan diminta oleh Pemiliknya. Ketahuilah wahai murid-muridku. Raga ini sesungguhnya sangkar yang membelenggu dan menyulitkan jiwa. Agar jiwa menjadi bebas, maka suatu saat kelak, kalian akan kuajarai bagaimana cara melepas jiwa dari raga. Ilmu melepas jiwa artinya bahwa kematian adalah titik awal kehidupan yang sebenarnya. Jika seseorang raganya mati, maka jiwanya menjadi merdeka, bebas dan tidak terkungkung lagi. Sebab raga berhubungan erat dengan alam semesta. Sedangkan jiwa berhubungan erat dengan Dzat Tuhan. selamanya jiwa tak akan bisa mati atau rusak.



    M ; Apakah yang dimaksud jalan kehidupan, wahai Syekh ?

    S ; Jalan kehidupan adalah jalan menuju kepada hidup yang sebenar-benarnya, setelah engkau mengalami kematian. Jika seorang bayi lahir, maka bukanlah awal kehidupan, namun merupakan awal “kehidupan palsu” seperti yang kalian rasakan saat ini. Inilah yang sesungguhnya kematian sejati.



    M ; Jika demikian badan ini tidak bisa merasakan kehidupan yang sebenar-benarnya ?

    S ; Ya, tidak bisa. Kehidupan sejati tidak dapat dirasakan oleh raga, karena jika raga mati akan tetapi dapat dirasakan oleh jiwa. Membusuk menjadi tanah.



    M ; Bagaimana jika sekarang ini seseorang berbuat dosa. Apakah jiwanya ikut bertanggungjawab. Sedangkan yang melakukan dosanya adalah raga.

    S ; Tetap ikut bertanggungjawab, karena jiwa yang menyatu ke dalam raga tidak bisa mencegah hawa nafsunya serta akal yang suka berbuat buruk.



    M ; Maaf saya belum paham Syekh.

    S ; Ketahuilah, setiap orang yang lahir di dunia ini maka jiwanya menyatu dengan akal. Selain akal dalam diri manusia juga ada hawa nafsu. Ketika seseorang berbuat buruk, berarti raganya didorong dan dipengaruhi oleh hawa nafsu dan akalnya. Akal dan nafsu memang suka berbuat buruk. Apabila jiwa mencegah (melalui hati nurani), maka raga tidak akan berbuat buruk. Akan tetapi jika jiwa membiarkannya, maka raga tetap melakukannya. Karena itu bagaimanapun juga jiwalah yang akan mempertanggungjawabkan perbuatan baik dan buruk raganya.



    M ; Tadi Syekh mengatakan jiwa adalah penjelmaan dzat Tuhan. Mengapa kadang-kadang jiwa mau mencegah dan kadang membiarkannya ?

    S ; Perlu kalian semua ingat, bahwa di dalam raga ini terdapat nafsu-nafsu. Jika nafsu kuat menguasai, maka jiwa menjadi terbelenggu. Karena itulah mengapa aku katakan bahwa kehidupan sekarang ini adalah kematian. Sedangkan setelah ajal merupakan awal kehidupan. Sesudah kematian maka seseorang akan mencapai kebebasan jiwanya.



    Ajaran Syekh Siti Jenar memang agak beda dengan ajaran para wali sanga. Siti Jenar mengajarkan bahwa Tuhan adalah Zat yang mendasari adanya manusia, hewan, tumbuhan dan segala yang ada. Keberadaan segala di dunia ini tergantung pada adanya Zat. Tanpa ada Zat Yang Mahakuasa, maka mustahil sesuatu yang wujud itu ada.

    Ajaran ini tidak pernah disampaikan oleh para Wali Sanga. Mereka menyadari bahwa umatnya masih terlalu awam terhadap Islam, sehingga memberi materi yang ringan dan praktis saja.
    23