1)-. Wejangan ke-1 "Ananing Dhat" (Adanya Dzat) - Sajatine, Sesungguhnya tdk ada apa pun k'tika masih sunyi hampa blom ada sesuatu, yg paling awal adanya adalah 'AKU', sesungguhnya yg 'Maha Suci' meliputi 'sifat-Ku', menyertai 'nama-Ku', dan menandakan 'perbuatan-Ku'.
2)-. Wejangan ke-2 "Wahananing Dhat" (Tempat Dzat) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU' adalah 'Dzat' yang 'Maha Kuasa' yang-kuasa menciptakan s'gala sesuatu, jadi s'ketika, sampoerna berasal dari 'kuasa-Ku', di situ telah nyata tanda 'perbuatan-Ku' yg sbg pembuka 'kehendak-Ku', yg pertama 'AKU', pan menciptakan "Kayu" bernama: "Sajaratul'yakin", yg tumbuh di dlm alam yg sejak zaman-azali & kekal adanya. Dan, k'mudian "Cahya", yg bernama: "Nur Muhammad", berikutnya: "Kaca" bernama: "Mir'atulhaya", selanjutnya: "Nyawa", yg bernama: "Roh Idhofi", lalu "Lantera", yg bernama: "Kandil", lalu "Permata", yg bernama: "Darah", lalu "Dinding Pembatas", yg bernama: "Hijab". Dan, itu sbg tempat 'kekuasaan-Ku'.
3)-. Wejangan ke-3 "Kahananing Dhat" (Keadaan Dzat) - Sajatine, Sesungguhnya manusia itu 'rahsa-Ku' & 'Aku' itu rahsanya manusia, k'rena 'AKU', pan menciptakan 'Adam' berasal dari (4) empat-perkara, Bumi, Api, Angin, & Air. Itu sbg perwujudan akan 'sifat-Ku', di sana 'Aku' tempatkan (5) lima-perkara, Nur, Rahsa, Roh, Nafsu, & Budi. Itulah sbg perwujudan 'wajah-Ku', yang Maha Suci.
4)-. Wejangan ke-4 "Pambukaning tata malige ing dalem betalmakmur" (Pembukaan tahta dlm baitul makmur) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU', pan bertahta dlm 'Baitul Makmur', itu rumah tempat 'pesta-Ku', berdiri di dlm 'kepala-Adam'. Yang pertama dlm kepala itu dimaknai yaitu 'Otak', yg ada di antara otak itu 'Manik', di dlm manik itu 'Budi', di dlm budi itu 'Nafsu', di dlm nafsu itu 'Suksma', di dlm suksma itu 'Rahsa', di dlm rahsa itu "AKU", tdk ada "Tuhan selain hnya AKU", "Dzat" yg meliputi keberadaan yg sesungguhnya.
5)-. Wejangan ke-5 "Pambuka tata malige ing dalem betalmukarram" (Pembuka tahta dlm baitul mukarram) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU', pan bertahta dlm 'Baitul Mukarram', itu rumah-tempat 'larangan-Ku', berdiri di dlm 'dada-Adam'. Yang ada di dlm dada itu Hati, yg ada di antara hati itu Jantung, dlm jantung itu Budi, dlm budi itu Jinem, yaitu angan-2, dlm angan-2 itu Suksma, dlm suksma itu Rahsa, dlm rahsa itu "AKU". Tidak ada "Tuhan kecuali hnya AKU", "Dzat" yg meliputi keberadaan yg sesungguhnya.
6)-. Wejangan ke-6 "Pambuka tata malige ing dalem betalmukadas" (Pembuka tahta dalam baitul muqaddas) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU', pan bertahta di dlm 'Baitul Muqaddas', itu rumah-tempat 'kesucian-Ku', (Ma'af): berdiri di 'penis/ alat kelamin-Adam'. Yang ada di dlm penis itu Buah-Pelir, di antara pelir itu Nutfah yaitu mani, di dlm mani itu Madi, di dlm madi itu Wadi, di dlm wadi itu Manikem, di dlm manikem itu Rahsa, di dlm rahsa itu "AKU". "Tidak ada Tuhan kecuali AKU", "Dzat" yg meliputi keberadaan sesungguhnya, berdiri di dlm 'Nukat Gaib', turun menjadi johar-awal, di situ keberadaan alam-ahadiyat, wahdat, wahidiyat, alam arwah, alam-misal, alam-ajsam, alam-insan kamil, jadinya manusia sampoerna yaitu sejatinya 'sifat-Ku'.
7)-. Wejangan ke-7 "Panetep santosaning iman" (Penetapan iman sentosa) - Ingsun, 'AKU' menyaksikan bhw sesungguhnya tdk ada 'Tuhan' kecuali hnya 'AKU' dan 'AKU' menyaksikan sesungguhnya ('Muhammad'), itu adalah 'utusan-Ku'.
8)-. Wejangan ke-8 "Sasahidan" (Syahadat) - Ingsun, 'AKU', pan menyaksikan pd 'Dzat-Ku' sendiri, sesungguhnya tdk ada 'Tuhan' kecuali 'AKU', dan menyaksikan 'AKU' sesungguhnya ('Muhammad') itu 'utusan-Ku'. Sesungguhnya yg bernama: ('Alloh') itu 'badan-Ku', ('Rasol') itu 'rahsa-Ku', ('Muhammad') itu 'cahaya-Ku'. AKU-lah yg hidup tdk bisa mati, AKU-lah yg ingat tdk bisa lupa, AKU-lah yg kekal tdk bisa berubah dlm keberadaan yg sesungguhnya, AKU-lah waskita, tdk ada tersamar pd sesuatu pun. AKU-lah yg berkuasa berkehendak, yg kuasa bijaksana tdk kurang dlm tindakan, terang sampoerna jelas terlihat, tdk terasa apa-pun, tdk kelihatan apa-pun, k'cuali hnya "AKU" yg meliputi alam s'mua dgn 'kuasa-Ku'. .-("R. Ng. Ronggowarsito - Wirid Hidayat Jati")-.
Monday, February 25, 2013
Tuesday, January 29, 2013
Serat Centini
Koleksi Foto Kronologi
Dear: Mas BHB Bow Ho Bow - Meleburkan SEX dan MISTIK - Serat Centhini - SERAT Centhini, yang dianggap karya terbesar dan terindah dalam kesusastraan Jawa, ditulis pada abad ke-19. Dia lahir dari rahim keraton Solo. Pangeran Adipati Anom, seorang putra Susuhunan Pakubuwana IV, menginginkan pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa dikumpulkan. Tiga pujangga keraton ditunjuk untuk membantunya.
Kerja keempatnya menghasilkan karya setebal 4.000 halaman lebih yang terbagi atas selusin jilid. Beberapa jilid di antaranya memuat ajaran erotika yang dibalut dengan mistisisme Islam dan Jawa. Inilah yang menarik minat Elizabeth D. Inandiak, seorang Prancis yang menggubah dan menerjemahkan Serat Centhini ke Bahasa Indonesia. "Saya tak pernah membayangkan sama sekali bahwa seks bisa bergabung dengan mistik," katanya dalam kuliah umum "Erotika Nusantara: Serat Centhini" di Teater Salihara, Jakarta, 10 Maret lalu. Dalam Centhini, seks tak diartikan hanya sebagai pertemuan dua alat kelamin manusia. "Kalau cuma bersetubuh, nanti lama-lama bisa busuk," tandas Inandiak. Lebih dari itu, seks dapat berarti puncak erotika. Dalam menjelaskan arti erotika, Inandiak tak hanya menjabarkannya dari istilah Barat, tapi juga mencoba menggalinya dari khazanah istilah lokal. "Kenapa kita harus meminjam istilah dari bahasa-bahasa Barat?" tanya Inandiak dalam makalahnya, "Dari Erotika ke Sir Centhini". Erotika berasal dari kata Yunani, eros, yang berarti dewa asmara. Kata ini dipakai untuk menjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan syahwat, hawa, nafsu, atau kebirahian. Padanan kata ini, menurut Inandiak, dapat ditemukan dalam Centhini. Beberapa kata yang berkelindan dengan erotika misalnya ajigineng, terangsang, nafsu berahi, cinta syahwati, asmaragama (seni bercinta), kasmaran, naluri seksual, pengumbaran nafsu, dan mabuk kepayang. Masyarakat Jawa telah mempunyai konsep dan kata mengenai erotika. Dengan demikian, erotika tidak sepenuhnya datang dari Barat. Sejak 1990-an, Elizabeth menerjemahkan Centhini ke dalam bahasa Prancis. Buku sadurannya dalam bahasa Indonesia, Centhini: Kekasih Yang Tersembunyi, baru terbit pada 2008. Penerjemahan Serat Centhini itu tak mudah, Inandiak mesti menghadapi dua pendapat ekstrem para ahli sastra Jawa. Satu kelompok berpendapat Serat Centhini terlalu kotor untuk diterjemahkan karena memuat ajaran dan kata-kata kotor, cabul, dan kasar. Di kutub lain, para ahli menilai Serat Centhini sangat adiluhung sehingga tak bisa diterjemahkan. Kalaupun diterjemahkan, nilai estetis Centhini akan berkurang. Kedua pendapat itulah yang menyebabkan Serat Centhini tak diterjemahkan selama hampir satu abad. Tapi Inandiak tetap berkeras menerjemahkannya karena menganggap karya ini sangat penting untuk mengungkap dunia tersembunyi orang Jawa. Beberapa jilid Serat Centhini memang memuat ajaran-ajaran kotor dan cabul. Penuh adegan persanggamaan dan pelepasan hasrat seksual yang tak terbatas suami dan istri tapi juga di luar pernikahan. Petualangan Cebolang, remaja yang lari dari rumah orangtuanya karena menilai dirinya berdosa besar, menjadi simbolisasinya. Dalam pelariannya, dia bersanggama dengan orang yang berbeda, tak peduli laki atau perempuan, di banyak tempat. Perbuatannya itu tak lain untuk menebus dosa-dosanya. Cebolang menganggap hanya dengan menceburkan diri ke perbuatan yang hina kesalahannya diampuni. Ketika sampai di Mataram (Yogyakarta), Cebolang, bersama kawan lelakinya, Nurwitri, menyetubuhi dua perempuan secara bergantian di area pesantren. Subuh tiba, mereka berhenti, lalu mandi untuk menunaikan salat subuh di masjid. "Ini menarik. Kalau terjadi di klub seks bebas, itu bukan erotika. Tapi, ini terjadi di pesantren sehingga erotikanya sangat tinggi. Seperti ada sesuatu yang tersembunyi dalam kisah itu," terang Inandiak. Tapi, Inandiak mengingatkan bahwa kecabulan dan kekotoran bahasa Serat Centhini terhapus lewat keindahan tembang dengan paduan gamelan dan pesinden. "Pembacaan Serat Centhini sejatinya memang ditembangkan," tandasnya. Dengan demikian, para pembaca tak tenggelam ke lautan kata-kata kotor dan cabul sehingga keindahan erotika Serat Centhini tetap dapat ditangkap. Kisah asmara paling halus dalam Serat Centhini tak pelak menjadi milik pasangan Amongraga dan Tembangraras. Amongraga, putra mahkota Sunan Giri, duduk berhadapan dengan Tambangraras, istrinya, di kamar pengantin pada malam pertama pernikahannya. Amongraga berada di buritan ranjang pengantin, sedangkan Tambangraras duduk di haluan. Jarak antara keduanya cukup jauh. Riuh-rendah tetamu yang masih berpesta dan mabuk di luar kamar masih terdengar, sedangkan suasana di dalam kamar sangat tenang dan damai. Amongraga tak lantas bersanggama dengan istrinya. Dan terus begitu hingga malam keempat puluh. Selama itu, Amongraga mengajarkan sejumlah rahasia kepada istrinya agar persanggamaan mereka mencapai penyatuan sejati. Sebelum tibanya malam itu, keduanya hanya saling menatap dan berbicara. Mereka bertelanjang secara bertahap sesuai dengan tingkatan mistiknya. "Semakin tinggi tingkatan mistiknya, semakin tinggi pulalah ketelanjangannya," kata Inandiak. Tingkatan mistik tercapai berkat ajaran-ajaran Amongraga yang diambil dari mistisisme Islam dan asmaragama (seni bercinta Jawa). Ajaran Islamnya bersumber dari buah pikir sufi Timur Tengah seperti Al-Jili, Abdul Qadir al-Jailani, Al-Ghazali, dan Rumi. Sedangkan ajaran asmaragama bersumber dari tradisi tantrisme dan falsafah Jawa Kuno. Karena asmaragama, banyak yang menganggap Serat Centhini sebagai Kamasutra Jawa. "Memang ada yang menyebut seperti itu, tapi saya kira Centhini bercerita tentang banyak hal. Lebih luas daripada Kamasutra," katanya. Amongraga menyadari sepenuhnya apa yang diajarkannya selama empat puluh malam, pun jua dengan Tambangraras. Jiwa mereka terbakar dalam api asmara. Dan mencapai puncaknya pada malam keempatpuluh. Saat itulah, mereka menyatukan tubuh. Tak ada laki-laki, tak ada perempuan. Manunggal. Demikianlah puncak erotika. Inandiak menyebut itu sebagai paduan sir (nafsu dalam bahasa Jawa) dan sir (rahasia dalam bahasa Arab). "Nafsu yang mengangkat asmaragama ke alam gaib (rahasia)," tulis Inandiak. Sesuatu yang menurut Inandiak menjadi padanan kata paling tepat untuk erotika dan tidak ditemukan dalam alam pikiran orang Barat melalui pembacaannya terhadap karya sastra mereka. "Sepanjang pengetahuan saya, mudah-mudahan saya salah, tak ada kesusastraan Eropa yang menggabungkan seks dan mistik seperti ini," kata Inandiak menutup |
Sunday, January 27, 2013
Sharing David
kalo nempel di aku dan mengaku yah mungkin awalnya mah bener tp akhirnya jd salah hahaha krn pengalaman spiritual yg bener ,ga menimbukan arsip ingetan,sehingga ga menumbuhkan rasa aku dan pengakuan..,ga jadi lebih2,ga jadi pinter,tetep biasa...begitu pikiran dan hati ikut2 lantas ke aku,baru jadi ga ngerasa biasa...pengen luar biasa,lebìh unggul,lebih linuwih,lebìh bijak,lebih suci dr yg lainnya..pengen jd beda dr umumnya..entah dr pakaian,gaya,solah tingkah ,nama gelar dsbnya...lah gimana mau pinter kalo pikiran n ati di lepas?.cuma ngerti..krn semakin murni,kosong sehingga apa2 menjadi lebih mudah di terima ,di mengerti,di fahami,di insyafi n di maklumi...lah itu Eyang Subuh itu cerita pengalamannya,apa krn mengaku,tdk,skdr adanya gitu,di kehendaki Tuhan gitu,buat meyakinkan kita di awal, akan kebenaran Subud ...bukan butuhnya Eyang itu
kalo nempel di aku dan mengaku yah mungkin awalnya mah bener tp akhirnya jd salah hahaha krn pengalaman spiritual yg bener ,ga menimbukan arsip ingetan,sehingga ga menumbuhkan rasa aku dan pengakuan..,ga jadi lebih2,ga jadi pinter,tetep biasa...begitu pikiran dan hati ikut2 lantas ke aku,baru jadi ga ngerasa biasa...pengen luar biasa,lebìh unggul,lebih linuwih,lebìh bijak,lebih suci dr yg lainnya..pengen jd beda dr umumnya..entah dr pakaian,gaya,solah tingkah ,nama gelar dsbnya...lah gimana mau pinter kalo pikiran n ati di lepas?.cuma ngerti..krn semakin murni,kosong sehingga apa2 menjadi lebih mudah di terima ,di mengerti,di fahami,di insyafi n di maklumi...lah itu Eyang Subuh itu cerita pengalamannya,apa krn mengaku,tdk,skdr adanya gitu,di kehendaki Tuhan gitu,buat meyakinkan kita di awal, akan kebenaran Subud ...bukan butuhnya Ey
ang itu
kalo nempel di aku dan mengaku yah mungkin awalnya mah bener tp akhirnya jd salah hahaha krn pengalaman spiritual yg bener ,ga menimbukan arsip ingetan,sehingga ga menumbuhkan rasa aku dan pengakuan..,ga jadi lebih2,ga jadi pinter,tetep biasa...begitu pikiran dan hati ikut2 lantas ke aku,baru jadi ga ngerasa biasa...pengen luar biasa,lebìh unggul,lebih linuwih,lebìh bijak,lebih suci dr yg lainnya..pengen jd beda dr umumnya..entah dr pakaian,gaya,solah tingkah ,nama gelar dsbnya...lah gimana mau pinter kalo pikiran n ati di lepas?.cuma ngerti..krn semakin murni,kosong sehingga apa2 menjadi lebih mudah di terima ,di mengerti,di fahami,di insyafi n di maklumi...lah itu Eyang Subuh itu cerita pengalamannya,apa krn mengaku,tdk,skdr adanya gitu,di kehendaki Tuhan gitu,buat meyakinkan kita di awal, akan kebenaran Subud ...bukan butuhnya Ey
ang itu
Friday, January 11, 2013
serah diri
Berserah diri adalah sebuah pencapaian diri dalam menapaki kesadaran spiritual.....coba simak pernyataan bli Gobind berikut ini.....
Berserah adalah menyerah total. menyerah bukan berarti kalah, juga tidak berarti menang, ia yang menyerah penuh adalah menyerahkan semuanya termasuk semua kemenangan dan kekalahan.
orang ini tidak mempunyai apa-apa, ia telah menjadi tawananNYa. Semua yang diminta pasti ia lakukan, apapun pemberianNya ia terima, juga apapun yang diambil ia lepaskan.
Walaupun bergelar tawanan ia adalah orang yang paling bebas.Ia tidak terikat kenangan masa lalu juga belenggu ketakutan masa depan. Kemarin, hari ini dan esok, semua sama saja.
ia tidak memihak kepada terang dan memusuhi gelap.
Baginya terang dan gelap mempunyai fungsinya masing-masing, walau terlihat berlawanan, mereka saling melengkapi, saling membutuhkan.
Puja-puji tidak melayangkan hatinya juga cacian tidak meremukkan kalbunya. tidak ada kebaikan yang digenggam juga keburukan yang ia tendang.
Semuanya ia serahkan, tubuhnya pikirannya bahkan jiwanya,
ia sadar tubuh ini hanya sementara, juga segala pemikiran dan konsep yang ia yakini, adalah ilusi.
Manusia ini tidak pernah kehilangan apapun, karena ia tidak pernah merasa mempunyai apa-apa.
ia sadar, setiap "saya" adalah ego yang mencemarkan keheningan, setiap "aku" hadir, keikhlasan menghilang.
tidak ada seorangpun sampai disana dengan menginginkan atau mengejarnya, mereka yang berhenti, mereka yang berkata cukup dan mereka yang menyerah, merekalah yang sudah sampai.
Saturday, December 15, 2012
Thursday, November 22, 2012
Orhiba - senam
Manusia Dan Cinta Kasih
Orhiba - Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan kata lain cinta dan kasih memiliki hampir kesamaan arti tetapi kata kasih memperkuat arti dari cinta. Terdapat perbedaan antara cinta dan kasih, cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah kepada yang dicintai. Cinta samasekali bukan nafsu. Perbedaan antara cinta dengan nafsu adalah sebagai berikut:
Cinta bersifat manusiawi Cinta bersifat rokhaniah sedangkan nafsu bersifat jasmaniah. Cinta menunjukkan perilaku memberi, sedangkan nafsu cenderung menuntut.
Ada 3 unsur tentang cinta, yaitu:
1. Keintiman : kedekatan hub
2. Gairah : secara sexual, cantik,ganteng,dll
3. Komitmen : pernyataan bahwa kau pacarku kemungkinan:
a) keintiman+komitmen =Cinta Hampa = ada pernyataan pacaran , ada kedekatan tp nga ada nafsu (ketertarikan lawan jenis)
b) =komitmen+Nafsu=:Cinta Romantis ada pernyataan dan ada ketertarikan terhadap lawan jenis (merasa pasanganya cantik,guanteng,dll)
c) = Nafsu+keintiman=Cinta Semberonoo: ada ketertarikan,ada kedekatan hubungan tapi tidak ada status pacaran.
Cinta bersifat manusiawi Cinta bersifat rokhaniah sedangkan nafsu bersifat jasmaniah. Cinta menunjukkan perilaku memberi, sedangkan nafsu cenderung menuntut.
Ada 3 unsur tentang cinta, yaitu:
1. Keintiman : kedekatan hub
2. Gairah : secara sexual, cantik,ganteng,dll
3. Komitmen : pernyataan bahwa kau pacarku kemungkinan:
a) keintiman+komitmen =Cinta Hampa = ada pernyataan pacaran , ada kedekatan tp nga ada nafsu (ketertarikan lawan jenis)
b) =komitmen+Nafsu=:Cinta Romantis ada pernyataan dan ada ketertarikan terhadap lawan jenis (merasa pasanganya cantik,guanteng,dll)
c) = Nafsu+keintiman=Cinta Semberonoo: ada ketertarikan,ada kedekatan hubungan tapi tidak ada status pacaran.
Tuesday, November 13, 2012
Sharing Subud
Cinta yg lebih halus lagi itu sukar utk bisa di bicarakan serta di cerna oleh akal pamikir dan hati pangrasa manusia kali pak...krn yah itu Rasa Sejati,rasa sejati itu yah rasa cinta,tp cinta kpd semua yg ada...tp bagaimana mungkin kita bisa,jikalau dgn semua yg ada itu kita belum kenal...gimana kenal jikalau belum jumbuh dan manunggal?.Krnnya oleh Eyang subuh,tidak pernah di bahas,krn diluar kemampuan kita utk memikirkannya dan merasakannya..itu wangkit rasa lan pamikir...yg suka jail membahas itu kan kaum sufi...kaum spiritual,yg sptnya hendak menujukkan bahwa cinta kepada Tuhan...padahal cinta kepada Tuhan itu dan dicintai Tuhan itu,mencintai segala sesuatu yg ada...bagaimana mungkin manusia itu mampu,jikalau tidak krn anugeraha dan kurnia semata????.Jadi kalo aku bilang itu masih luapan rasa sesaat yg belum pasti manter serta menentu ,krn jikalau bener sudah sampai...mesti spt Eyang...malah biasa biasa aja, ga keliatan,ga ketara dan mesti tersamar (samar...Asmara) sehingga kita pun anak anaknya belum tentu menduga bahwa beliau adalah pengejawentahan drpd sifat KASIH itu sendiri........Bukan kasih menurut gagasan dan praduga nafsu spiritual manusia,tetapi Kasih dlm arti yah Kasih...
jadi paling kita mah bisa,boleh dan skdr pantas utk membahas mengenai cinta manusiawi,dan itu juga ga selalu berpangkal dr daya hidup jasmani yg digerakkan oleh nafsu jetmika,krn kalo begitu itu,wah sudah luar biasa,cinta yg berpangkal dr hidup jasmani itu...dimana manusia itu sudah merasa satu dgn manusia lainnya...jikalaupun merasa sayang kepada seorang perempuan,itu sayang secara utuh,seutuh sifat kemanusiaannya...jadi ga selalu...jarang,sajuto siji ombyokan itu...krn menurut Eyang pun,Wali di tingkatan Jasmani,itu ga banyak..ga spt yg kita duga....jadi ukuran Subud belum tentu sama dgn ukuran spiritual lainnya... Salam Persaudaraan |
Subscribe to:
Posts (Atom)