Monday, February 25, 2013

Ronggowarsito

1)-. Wejangan ke-1 "Ananing Dhat" (Adanya Dzat) - Sajatine, Sesungguhnya tdk ada apa pun k'tika masih sunyi hampa blom ada sesuatu, yg paling awal adanya adalah 'AKU', sesungguhnya yg 'Maha Suci' meliputi 'sifat-Ku', menyertai 'nama-Ku', dan menandakan 'perbuatan-Ku'.

2)-. Wejangan ke-2 "Wahananing Dhat" (Tempat Dzat) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU' adalah 'Dzat' yang 'Maha Kuasa' yang-kuasa menciptakan s'gala sesuatu, jadi s'ketika, sampoerna berasal dari 'kuasa-Ku', di situ telah nyata tanda 'perbuatan-Ku' yg sbg pembuka 'kehendak-Ku', yg pertama 'AKU', pan menciptakan "Kayu" bernama: "Sajaratul'yakin", yg tumbuh di dlm alam yg sejak zaman-azali & kekal adanya. Dan, k'mudian "Cahya", yg bernama: "Nur Muhammad", berikutnya: "Kaca" bernama: "Mir'atulhaya", selanjutnya: "Nyawa", yg bernama: "Roh Idhofi", lalu "Lantera", yg bernama: "Kandil", lalu "Permata", yg bernama: "Darah", lalu "Dinding Pembatas", yg bernama: "Hijab". Dan, itu sbg tempat 'kekuasaan-Ku'.

3)-. Wejangan ke-3 "Kahananing Dhat" (Keadaan Dzat) - Sajatine, Sesungguhnya manusia itu 'rahsa-Ku' & 'Aku' itu rahsanya manusia, k'rena 'AKU', pan menciptakan 'Adam' berasal dari (4) empat-perkara, Bumi, Api, Angin, & Air. Itu sbg perwujudan akan 'sifat-Ku', di sana 'Aku' tempatkan (5) lima-perkara, Nur, Rahsa, Roh, Nafsu, & Budi. Itulah sbg perwujudan 'wajah-Ku', yang Maha Suci.

4)-. Wejangan ke-4 "Pambukaning tata malige ing dalem betalmakmur" (Pembukaan tahta dlm baitul makmur) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU', pan bertahta dlm 'Baitul Makmur', itu rumah tempat 'pesta-Ku', berdiri di dlm 'kepala-Adam'. Yang pertama dlm kepala itu dimaknai yaitu 'Otak', yg ada di antara otak itu 'Manik', di dlm manik itu 'Budi', di dlm budi itu 'Nafsu', di dlm nafsu itu 'Suksma', di dlm suksma itu 'Rahsa', di dlm rahsa itu "AKU", tdk ada "Tuhan selain hnya AKU", "Dzat" yg meliputi keberadaan yg sesungguhnya.

5)-. Wejangan ke-5 "Pambuka tata malige ing dalem betalmukarram" (Pembuka tahta dlm baitul mukarram) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU', pan bertahta dlm 'Baitul Mukarram', itu rumah-tempat 'larangan-Ku', berdiri di dlm 'dada-Adam'. Yang ada di dlm dada itu Hati, yg ada di antara hati itu Jantung, dlm jantung itu Budi, dlm budi itu Jinem, yaitu angan-2, dlm angan-2 itu Suksma, dlm suksma itu Rahsa, dlm rahsa itu "AKU". Tidak ada "Tuhan kecuali hnya AKU", "Dzat" yg meliputi keberadaan yg sesungguhnya.

6)-. Wejangan ke-6 "Pambuka tata malige ing dalem betalmukadas" (Pembuka tahta dalam baitul muqaddas) - Sajatine, Sesungguhnya 'AKU', pan bertahta di dlm 'Baitul Muqaddas', itu rumah-tempat 'kesucian-Ku', (Ma'af): berdiri di 'penis/ alat kelamin-Adam'. Yang ada di dlm penis itu Buah-Pelir, di antara pelir itu Nutfah yaitu mani, di dlm mani itu Madi, di dlm madi itu Wadi, di dlm wadi itu Manikem, di dlm manikem itu Rahsa, di dlm rahsa itu "AKU". "Tidak ada Tuhan kecuali AKU", "Dzat" yg meliputi keberadaan sesungguhnya, berdiri di dlm 'Nukat Gaib', turun menjadi johar-awal, di situ keberadaan alam-ahadiyat, wahdat, wahidiyat, alam arwah, alam-misal, alam-ajsam, alam-insan kamil, jadinya manusia sampoerna yaitu sejatinya 'sifat-Ku'.

7)-. Wejangan ke-7 "Panetep santosaning iman" (Penetapan iman sentosa) - Ingsun, 'AKU' menyaksikan bhw sesungguhnya tdk ada 'Tuhan' kecuali hnya 'AKU' dan 'AKU' menyaksikan sesungguhnya ('Muhammad'), itu adalah 'utusan-Ku'.

8)-. Wejangan ke-8 "Sasahidan" (Syahadat) - Ingsun, 'AKU', pan menyaksikan pd 'Dzat-Ku' sendiri, sesungguhnya tdk ada 'Tuhan' kecuali 'AKU', dan menyaksikan 'AKU' sesungguhnya ('Muhammad') itu 'utusan-Ku'. Sesungguhnya yg bernama: ('Alloh') itu 'badan-Ku', ('Rasol') itu 'rahsa-Ku', ('Muhammad') itu 'cahaya-Ku'. AKU-lah yg hidup tdk bisa mati, AKU-lah yg ingat tdk bisa lupa, AKU-lah yg kekal tdk bisa berubah dlm keberadaan yg sesungguhnya, AKU-lah waskita, tdk ada tersamar pd sesuatu pun. AKU-lah yg berkuasa berkehendak, yg kuasa bijaksana tdk kurang dlm tindakan, terang sampoerna jelas terlihat, tdk terasa apa-pun, tdk kelihatan apa-pun, k'cuali hnya "AKU" yg meliputi alam s'mua dgn 'kuasa-Ku'. .-("R. Ng. Ronggowarsito - Wirid Hidayat Jati")-.

Tuesday, January 29, 2013

Serat Centini



Dear: Mas BHB Bow Ho Bow - Meleburkan SEX dan MISTIK - Serat Centhini - SERAT Centhini, yang dianggap karya terbesar dan terindah dalam kesusastraan Jawa, ditulis pada abad ke-19. Dia lahir dari rahim keraton Solo. Pangeran Adipati Anom, seorang putra Susuhunan Pakubuwana IV, menginginkan pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa dikumpulkan. Tiga pujangga keraton ditunjuk untuk membantunya.

Kerja keempatnya menghasilkan karya setebal 4.000 halaman lebih yang terbagi atas selusin jilid. Beberapa jilid di antaranya memuat ajaran erotika yang dibalut dengan mistisisme Islam dan Jawa. Inilah yang menarik minat Elizabeth D. Inandiak, seorang Prancis yang menggubah dan menerjemahkan Serat Centhini ke Bahasa Indonesia. "Saya tak pernah membayangkan sama sekali bahwa seks bisa bergabung dengan mistik," katanya dalam kuliah umum "Erotika Nusantara: Serat Centhini" di Teater Salihara, Jakarta, 10 Maret lalu.

Dalam Centhini, seks tak diartikan hanya sebagai pertemuan dua alat kelamin manusia. "Kalau cuma bersetubuh, nanti lama-lama bisa busuk," tandas Inandiak.

Lebih dari itu, seks dapat berarti puncak erotika. Dalam menjelaskan arti erotika, Inandiak tak hanya menjabarkannya dari istilah Barat, tapi juga mencoba menggalinya dari khazanah istilah lokal. "Kenapa kita harus meminjam istilah dari bahasa-bahasa Barat?" tanya Inandiak dalam makalahnya, "Dari Erotika ke Sir Centhini". Erotika berasal dari kata Yunani, eros, yang berarti dewa asmara. Kata ini dipakai untuk menjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan syahwat, hawa, nafsu, atau kebirahian.

Padanan kata ini, menurut Inandiak, dapat ditemukan dalam Centhini. Beberapa kata yang berkelindan dengan erotika misalnya ajigineng, terangsang, nafsu berahi, cinta syahwati, asmaragama (seni bercinta), kasmaran, naluri seksual, pengumbaran nafsu, dan mabuk kepayang. Masyarakat Jawa telah mempunyai konsep dan kata mengenai erotika. Dengan demikian, erotika tidak sepenuhnya datang dari Barat.

Sejak 1990-an, Elizabeth menerjemahkan Centhini ke dalam bahasa Prancis. Buku sadurannya dalam bahasa Indonesia, Centhini: Kekasih Yang Tersembunyi, baru terbit pada 2008. Penerjemahan Serat Centhini itu tak mudah, Inandiak mesti menghadapi dua pendapat ekstrem para ahli sastra Jawa. Satu kelompok berpendapat Serat Centhini terlalu kotor untuk diterjemahkan karena memuat ajaran dan kata-kata kotor, cabul, dan kasar. Di kutub lain, para ahli menilai Serat Centhini sangat adiluhung sehingga tak bisa diterjemahkan. Kalaupun diterjemahkan, nilai estetis Centhini akan berkurang. Kedua pendapat itulah yang menyebabkan Serat Centhini tak diterjemahkan selama hampir satu abad. Tapi Inandiak tetap berkeras menerjemahkannya karena menganggap karya ini sangat penting untuk mengungkap dunia tersembunyi orang Jawa.

Beberapa jilid Serat Centhini memang memuat ajaran-ajaran kotor dan cabul. Penuh adegan persanggamaan dan pelepasan hasrat seksual yang tak terbatas suami dan istri tapi juga di luar pernikahan. Petualangan Cebolang, remaja yang lari dari rumah orangtuanya karena menilai dirinya berdosa besar, menjadi simbolisasinya.

Dalam pelariannya, dia bersanggama dengan orang yang berbeda, tak peduli laki atau perempuan, di banyak tempat. Perbuatannya itu tak lain untuk menebus dosa-dosanya. Cebolang menganggap hanya dengan menceburkan diri ke perbuatan yang hina kesalahannya diampuni. Ketika sampai di Mataram (Yogyakarta), Cebolang, bersama kawan lelakinya, Nurwitri, menyetubuhi dua perempuan secara bergantian di area pesantren. Subuh tiba, mereka berhenti, lalu mandi untuk menunaikan salat subuh di masjid.

"Ini menarik. Kalau terjadi di klub seks bebas, itu bukan erotika. Tapi, ini terjadi di pesantren sehingga erotikanya sangat tinggi. Seperti ada sesuatu yang tersembunyi dalam kisah itu," terang Inandiak.

Tapi, Inandiak mengingatkan bahwa kecabulan dan kekotoran bahasa Serat Centhini terhapus lewat keindahan tembang dengan paduan gamelan dan pesinden. "Pembacaan Serat Centhini sejatinya memang ditembangkan," tandasnya. Dengan demikian, para pembaca tak tenggelam ke lautan kata-kata kotor dan cabul sehingga keindahan erotika Serat Centhini tetap dapat ditangkap.

Kisah asmara paling halus dalam Serat Centhini tak pelak menjadi milik pasangan Amongraga dan Tembangraras. Amongraga, putra mahkota Sunan Giri, duduk berhadapan dengan Tambangraras, istrinya, di kamar pengantin pada malam pertama pernikahannya. Amongraga berada di buritan ranjang pengantin, sedangkan Tambangraras duduk di haluan. Jarak antara keduanya cukup jauh. Riuh-rendah tetamu yang masih berpesta dan mabuk di luar kamar masih terdengar, sedangkan suasana di dalam kamar sangat tenang dan damai.

Amongraga tak lantas bersanggama dengan istrinya. Dan terus begitu hingga malam keempat puluh. Selama itu, Amongraga mengajarkan sejumlah rahasia kepada istrinya agar persanggamaan mereka mencapai penyatuan sejati. Sebelum tibanya malam itu, keduanya hanya saling menatap dan berbicara.

Mereka bertelanjang secara bertahap sesuai dengan tingkatan mistiknya. "Semakin tinggi tingkatan mistiknya, semakin tinggi pulalah ketelanjangannya," kata Inandiak.

Tingkatan mistik tercapai berkat ajaran-ajaran Amongraga yang diambil dari mistisisme Islam dan asmaragama (seni bercinta Jawa). Ajaran Islamnya bersumber dari buah pikir sufi Timur Tengah seperti Al-Jili, Abdul Qadir al-Jailani, Al-Ghazali, dan Rumi. Sedangkan ajaran asmaragama bersumber dari tradisi tantrisme dan falsafah Jawa Kuno. Karena asmaragama, banyak yang menganggap Serat Centhini sebagai Kamasutra Jawa. "Memang ada yang menyebut seperti itu, tapi saya kira Centhini bercerita tentang banyak hal. Lebih luas daripada Kamasutra," katanya.

Amongraga menyadari sepenuhnya apa yang diajarkannya selama empat puluh malam, pun jua dengan Tambangraras. Jiwa mereka terbakar dalam api asmara. Dan mencapai puncaknya pada malam keempatpuluh. Saat itulah, mereka menyatukan tubuh. Tak ada laki-laki, tak ada perempuan. Manunggal. Demikianlah puncak erotika. Inandiak menyebut itu sebagai paduan sir (nafsu dalam bahasa Jawa) dan sir (rahasia dalam bahasa Arab). "Nafsu yang mengangkat asmaragama ke alam gaib (rahasia)," tulis Inandiak. Sesuatu yang menurut Inandiak menjadi padanan kata paling tepat untuk erotika dan tidak ditemukan dalam alam pikiran orang Barat melalui pembacaannya terhadap karya sastra mereka.

"Sepanjang pengetahuan saya, mudah-mudahan saya salah, tak ada kesusastraan Eropa yang menggabungkan seks dan mistik seperti ini," kata Inandiak menutup 

Sunday, January 27, 2013

Sharing David

kalo nempel di aku dan mengaku yah mungkin awalnya mah bener tp akhirnya jd salah hahaha krn pengalaman spiritual yg bener ,ga menimbukan arsip ingetan,sehingga ga menumbuhkan rasa aku dan pengakuan..,ga jadi lebih2,ga jadi pinter,tetep biasa...begitu pikiran dan hati ikut2 lantas ke aku,baru jadi ga ngerasa biasa...pengen luar biasa,lebìh unggul,lebih linuwih,lebìh bijak,lebih suci dr yg lainnya..pengen jd beda dr umumnya..entah dr pakaian,gaya,solah tingkah ,nama gelar dsbnya...lah gimana mau pinter kalo pikiran n ati di lepas?.cuma ngerti..krn semakin murni,kosong sehingga apa2 menjadi lebih mudah di terima ,di mengerti,di fahami,di insyafi n di maklumi...lah itu Eyang Subuh itu cerita pengalamannya,apa krn mengaku,tdk,skdr adanya gitu,di kehendaki Tuhan gitu,buat meyakinkan kita di awal, akan kebenaran Subud ...bukan butuhnya Eyang itu 
kalo nempel di aku dan mengaku yah mungkin awalnya mah bener tp akhirnya jd salah hahaha krn pengalaman spiritual yg bener ,ga menimbukan arsip ingetan,sehingga ga menumbuhkan rasa aku dan pengakuan..,ga jadi lebih2,ga jadi pinter,tetep biasa...begitu pikiran dan hati ikut2 lantas ke aku,baru jadi ga ngerasa biasa...pengen luar biasa,lebìh unggul,lebih linuwih,lebìh bijak,lebih suci dr yg lainnya..pengen jd beda dr umumnya..entah dr pakaian,gaya,solah tingkah ,nama gelar dsbnya...lah gimana mau pinter kalo pikiran n ati di lepas?.cuma ngerti..krn semakin murni,kosong sehingga apa2 menjadi lebih mudah di terima ,di mengerti,di fahami,di insyafi n di maklumi...lah itu Eyang Subuh itu cerita pengalamannya,apa krn mengaku,tdk,skdr adanya gitu,di kehendaki Tuhan gitu,buat meyakinkan kita di awal, akan kebenaran Subud ...bukan butuhnya Ey
ang itu 

Friday, January 11, 2013

serah diri


Berserah diri adalah sebuah pencapaian diri dalam menapaki kesadaran spiritual.....coba simak pernyataan bli Gobind berikut ini.....

Berserah adalah menyerah total. menyerah bukan berarti kalah, juga tidak berarti menang, ia yang menyerah penuh adalah menyerahkan semuanya termasuk semua kemenangan dan kekalahan.

orang ini tidak mempunyai apa-apa, ia telah menjadi tawananNYa. Semua yang diminta pasti ia lakukan, apapun pemberianNya ia terima, juga apapun yang diambil ia lepaskan.

Walaupun bergelar tawanan ia adalah orang yang paling bebas.Ia tidak terikat kenangan masa lalu juga belenggu ketakutan masa depan. Kemarin, hari ini dan esok, semua sama saja.

ia tidak memihak kepada terang dan memusuhi gelap.
Baginya terang dan gelap mempunyai fungsinya masing-masing, walau terlihat berlawanan, mereka saling melengkapi, saling membutuhkan.

Puja-puji tidak melayangkan hatinya juga cacian tidak meremukkan kalbunya. tidak ada kebaikan yang digenggam juga keburukan yang ia tendang.

Semuanya ia serahkan, tubuhnya pikirannya bahkan jiwanya,
ia sadar tubuh ini hanya sementara, juga segala pemikiran dan konsep yang ia yakini, adalah ilusi.
Manusia ini tidak pernah kehilangan apapun, karena ia tidak pernah merasa mempunyai apa-apa.

ia sadar, setiap "saya" adalah ego yang mencemarkan keheningan, setiap "aku" hadir, keikhlasan menghilang.

tidak ada seorangpun sampai disana dengan menginginkan atau mengejarnya, mereka yang berhenti, mereka yang berkata cukup dan mereka yang menyerah, merekalah yang sudah sampai.

Saturday, December 15, 2012

Syeh Siti Jenar



RajaningBudaya Seni Mataram · 262 pelanggan
Rabu pukul 8:29 di sekitar Kota Yogyakarta · 
  • MEMBEDAH ALAM FIKIRAN SITI JENAR

    TANYA JAWAB DENGAN SYEH SITI JENAR



    Ajaran Syekh Siti Jenar dikenal sebagai ajaran ilmu kebatinan. Suatu ajaran yang menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah yang kasat mata. Intinya ialah konsep tujuan hidup. Titik akhir dari ajaran Siti Jenar ialah tercapainya manunggaling kawula-Gusti. Yaitu bersatunya antara roh manusia dengan Dzat Allah. Paham inilah yang hampir sama dengan ajaran para zuhud, wali dan orang-orang khowash. Zuhud banyak dijumpai dalam dunia tasawuf. Mereka merupakan orang-orang atau kelompok yang menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan duniawi. Sebab mereka mempunyai tujuan hidup yang lebih utama, yakni ingin mencapai kesucian jiwa atau roh.

    Inti ajaran Syeh Siti Jenar adalah pencapaian spiritualitas yang tinggi dalam penyatuan antara makhluk dengan Dzat Pencipta, yang lebih populer disebut sebagai manunggaling kawula-Gusti. Bagian-bagian dari ajaran itu adalah meliputi penguasaan hidup, pengetahuan tentang pintu kehidupan, tentang kematian, tempat kelak sesudah ajal, hidup kekal tak berakhir, dan tentang kedudukan Yang Mahaluhur. Paham yang hampir senada dengan falsafah Jawa kuno.

    Suatu ketika Syeh Siti Jenar mengajarkan ilmu kepada para murid-muridnya. Syeh Siti Jenar berkata,”Manusia harus berpegang pada akal, meyakini pula dua puluh sifat yang dimiliki Allah”. Antara lain yakni; wujud, tak berawal, tak berakhir, berlainan dengan barang baru, berkuasa, berkehendak, berpengetahuan, memiliki ilmu secara hakikat dan sebagainya. Para santri mengajukan pertanyaan- pertanyaan sebagai berikut;



    Tentang Ketuhanan



    M (murid) ; Apakah wujud dari Tuhan itu dapat dimiliki oleh manusia ?”

    S (Syeh Jenar) ; Memang, sifat wujud itu bisa dimiliki manusia dan itulah inti dari ajaran ini. Selama manusia mampu menjernihkan kalbunya, maka ia akan mempunyai sifat-sifat itu. Sifat tersebut pun sudah kumiliki. Kalian bisa melakukannya dengan mengamalkan apa yang hendak kuajarkan. Allah adalah satu-satunya yang wajib disembah. Dia tidak tampak dan tidak berbentuk. Tidak terlihat oleh mata. Sedangkan alam dan segala isinya merupakan cerminan dari wujud Allah yang tampak. Seseorang bisa meyakini adanya Allah karena ia melihat pancaran wujudNya melalui jagad raya ini. Allah tidak berawal dan berakhir, memiliki sifat langgeng, tak mengalami perubahan sedikitpun. Allah berada di mana-mana, bukan ini dan bukan itu. Dia berbeda dengan segala wujud barang baru yang ada di dunia.



    M ; Wahai Kanjeng Syeh, jelaskan kepada kami tentang hakikat kodrat !”

    S ; Kodrat adalah kekuasaan pribadi Tuhan. Tak ada yang menyamainya. KekuatanNya tanpa sarana. kehadiranNya berasal dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda. Tak dapat ditafsirkan. Jika engkau menghendaki sesuatu maka pasti kalian rencanakan matang-matang dan pasti pikirkan berulang-ulang. Itupun masih sering meleset. Namun Allah tidak demikian, bila menghendaki sesuatu tak perlu dipersoalkan terlebih dahulu.



    M ; Kalau begitu Allah tidak memerlukan sesuatu ?

    S ; Benar Allah tidak memerlukan sesuatu. Karena itu jika kalian hidup tanpa memerlukan sesuatu, tanpa butuh harta benda, tanpa butuh jabatan, tanpa butuh pujian, maka kalian akan merasakan hidup yang sesungguhnya. Kalian akan memiliki sifat Allah tersebut.



    M ; Kalau manusia menghindari sesuatu dan merasa tidak memerlukan apapun, apakah akhirnya dapat disamakan dengan Allah ?

    S ; Tidak ! walaupun manusia hidup tanpa bergantung sama sekali kepada duniawi, namun ia tetap berbeda dengan Allah. Tidak bisa disamakan dengan Tuhan. Allah adalah pencipta dan kalian adalah yang diciptakan. Allah berdiri sendiri, tanpa memerlukan bantuan. Hidupnya tanpa roh, tidak merasa sakit dan kesedihan, Allah muncul sekehendaknya.



    M ; Jika Allah berkehendak, maka apakah kehendak seseorang itu karena kemauan Allah ?

    S ; Untuk sampai pada jawaban itu, kita harus membedakan seseorang mana. Manusia itu dibedakan menjadi beberapa tingkatan. Ada yang awam, ada yang khowash. Orang awam hanya beribadah secara syariat, tanpa dapat memelihara kalbu, maka ia masih jauh bisa berhubungan dengan Allah. Sedangkan orang-orang khowash, termasuk para nabi, rasul, dan waliyullah, mereka beribadah secara utuh. Bahkan sampai pula pada tingkatan hakikat. Kalau kalbunya sudah bersih dari duniawi dan menyatu dengan cahaya Ilahi, maka kehendak dan kemauannya itu berasal dari Allah. Perbuatannya adalah perbuatan Allah. Maka jangan heran jika ada orang yang diberi karomah sehingga segala ucapannya menjadi bertuah.



    M ; Kalau begitu, ibadahnya orang yang sudah khowash itu merupakan kehendak Allah ?

    S ; Benar ! mereka mempunyai kejernihan akal budi. Memiliki kebersihan jiwa dan ilmu. Shalat lima waktu dan berzikir merupakan kehendak yang sangat dalam. Bukan kehendak nafsunya, namun kehendak Allah. Semangatnya sedemikian besar. Mereka shalat tidak mengharapkan pahala, tetapi merupakan suatu kewajiban (diri) dan pengabdian. Badan haluslah yang mendorong untuk menjalankan.



    M ; Banyak orang melakukan shalat tetapi tidak menyentuh kepada Yang Disembah. Ini bagaimana ?

    S ; Memang banyak orang yang secara lahiriah tampak khusuk shalatnya. Bibirnya sibuk mengucapkan zikir dan doa-doa, namun hatinya ramai oleh urusan duniawi mereka. Islam yang demikian ini ibarat kelapa, mereka hanya makan serabutnya. Padahal yang paling nikmat adalah buah/daging kelapa dan air kelapanya. Mereka sembahyang lima waktu sebatas lahiriah saja. Tidak berpengaruh sama sekali kepada akal budinya. Padahal sembahyang itu diharapkan dapat mencegah keji dan munkar namun mereka tak mampu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun hakikat shalatnya itu membekas pada budinya itupun hanya sedikit. Buat apa sembahyang lima kali jika perangainya buruk ? masih suka mencuri dan berbohong. Untuk apa bibir lelah berzikir menyebut asma Allah, jika masih berwatak suka mengingkari asma. Kadang-kadang pula mereka berharap pahala. Shalatnya saja belum tentu dihargai oleh Allah, tetapi buru-buru meminta balasan,…..aneh!



    M ; Wahai Syeh, ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa amal hamba yang pertama kali diperhitungkan adalah sembahyang. Jika sembahyangnya baik, maka semua dianggap baik. Ini bagaimana ?

    S ; Itu perlu ditafsirkan. Tidak boleh dipahami secara dangkal makna dari hadits tersebut. Hadits itu mengandung logika sebagai berikut; Orang yang tekun mengerjakan sembahyang dengan sempurna, maka perilaku, budi pekerti dan kalbunya juga harus terpengaruh menjadi baik. Sebab sembahyang yang dilakukan dengan jiwa yang bersih akan berpengaruh pula bagi cabang kehidupan lainnya. Lebih lanjut Syeh Siti Jenar mengatakan; sebaliknya hadits itu tidak berlaku bagi orang yang tekun mengerjakan sembahyang tetapi hatinya masih kotor, tersimpan keinginan-keinginan nafsu misalnya ingin dipuji orang lain, terdapat ujub dan sombong, serta budinya menyimpang dan menabrak tatanan yang dilarang.



    M ; Apakah ada tuntunan mengenai pakaian seseorang yang sedang melakukan sembahyang ?

    S ; Sesungguhnya aku (Syeh Siti Jenar) tidak sependapat jika ada orang yang mengenakan pakaian gamis dan meniru-niru pakaian orang Arab dalam melakukan shalat. Jika selesai shalat, jubah atau gamis itu dilepaskan. Sedangkan shalat orang tersebut tidaklah menyentuh hatinya. Meskipun berlama-lama merunduk di masjid, namun masih mencintai duniawi. Sembahyang yang pakaiannya kedombrangan, merunduk di masjid berlama-lama sampai lupa anak istri. Sedangkan ia masih menyintai duniawi dan mengumbar nafsu manusiawinya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia seringkali menyusahkan orang lain. Maka orang yang demikian itu tidak terpengaruh oleh sembahyang yang dilakukan. Biasanya tipe orang seperti itu sibuk menghitung pahala. Dia sangat keliru dan bodoh. Pahala yang masih jauh tetapi diperhitungkan. Sungguh, sedikit pun tak akan dapat dicapainya.



    M ; Dzat Yang Luhur dan Sejati itu sesungguhnya siapa, wahai Syekh ?

    S ; Gusti Allah. Gusti Allah adalah Dzat yang tinggi dan terhormat. Ia memiliki dua puluh sifat, semua timbul atas kehendakNya. Ia mampu mencurahkan ilmu kebesaran, kasampurnan, kebaikan, keramahan, kekebalan dalam segala bentuk, memerintah umat. Dapat muncul di segala tempat dan sakti sekali. Aku (Syekh Siti Jenar) merasa wajib dan menuruti kehendakNya. Sebagaimana ajaran jabariyah, dengan kesungguhan dan konsekuen, selalu kuat cita-citanya, kokoh tak tergoyahkan terhadap sesuatu yang tidak suci, berpegang teguh kepadaNya selama hidup, tak akan menyembah terhadap ciptaanNya, baik dalam wujud maupun dalam pengertian.



    M ; Mengapa Kanjeng Syekh dianggap oleh para wali sebagai wali murtad ?

    S ; Karena ajaranku tidak mudah dipahami orang awam.



    M ; Bagaimana ajaran Kanjeng Syeh yang dianggap sesat ?

    S ; Aku adalah penjelmaan dari Dzat Luhur, yang memiliki semangat, sakti, dan kekal akan kematian. Dengan hilangnya dunia Gusti Allah telah memberi kekuasaan kepadaku dapat manunggal denganNya, dapat langgeng mengembara melebihi kecepatan peluru. Bukannya akal, bukannya nyawa, bukan penghidupan yang tanpa penjelasan dari mana asalnya dan kemana tujuannya.



    M ; Apa hubungannya antara kanjeng Syeh Siti Jenar dengan Allah, yang kau sebut sebagai Dzat sejati ?

    S ; Dzat yang sejati menguasai wujud penampilanku. Karena kehendakNya maka wajarlah jika aku tidak mendapat kesulitan. Aku bisa berkelana ke mana-mana. Tidak merasa haus dan lelah, tanpa sakit dan lapar, karena ilmu kelepasan diri, tanpa suatu daya kekuatan. Semua itu disebabkan jiwaku tiada bandingannya. Secara lahiriah memang tidak berbuat sesuatu, tetapi tiba-tiba sudah berada di tempat lain. Gusti Kang Murbeng Dumadi (Allah) yang kuikuti, kutaati siang malam, yang kuturut segala perintahNya. Tiada menyembah Tuhan lain, kecuali setia terhadap suara hati nuraniku. Allah Mahasuci.



    M ; Wahai Syeh jelaskan apa yang di maksud bahwa Allah itu Maha Suci ?

    S ; Allah Mahasuci itu hanyalah sebatas istilah saja. Merupakan nama saja. Sebenarnya hal itu dapat disamakan dengan bentuk penampilanku. Jika kalian melihatku, maka tampak dari luar sebagai warangka (kerangka), sedangkan di dalamnya adalah kerisnya (intinya) Hyang Agung, yang tak ada bedanya dengan kerangka. Tuhan itu wujud yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang yang bersinar cemerlang. Sifat-sifatNya berwujud samar-samar bila dilihat, warnanya indah sekali seperti cahaya.



    M ; Di manakah Tuhan berada ? kami membayangkan Dia ada di langit ke 7 dan bersemayam di atas singgasana layaknya raja.

    S ; Siti Jenar mendadak tertawa. Setelah tertawanya reda, ia berkata, “Itu salah besar, itu kebodohan. Sesungguhnya Tuhan tidak berada di langit ketujuh dan tidak bertahta di singgasana atau arsy (Kursi). Bila kalian membayangkan demikian, maka hati kalian sudah musyrik. Berdosa besar. Karena kalian menyamakan Dia dengan raja atau dengan penguasa.



    M ; Kami jadi bingung, Kanjeng Syekh, lantas Tuhan itu ada di mana ?

    S ; Kalau kalian bertanya demikian, maka jawabnya mudah. Gusti Allah itu tidak kemana-mana, tetapi ada di mana-mana.



    M ; Kami semakin tak mengerti. Bisakah Kanjeng Syeh memberi penjelasan yang lebih gamblang ?

    S ; Gusti Allah itu berada pada dzat yang tempatnya tidak jauh. Dia bersemayam di dalam tubuh kita. Tetapi hanya orang yang khowash, orang yang terpilih dapat melihat. Tentunya dengan mata batin. Hanya mereka yang dapat merasakannya.



    M ; Apakah Allah itu berupa roh atau sukma ?

    S ; Bukan roh dan bukan sukma. Allah adalah wujud yang tak dapat dilihat oleh mata, tetapi dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang. Sudah kukatakan tadi, warnanya indah sekali. Ia memiliki dua puluh sifat seperti; sifat ada, tak berawal, tak berakhir, berbeda dengan barang-barang yang baru, hidup sendiri dan tidak memerlukan bantuan dari sesuatu, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, berilmu, hidup dan berbicara. Sifat Gusti Allah yang duapuluh itu terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut dengan Dzat. Sifat duapuluh itu juga menjelma pada diriku. Karena itu aku yakin tidak akan mengalami sakit dan sehat, punya budi kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramahan. Roh ku memiliki sifat duapuluh itu, sedangkan ragaku yang lahiriah memiliki sifat nur Muhammad.



    M ; Wahai Syekh, bukankah Muhammad SAW itu seorang nabi. Apakah Syekh mengaku sebagai Nabi ? Sedangkan dikatakan bahwa setelah nabi Muhammad, di dunia ini tidak ada kenabian lagi ?

    S ; Jangan salah menafsirkan kata-kataku. Jika salah, maka kau akan sesat dan timbul fitnah. Tentu saja memfitnah diriku. Begini, bahwa rohku adalah roh Ilahi. Karena aku pun memiliki sifat duapuluh. Sedangkan badan wadag ku, jasadku ini, adalah jasad Muhammad. Dari segi lahiriah Muhammad adalah manusia. Namun manusia Muhammad berbeda dengan orang kebanyakan. Muhammad memiliki jasad yang kudus, yang suci. Aku dan dia sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat panca indera. Dan panca indra itu hanyalah meminjam. Jika sudah diminta kembali oleh Pemiliknya akan berubah menjadi tanah yang busuk, berbau, hancur dan najis. Nabi atau wali, jika sesudah kematian jasadnya menjadi tak bermanfaat. Bahkan berbau, kotor, najis, busuk dan hancur. Warangka jika sudah ditinggalkan kerisnya maka tiada guna.



    M ; Jika seseorang sudah mati, berarti selesai sudah kehidupannya ?

    S ; Siapa bilang begitu ? Tidak ! meskipun jasadnya mati, tetapi sebenarnya ia tidaklah mati. Karena itu, kalian semua harus mengerti bahwa dunia ini sesungguhnya bukanlah kehidupan. Buktinya ada mati. Di dunia ini, kehidupan disebut kematian. Coba rasakan ! Aku mengajarkan kepada kalian untuk tidak menyintai dunia ini dan tidak terpesona terhadap keindahannya. Carilah kebenaran dan kebahagiaan sejati demi kehidupan mendatang, kehidupan setelah kematian. Kalian akan berarti jika telah menemui kematian dan hidup sesudah itu. Engkau harus memilih hidup yang tak bisa mati. Dan hidup yang tak bisa mati itu hanya kalian rasakan setelah nyawa terlepas dari badan. Kehidupan itu akan dapat dirasakan dengan tanpa gangguan seperti sekarang ini. Ketahuilah, hidup yang sesungguhnya adalah setelah nyawa lenyap dari badan.



    M ; Agar dapat meraih kehidupan dalam kemuliaan sejati kelak, dalam kehidupan di dunia ini dibutuhkan kebenaran dan kebahagian sejati. Bagaimanakah cara mendapatkannya Kanjeng Syekh ?

    S ; Jiwa manusia adalah suara hati nurani. suara hati nurani merupakan ungkapan Dzat Allah yang harus ditaati perintahnya. Maka ikutilah hati nuranimu.



    M ; Bagaimana caranya meyakinkan bahwa suatu bisikan adalah suara hati nurani yang sesungguhnya ?

    S ; Kalian harus cermat, karena hati nurani berbeda dengan akal budi, jiwa itu milik Allah, sedangkan akal milik manusia. Akal bersifat manusiawi, karena itu kadang-kadang akal tak mampu menemukan keajaiban Allah. Kehendak, angan-angan, ingatan, merupakan suatu akal yang tak kebal atas kegilaan. Suatu ketika akal bisa menjadi bingung sehingga membuat seseorang lupa diri. Akal seringkali tidak jujur. Siang malam membuat kepalsuan demi memakmurkan kepentingan pribadi.



    M ; Bukankah manusia menjadi lebih mulia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia diberi akal oleh Allah ?

    S ; Ya, itulah yang membedakan. Tapi jangan lupa bahwa akal seringkali tidak jujur. Sering bersifat dengki, suka memaksa, melanggar aturan, jahat, suka disanjung-sanjung, sombong, yang ahirnya membuat manusia justru tidak berharga samasekali. Lebih hina dari makhluk lainnya.



    M ; Jadi kita harus menggunakan akal sesuai dengan jiwa atau kehendak Allah ?

    S ; Ya, benar. Jika seseorang mampu mengendalikan akalnya dengan ajaran Allah, dengan kebenaran, dan dengan jiwa yang bersih, maka ia bermanfaat. Menjadikan diri lebih mulia.



    M ; Apa yang menghalangi seseorang sehingga gagal dalam dalam menempuh manunggaling kawula-Gusti ?

    S ; Jangan mementingkan kehidupan duniawi. Sebab kehidupan duniawi yang kalian jalani penuh kotoran. Akal kalian mudah tercemar dengan kotoran sifat dan mudah dikuasai oleh nafsu, sehingga menghalangi kalian untuk bisa menuju pada tahap manunggaling kawula-Gusti.

    M ; Di dunia ini ada yang cantik, tampan dan gagah. Bagaimana kedudukan orang-orang tersebut jika kelak telah terlepas rohnya ?

    S ; Kalian jangan menyintai dan mengagumi bentuk yang cantik, tampan atau gagah. Sebab sebenarnya badan wadag (jasad) laksana sangkar yang mengurung jiwa. Badan wadag merupakan beban yang memberatkan dan menyakitkan roh kalian.



    M ; Wahai Syekh, benarkah sesudah kematian ada surga neraka ?

    S ; Para wali memang mengajarkan demikian. Inilah ajaran yang justru menurutku menyesatkan karena terlalu dangkal. Para wali hanya mengajarkan “serabut” atau kulitnya, tidak sampai pada isinya; tidak sampai pada hakikat yang sebenarnya. Para wali mengajarkan bahwa surga dan neraka hanya dijumpai kelak setelah kiamat. Adanya di akherat. Dan orang-orang awam menelan mentah-mentah keterangan itu. Siksa kubur hanya dijumpai dan dirasakan badan wadag ketika di tanam di kuburan. Para wali memang bertujuan baik, tetapi diputus sampai di situ. Mereka enggan menjelaskan lebih dalam dan lebih sampai pada makna yang hakiki.



    M ; Kalau menurut Syekh bagaimana ?

    S ; Begini, untuk menemui dan merasakan surga dan neraka maka seseorang tidak harus menunggu sampai mati atau sampai datangnya kiamat. Di dunia ini saja kita sudah dapat merasakan surga dan siksa neraka. Karena sesungguhnya surga dan neraka itu berada di dalam jiwa kalian. Berada di dalam jiwa setiap manusia yang bernafas. Jika jiwa manusia telah bersih dari gangguan hawa nafsu dan dapat menyatu dengan Gusti Allah, maka di dunia ini ia akan merasakan suatu kenikmatan surga. Jika budi kalian, misalnya menolong orang lemah, lalu hati menjadi ikhlas dan puas, maka itulah yang disebut surga. Sedangkan neraka, perwujudannya adalah jika hawa nafsu telah menguasai diri seseorang. Kemudian jiwanya meronta dan merasa bersalah. Maka dia tentu tersiksa. Ia tidak bisa tidur, gelisah pikirannya, sedih dan bermacam-macam rasa tak enak. Itulah yang dinamakan neraka.



    M ; Jadi surga dan neraka di akherat tidak berlaku ? maksud kami tidak ada ?

    S ; Surga dan neraka di hari kiamat, di akherat kelak, sudah diterangkan dalam Al Quran. Itu perkara gaib dan erat kaitannya dengan iman. Kalian harus meyakininya.



    M ; Untuk apa meyakini ? bukankah jika di dunia berbudi baik dan beriman kepada Allah sudah merasakan surga. Sedangkan surga dan neraka di akhirat hanyalah bersifat menakut-nakuti manusia agar tidak berbuat buruk ?

    S ; Pendapatmu memang cerdas dan kritis. Namun kalian tidak usah mempertanyakan, apakah kelak di akhirat ada surga dan neraka. Itu urusan Gusti Allah. Kalian harus meyakini. Karena meyakini hari akhir merupakan rukun iman. Sekali lagi, untuk mendapatkan surga pun kalian tak perlu menunggu datangnya hari akhir. Meskipun seseorang sembahyang seribu kali setiap hari, toh akhirnya mati juga. Walaupun badanmu kau tutupi dengan kain surban dan jubah, namun akhirnya menjadi debu juga. Maka jiwalah yang paling penting. Jika keadaan jiwa seperti Tuhan, maka surga akan didapatkannya. Kenikmatan luar biasa akan dirasakan.



    M ; Wahai Syeh, sesungguhnya yang menjadi pikiranku adalah sebelum ada dunia ini, apakah sudah ada dunia lainnya. Atau setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru lagi seperti sekarang ?

    S ; Sebelum dunia ada, apakah ada dunia lain, itu hanya Allah yang tahu. Tetapi sekarang kita berada di dunia ini menempati ruang dan waktu. Dunia ini asalnya adalah baru. Kemudian mengalami kerusakan dan kelak akhirnya menjadi hancur. Lenyap tak berharga. Setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru untuk keduakalinya ? Tidak !



    M ; Wahai Syekh, kalau begitu dunia erat kaitannya dengan raga kita, sedangkan jiwa erat kaitannya dengan alam akhirat ?

    S ; Benar, dunia itu erat kaitannya dengan raga. Raga mempunyai sifat seperti alam semesta, yang semula baru kemudian rusak. Sedangkan jiwa tidak akan mengenal kerusakan karena jiwa merupakan penjelmaan Dzat Allah. Ketahuilah bahwa raga adalah barang pinjaman yang suatu saat akan diminta oleh Pemiliknya. Ketahuilah wahai murid-muridku. Raga ini sesungguhnya sangkar yang membelenggu dan menyulitkan jiwa. Agar jiwa menjadi bebas, maka suatu saat kelak, kalian akan kuajarai bagaimana cara melepas jiwa dari raga. Ilmu melepas jiwa artinya bahwa kematian adalah titik awal kehidupan yang sebenarnya. Jika seseorang raganya mati, maka jiwanya menjadi merdeka, bebas dan tidak terkungkung lagi. Sebab raga berhubungan erat dengan alam semesta. Sedangkan jiwa berhubungan erat dengan Dzat Tuhan. selamanya jiwa tak akan bisa mati atau rusak.



    M ; Apakah yang dimaksud jalan kehidupan, wahai Syekh ?

    S ; Jalan kehidupan adalah jalan menuju kepada hidup yang sebenar-benarnya, setelah engkau mengalami kematian. Jika seorang bayi lahir, maka bukanlah awal kehidupan, namun merupakan awal “kehidupan palsu” seperti yang kalian rasakan saat ini. Inilah yang sesungguhnya kematian sejati.



    M ; Jika demikian badan ini tidak bisa merasakan kehidupan yang sebenar-benarnya ?

    S ; Ya, tidak bisa. Kehidupan sejati tidak dapat dirasakan oleh raga, karena jika raga mati akan tetapi dapat dirasakan oleh jiwa. Membusuk menjadi tanah.



    M ; Bagaimana jika sekarang ini seseorang berbuat dosa. Apakah jiwanya ikut bertanggungjawab. Sedangkan yang melakukan dosanya adalah raga.

    S ; Tetap ikut bertanggungjawab, karena jiwa yang menyatu ke dalam raga tidak bisa mencegah hawa nafsunya serta akal yang suka berbuat buruk.



    M ; Maaf saya belum paham Syekh.

    S ; Ketahuilah, setiap orang yang lahir di dunia ini maka jiwanya menyatu dengan akal. Selain akal dalam diri manusia juga ada hawa nafsu. Ketika seseorang berbuat buruk, berarti raganya didorong dan dipengaruhi oleh hawa nafsu dan akalnya. Akal dan nafsu memang suka berbuat buruk. Apabila jiwa mencegah (melalui hati nurani), maka raga tidak akan berbuat buruk. Akan tetapi jika jiwa membiarkannya, maka raga tetap melakukannya. Karena itu bagaimanapun juga jiwalah yang akan mempertanggungjawabkan perbuatan baik dan buruk raganya.



    M ; Tadi Syekh mengatakan jiwa adalah penjelmaan dzat Tuhan. Mengapa kadang-kadang jiwa mau mencegah dan kadang membiarkannya ?

    S ; Perlu kalian semua ingat, bahwa di dalam raga ini terdapat nafsu-nafsu. Jika nafsu kuat menguasai, maka jiwa menjadi terbelenggu. Karena itulah mengapa aku katakan bahwa kehidupan sekarang ini adalah kematian. Sedangkan setelah ajal merupakan awal kehidupan. Sesudah kematian maka seseorang akan mencapai kebebasan jiwanya.



    Ajaran Syekh Siti Jenar memang agak beda dengan ajaran para wali sanga. Siti Jenar mengajarkan bahwa Tuhan adalah Zat yang mendasari adanya manusia, hewan, tumbuhan dan segala yang ada. Keberadaan segala di dunia ini tergantung pada adanya Zat. Tanpa ada Zat Yang Mahakuasa, maka mustahil sesuatu yang wujud itu ada.

    Ajaran ini tidak pernah disampaikan oleh para Wali Sanga. Mereka menyadari bahwa umatnya masih terlalu awam terhadap Islam, sehingga memberi materi yang ringan dan praktis saja.
    23

Thursday, November 22, 2012

Orhiba - senam


Manusia Dan Cinta Kasih

Orhiba - Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan kata lain cinta dan kasih memiliki hampir kesamaan arti tetapi kata kasih memperkuat arti dari cinta. Terdapat perbedaan antara cinta dan kasih, cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah kepada yang dicintai. Cinta samasekali bukan nafsu. Perbedaan antara cinta dengan nafsu adalah sebagai berikut:
Cinta bersifat manusiawi Cinta bersifat rokhaniah sedangkan nafsu bersifat jasmaniah. Cinta menunjukkan perilaku memberi, sedangkan nafsu cenderung menuntut.
 Ada 3 unsur tentang cinta, yaitu:
1. Keintiman : kedekatan hub
2. Gairah : secara sexual, cantik,ganteng,dll
3. Komitmen : pernyataan bahwa kau pacarku kemungkinan:
          a) keintiman+komitmen =Cinta Hampa = ada pernyataan pacaran , ada kedekatan tp nga ada nafsu                                        (ketertarikan lawan jenis)
          b) =komitmen+Nafsu=:Cinta Romantis ada pernyataan dan ada ketertarikan terhadap lawan jenis (merasa pasanganya cantik,guanteng,dll)
          c) = Nafsu+keintiman=Cinta Semberonoo: ada ketertarikan,ada kedekatan hubungan tapi tidak ada status pacaran.

Tuesday, November 13, 2012

Sharing Subud



David Michael12 November 0:15
Cinta yg lebih halus lagi itu sukar utk bisa di bicarakan serta di cerna oleh akal pamikir dan hati pangrasa manusia kali pak...krn yah itu Rasa Sejati,rasa sejati itu yah rasa cinta,tp cinta kpd semua yg ada...tp bagaimana mungkin kita bisa,jikalau dgn semua yg ada itu kita belum kenal...gimana kenal jikalau belum jumbuh dan manunggal?.Krnnya oleh Eyang subuh,tidak pernah di bahas,krn diluar kemampuan kita utk memikirkannya dan merasakannya..itu wangkit rasa lan pamikir...yg suka jail membahas itu kan kaum sufi...kaum spiritual,yg sptnya hendak menujukkan bahwa cinta kepada Tuhan...padahal cinta kepada Tuhan itu dan dicintai Tuhan itu,mencintai segala sesuatu yg ada...bagaimana mungkin manusia itu mampu,jikalau tidak krn anugeraha dan kurnia semata????.Jadi kalo aku bilang itu masih luapan rasa sesaat yg belum pasti manter serta menentu ,krn jikalau bener sudah sampai...mesti spt Eyang...malah biasa biasa aja, ga keliatan,ga ketara dan mesti tersamar (samar...Asmara) sehingga kita pun anak anaknya belum tentu menduga bahwa beliau adalah pengejawentahan drpd sifat KASIH itu sendiri........Bukan kasih menurut gagasan dan praduga nafsu spiritual manusia,tetapi Kasih dlm arti yah Kasih...

jadi paling kita mah bisa,boleh dan skdr pantas utk membahas mengenai cinta manusiawi,dan itu juga ga selalu berpangkal dr daya hidup jasmani yg digerakkan oleh nafsu jetmika,krn kalo begitu itu,wah sudah luar biasa,cinta yg berpangkal dr hidup jasmani itu...dimana manusia itu sudah merasa satu dgn manusia lainnya...jikalaupun merasa sayang kepada seorang perempuan,itu sayang secara utuh,seutuh sifat kemanusiaannya...jadi ga selalu...jarang,sajuto siji ombyokan itu...krn menurut Eyang pun,Wali di tingkatan Jasmani,itu ga banyak..ga spt yg kita duga....jadi ukuran Subud belum tentu sama dgn ukuran spiritual lainnya...

Salam Persaudaraan